bc

Rujuk : Dokter Bedah Dingin, Mantan Suamiku

book_age18+
30
IKUTI
1K
BACA
HE
escape while being pregnant
opposites attract
second chance
kickass heroine
doctor
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
brilliant
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Dua mantan. Satu meja operasi. Rahasia besar yang terkunci rapat.

Keputusan Nareswari Kalanya Swastika kembali bekerja sebagai perawat demi masa depan putra kecilnya, Andra, justru membawanya kembali ke kehidupan dr. Bhaskara Nalendra Danudirdja, Sp.BTKV. Mantan suaminya yang kini menjadi dokter bedah dingin dan kaku itu masih menyimpan dendam lama, memperlakukan Kalanya tak lebih dari sekadar bawahan di tempat kerja.

Namun, ketegangan di antara mereka perlahan goyah ketika sebuah pertemuan tak terduga menyingkap rahasia yang disimpan Kalanya selama empat tahun. Sosok bocah laki-laki kecil hadir membawa sepasang mata dan kebiasaan yang sangat dikenal oleh dr. Bhaskara Nalendra Danudirdja, Sp.BTKV.

Di antara intrik tempat kerja dan kepolosan seorang anak, dua orang yang sama-sama terluka ini dipaksa berhadapan dengan masa lalu. Mampukah mereka meruntuhkan gengsi untuk menyembuhkan luka, ataukah kesempatan kedua hanya akan jadi impian belaka?

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
“You're choosing to walk away, Kalanya? Just like that?” Suara berat itu menghentikan gerakan tangan Kalanya di atas tumpukan pakaian. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di ambang pintu kamar. Postur jangkung dengan balutan seragam operasi hijau yang masih kusut itu terlalu tegap untuk diabaikan. “Koper kamu cuma satu,” lanjut Bhaska. Suaranya terdengar datar, tetapi nada dinginnya justru makin mempertegas jarak yang terbentang di antara mereka. Kalanya memilih mengabaikan kalimat itu. Tangannya kembali sibuk merapikan gaun terakhir, memasukkannya ke dalam koper besar yang terbuka lebar di atas tempat tidur. Di luar, hujan deras menghantam kaca jendela tanpa ampun, menciptakan irama bising yang gagal mencairkan kesunyian kaku di kamar utama mereka. “Masih belum mau bicara?” Bhaska melangkah masuk. Derap langkah kaki telanjangnya di atas lantai parket terdengar begitu tenang, sangat berlawanan dengan tatapan matanya yang tajam dan pekat oleh rasa kecewa. “Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mas,” sahut Kalanya pelan. Matanya sekilas melirik ke arah meja rias. Di sana, di bawah sorot pendar lampu temaram, sebuah cincin emas putih melingkar bisu. Kalanya tidak menyentuhnya sama sekali. Bhaska menghentikan langkah persis di samping tempat tidur. Matanya mengikut alur pandangan Kalanya, menatap lingkaran logam yang kini tak lagi melingkari jari manis istrinya. “Cuma karena omongan Ibu tadi siang?” tanya Bhaska. Ujung suaranya meninggi tipis, menyinting luka yang coba Kalanya tutupi sejak beberapa jam lalu. “Kamu tahu sifat Ibu seperti apa, Kal. Kenapa harus semarah ini?” “Ini bukan cuma soal tadi siang, Mas,” potong Kalanya. Punggungnya yang tegap mendadak kaku. Ia menatap ke dalam koper, menolak berhadapan langsung dengan mata tajam suaminya. “Ini soal lima ratus hari belakangan. Soal bagaimana aku selalu merasa sendirian di rumah ini.” “Aku kerja, Kalanya. Aku di ruang operasi belasan jam sehari untuk masa depan kita,” balas Bhaska cepat. Defensif. “Bukan soal jam kerja kamu!” Suara Kalanya akhirnya meninggi, meloloskan retakan emosi yang ditahannya sejak awal. Ia menengadah, memberanikan diri menatap wajah tampan yang kini tampak begitu asing baginya. “Ini soal kamu yang selalu diam setiap kali Ibu merendahkan aku. Ini soal kamu yang selalu minta aku memaklumi, seolah-olah rasa sakit aku nggak pernah valid.” Bhaska menatapnya tanpa berkedip. Rahangnya mengeras. “Ibu cuma mau yang terbaik buat keluarga ini. Kamu tahu latar belakang kita beda, dan aku selalu berusaha jadi penengah.” “Penengah?” Kalanya terkekeh sumbang. “Kamu nggak pernah jadi penengah, Mas. Kamu cuma berdiri di samping Ibu dan minta aku diam. Aku capek jadi orang asing di rumah ini, Mas. Kamu sibuk dengan ekspektasi ibu kamu, dan aku tenggelam sendirian.” “Aku selalu bela kamu di depan Ibu, Kal. Apa itu belum cukup?” cecar Bhaska dengan nada tertahan. “Bela yang mana, Mas?” Kalanya menatap lurus ke dalam manik mata Bhaska. “Waktu Ibu bilang latar belakang keluargaku nggak sepadan untuk keluarga Danudirdja, kamu cuma suruh aku sabar. Waktu Ibu minta aku lepas pekerjaan keperawatanku karena dianggap nggak bergengsi, kamu cuma minta aku ngalah. That's not standing up for me, Bhaska. That's abandoning me.” Bhaska menatap istrinya dengan sorot mata yang tak tertebak. “Aku cuma berusaha menjaga kedamaian di rumah ini, Kal. Kamu pikir gampang berada di posisi aku?” “Aku nggak pernah minta kamu memilih antara aku dan Ibu, Mas. Aku cuma mau kamu berdiri di sampingku sebagai suami,” bisik Kalanya. Suaranya melemah, kehabisan daya. “Tapi kamu selalu pilih aman. Dan aku nggak sanggup lagi hidup dalam bayang-bayang ekspektasi keluarga kamu.” Kalanya menarik napas panjang, mencoba menguasai suaranya yang mulai bergetar. Ia membungkuk untuk menutup zipper koper. Sebelum tautan logam itu tertutup rapat, pergelangan tangannya ditahan. Cengkeraman Bhaska di tangannya terasa hangat, terkontrol, tetapi menyimpan dorongan keputusasaan yang tertahan. “Jangan kekanak-kanakan,” bisik Bhaska. Matanya mengunci pandangan Kalanya. “Kita bisa selesaikan ini besok. Kamu lagi emosi. Lepasin kopernya.” Kalanya menatap jemari Bhaska yang melingkari tangannya. Dahulu, sentuhan pria ini adalah tempat paling aman di dunia baginya. Sekarang, rasa hangat itu justru terasa mencekik. “Lepasin, Mas,” ujar Kalanya datar. “Kalanya, please.” “Aku bilang lepasin.” Kalanya menarik tangannya secara perlahan namun sangat tegas. “Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu malam ini, Kal, jangan pernah berpikir buat kembali lagi,” ancam Bhaska. Suaranya rendah, nyaris terbias bersama deburan hujan di luar. Kalanya menatap wajah suaminya untuk terakhir kali. Tidak ada amarah di matanya, hanya kelelahan yang luar biasa. “Aku memang nggak berniat untuk kembali, Mas.” Cengkeraman Bhaska terlepas penuh. Pria itu tidak mencoba menahannya lagi. Tangan kirinya terkepal erat di samping tubuh, sementara matanya terus mengawasi Kalanya yang menyelesaikan zipper kopernya dengan gerakan cermat. Kalanya menata letak tas tangannya, lalu menegakkan punggung. Ia menarik gagang koper hingga berbunyi klik tajam. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tanpa menatap kembali pria yang telah membagi hidup bersamanya selama dua tahun terakhir, Kalanya melangkah melewati Bhaska. Pria itu tetap bergeming di tempatnya berdiri. Ia tidak mengejar, tidak juga memanggil namanya lagi. Hanya keheningan panjang yang menyambut langkah Kalanya hingga pintu depan tertutup dengan bunyi berdentam halus yang menggema di seluruh ruangan kosong. Sepuluh menit kemudian, Kalanya sudah duduk di balik jendela taksi yang melaju perlahan membelah genangan air di jalanan Jakarta. Hujan deras luar biasa masih menghantam kaca mobil, membiaskan cahaya merah lampu rem kendaraan di depannya menjadi kilatan warna yang samar. “Mau ke bandara kan, Mbak?” tanya pengemudi taksi memecah kesunyian. “Iya, Pak. Terminal tiga internasional,” jawab Kalanya singkat. Interior taksi terasa dingin dan tenang, kontras dengan gemuruh di d**a Kalanya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merogoh bagian dalam tas tangannya. Jarinya menyentuh lipatan kertas tebal yang berada tepat di balik paspor dan tiket pesawat satu arah menuju Frankfurt. Kalanya mengeluarkan lembaran kertas hasil laboratorium itu. Di bawah penerangan lampu jalan yang remang-remang, ia meraba permukaan perutnya sendiri melalui kain sweter tipis yang dikenakannya. Perutnya masih terasa sangat rata, belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang mulai tumbuh di dalam sana. Teks di lembar laboratorium itu terbayang jelas di benaknya, HCG Serum Positive. Ia menutup matanya rapat-rapat. Satu usapan halus mendarat di perutnya, membawa kepastian baru yang menggeser seluruh keraguan yang tersisa. Kalanya kembali menatap keluar jendela, menyaksikan gemerlap lampu kota Jakarta yang perlahan mengabur dan menghilang di balik sapuan wiper kaca mobil. Biarlah rahasia kecil ini terkunci rapat, dibawa pergi jauh bersama langkahnya yang tidak akan pernah kembali.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Serpihan Hati Yang Utuh

read
2.4K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.3K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.6K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
168.1K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
6.0K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook