Scent of Petrichor 14a

1148 Kata
Rocky terus mengamati wajah Ivy yang berada di pangkuannya. Setelah cukup lama, dipanggilnya gadis itu. "Ivy …." Tidak ada jawaban. Bahkan ketika jemari Rocky membelai wajahnya, Ivy sama sekali tidak bereaksi. "Apa kau tidur?" Kini Rocky mencoba menepuk pelan pipi Ivy, namun kali ini pun tetap tidak ada reaksi. "Hah …, kau ini benar-benar!" Tiba-tiba Rocky terkekeh geli. "Bisa-bisanya kau tidur begitu saja saat aku sedang bicara." Baru saja Rocky berniat menggendong Ivy dan membawanya ke mobil, tiba-tiba Javier dan Aaron mendatangi meja mereka. "Ada apa dengannya?" tanya Aaron heran. Melihat Ivy tertidur di pangkuan Rocky jelas merupakan pemandangan yang langka. "Mungkin tidur, atau pingsan. Entahlah," jawab Rocky sama bingungnya. Aaron membungkukkan badan agar dapat melihat wajah Ivy dengan lebih jelas, lalu dengan jail dijawilnya pipi gadis itu. Ketika terbukti Ivy sama sekali tidak beraksi, Aaron tersenyum geli. "Dia mabuk?" Rocky mengangguk sambil tersenyum juga. "Parah." Sebagai orang yang menyuguhkan minuman untuk mereka, Javier langsung merasa kebingungan. “Bukankah dia hanya minum tiga gelas?” "Empat. Dengan punyaku," ralat Rocky cepat. "Tetap saja!" dengkus Aaron geli. "Bagaimana ia bisa sampai separah ini hanya karena empat gelas saja? Kukira dia hebat." Rocky mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng geli. “Ini pertama kalinya dia meminum alkohol.” "Serius?!" ujar Aaron terkejut. "Kukira dia sudah biasa." "Kukira juga begitu." Javier mengangguk setuju.  "Karena itu aku memberi racikan yang cukup keras." "Dia sendiri yang mengatakannya tadi. Katanya rasa alkohol ternyata tidak enak. Perkataan yang diucapkan dalam keadaan mabuk biasanya tidak mungkin bohong, bukan?" Rocky menatap kedua sahabatnya untuk meminta konfirmasi. Javier langsung mengangguk. "Kau benar." “Pantas saja.” Aaron terkekeh geli. Rocky kembali bersiap menggendong Ivy dan membawanya berdiri. “Aku akan membawanya pulang.” "Ke kediamanmu?" tanya Aaron penasaran. "Tentu saja! Memangnya ke mana lagi?" sahut Rocky gemas. Terkadang kecerdasan otak Aaron terasa sia-sia karena pria itu kerap menanyakan pertanyaan menjengkelkan. "Siapa tahu kau ingin menidurkannya saja di sini," usul Aaron sekenanya. "Tidak, tidak!" tolak Rocky tegas. "Dia harus pulang." “Perlu aku temani?” tawar Aaron. “Tidak usah.” “Kau akan kembali lagi nanti?” tanya Javier. Rocky menggeleng tanpa ragu. “Aku akan menemaninya sampai pagi.” Kedua sahabatnya memandangi punggung Rocky yang menjauh dengan tanda tanya besar. "Apa kau tidak merasa ada yang mencurigakan?" gumam Aaron setelah Rocky menghilang. "Maksudmu?" "Dari apa yang terlihat, bukankah sepertinya Rocky masih menyayangi gadis itu?" "Kalau dia sudah tidak, aku malah heran," sahut Javier tenang. *** Ivy menggeliatkan tubuh tepat ketika Rocky membaringkan gadis itu di tempat tidurnya. Ia menatap sekeliling sambil berusaha mengenali tempatnya berada saat ini. Ketika melihat ada Rocky yang tengah berdiri setengah membungkuk di sisinya, gadis itu langsung bertanya, “ini di mana?” “Kamarmu.” “Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Ivy tidak suka. “Lalu aku harus membawamu ke mana kalau bukan ke sini?” “Aku masih ingin minum." Ivy tiba-tiba merengek dan menyambar tangan Rocky kemudian mengguncangnya kuat-kuat. Dalam hatinya Rocky bersungut. Kenapa juga Ivy harus terbangun sekarang? Kenapa tidak tidur saja seperti yang gadis itu lakukan sejak tadi? Namun ia berusaha menghadapi kerewelan Ivy dengan sabar. Ditepuknya tangan Ivy, kemudian mengembalikan ke sisi tubuh gadis itu,  lalu menyelimutinya. “Tidurlah!”  Begitu Rocky kembali menegakkan tubuh dan berniat meninggalkan kamar Ivy, gadis itu meraih tangannya lalu berpegangan kuat-kuat sambil berusaha untuk duduk. “Rocky, aku mual,” keluh Ivy setelah berhasil duduk. “Hah?” Seketika Rocky merasa panik. Firasatnya buruk. “Aku ingin .…” Belum sempat Ivy menyelesaikan perkataannya, gadis itu langsung menyemburkan isi perutnya keluar. Dan semua itu mengenai Rocky yang tepat berada di hadapannya. “Argh!” erang Rocky frustasi. Ia benar-benar tidak memprediksi hal semacam ini, dan Rocky pun terlambat mengenali gelagat gadis itu. “Maaf,” ujar Ivy menyesal ketika melihat baju Rocky yang kotor. Cepat-cepat ia berusaha bangkit dari tempat tidur meski jelas terlihat kesulitan. “Kau mau ke mana?” cegah Rocky. Ivy menunduk dan menunjuk pakaiannya sendiri yang terkena cipratan isi perutnya. “Mengganti baju.” Rocky menatap sangsi pada Ivy yang berniat berjalan menuju lemari pakaiannya sendiri. Benar saja dugaannya, tidak sampai tiga langkah tubuh Ivy sudah limbung. “Awas!” Rocky dengan sigap menangkap tubuh Ivy sebelum gadis itu jatuh. Cepat-cepat dibawanya Ivy kembali ke tempat tidur dan mendudukkannya di sana. “Tunggulah di sini! Aku akan ambilkan pakaian ganti untukmu.” Rocky menghampiri lemari pakaian Ivy dan mencarikan pakaian ganti untuk gadis itu. Setelahnya ia menuju kamar mandi untuk mengambil air hangat bagi Ivy. Ketika melihat pantulan dirinya di cermin, Rocky mengerang pasrah. Cepat-cepat ia membuka atasan yang dikenakannya dan membersihkan diri. “Kenapa lama sekali?” Ivy bertanya dengan wajah cemberut ketika Rocky akhirnya kembali ke tempat tidur. “Aku menyiapkan handuk hangat dulu untukmu.”  Ivy memicingkan mata kemudian menepuk d**a Rocky. “Kenapa kau tidak memakai baju?” “Bajuku terlihat menjijikan,” sahut Rocky dongkol. Tidakkah gadis ini sadar karena ulah siapa ia sampai bertelanjang d**a malam-malam begini? “Bajumu kotor?” tanya Ivy polos. “Semuanya tumpah ke atas bajuku,” desis Rocky jengkel sambil menyodorkan pakaian ganti juga handuk hangat untuk Ivy membasuh tubuh. “Maaf,” gumam Ivy pelan. Kemudian, bukannya mengambil pakaian yang Rocky sodorkan, gadis itu malah mengangkat kedua tangan ke atas dan menahannya dalam posisi itu. Rocky mengernyit heran. “Apa yang kau lakukan?” “Mengangkat tangan.” Rocky semakin bingung saja dibuatnya. “Untuk?” “Agar kau mudah membukakan bajuku,” jawab gadis itu tanpa beban sama sekali. “Kenapa aku?!” seru Rocky terkejut. “Aku tidak bisa melakukannya sendiri.” “Kau harus mengganti pakaianmu sendiri, Ivy!” tegur Rocky tegas. “Memangnya kenapa? Dulu kau biasa melakukannya untukku,” ujar Ivy sedih, dan perlahan matanya mulai berkaca-kaca. Melihat air mata yang siap mengancam turun, sikap Rocky melunak seketika. “Sekarang berbeda.” “Kenapa? Karena sekarang kau membenciku?” “Bukan begitu.” Rocky menggeleng panik karena sekarang Ivy sudah benar-benar menangis. “Lalu apa?” tanya Ivy dengan nada menuntut. “Kau sudah dewasa, Ivy. Kau tidak bisa sembarangan meminta laki-laki menggantikan pakaianmu.” “Aku tidak sembarangan. Aku hanya meminta padamu,” bantahnya keras kepala. Rocky mengembuskan napas kuat-kuat dan tertunduk lesu. “Tetap saja aku tidak bisa.” “Kumohon,” rengek Ivy. “Astaga,” desah Rocky putus asa. Situasi ini benar-benar membuatnya gila! Namun akhirnya ia menuruti juga permintaan Ivy.  Rocky membukakan pakaian Ivy kemudian duduk di sisi gadis itu. Rocky harus berjuang mengatasi gejolak dalam dirinya ketika melihat tubuh bagian atas Ivy, belum lagi ketika ia membasuh tubuh gadis itu dengan handuk hangat. Sekuat tenaga Rocky berjuang untuk tidak melihat apa yang terpampang jelas di hadapannya. Terakhir kalinya ia melihat tubuh gadis ini dalam keadaan polos, mungkin itu sudah hampir 15 tahun yang lalu. Tubuh yang dulu kurus dan datar itu, kini berganti menjadi tubuh seorang wanita dewasa yang indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN