Scent of Petrichor 13b

1607 Kata
"Jadi begini bagaimana?" tanya Ivy sambil tersenyum kecil. Rocky balas tersenyum. Jenis senyum yang terlihat sendu. Lalu tanpa dapat dikendalikan, sebelah tangan Rocky naik ke wajah Ivy dan membelainya. "Dulu kau itu sangat manis." Meski dalam keadaan mabuk, Ivy masih bisa mengingat kenangan menyakitkan itu dengan baik. Perlahan ia menjawab getir, "anak manis itu sudah lama mati." "Tapi kenapa? Aku selalu ingin tahu apa yang menyebabkanmu berubah sedemikian drastis?" Rocky tidak peduli jika Ivy akan marah. Ia sudah terlanjur bertanya dan Rocky berharap bisa mendapatkan jawabannya. “Kau benar-benar ingin tahu?” Suara Ivy terdengar aneh ketika menanyakan hal ini. “Hm.” Rocky mengangguk yakin. "Ini semua karena kau," ujar Ivy getir. Nada bicaranya sarat akan kekecewaan. "Aku?" Rocky mendelik tidak percaya. Bagaimana bisa ini karena dirinya? Memangnya apa yang sudah ia lakukan pada Ivy? "Hm.” Ivy mengangguk kecil. Ia yang sejak tadi berusaha menghindari tatapan Rocky, kini balas menatap pria itu. Matanya terlihat begitu sedih. “Kaulah penyebab semua ini." "Tapi apa salahku? Apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Rocky bingung. "Kau membuangku,” ujar Ivy tercekat. “Ini semua karena kau dengan tega membuangku, saat aku begitu berharap padamu." "Apa maksudmu?" Rocky semakin tidak paham dengan jawaban-jawaban yang Ivy berikan.  "Kau ingat apa yang terjadi padaku setelah Mom meninggal?" tanya Ivy lirih. “Hm.” Mana mungkin Rocky lupa? Semua tentang Ivy, ia mengingatnya dengan baik. Setiap momen yang mereka lewati bersama begitu berkesan. “Kau ingat saat aku tinggal bersama Aunty Jane?” Benak Rocky mulai dipenuhi tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Ivy saat berada di rumah Jane ketika itu? “Apa dia melakukan hal yang buruk padamu?” Ivy mendengkus geli. “Dia memang tidak pernah baik padaku.” “Apa itu yang membuatmu berubah?” tanya Rocky takut. Apakah ternyata ia telah lalai menjaga Ivy? Padahal gadis itu hanya sempat tinggal bersama bibinya selama dua bulan saja. Di sanakah akar masalahnya? Namun jawaban tegas Ivy mematahkan dugaan Rocky. “Bukan.” “Lalu?" "Itulah kali pertama aku tahu bahwa aku bukan adikmu. Dan kau dengan teganya membiarkan aku dibawa oleh Aunty Jane." Sampai kapan pun, Ivy tidak akan pernah melupakan hari yang mengubah hidupnya itu. Hari ketika ia mengetahui bahwa kakak yang begitu ia kagumi dan sayangi nyatanya tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya. Hari itu juga Ivy tahu, bahwa ayah yang begitu ia cintai dan selalu dirindukannya, hanyalah sosok orang asing yang menikahi ibunya. >>> "Anda siapa?" tanya Rocky waspada ketika membukakan pintu untuk seorang tamu siang itu.  "Aku Jane. Adik kandung Kelly." Ah! Rocky ingat. Pantas saja rasanya tidak asing. Ia memang melihat wanita ini di pemakaman Kelly dua minggu lalu. Ia juga tahu seperti apa hubungan Kelly dengan Jane. "Ada apa datang kemari?" tanya Rocky berusaha terdengar sopan, karena jika mengingat cerita Kelly tentang adiknya ini, ia ingin marah. "Aku ingin bertemu Ivy." "Ivy sepertinya sedang tidur." Sebenarnya sudah berhari-hari Ivy seperti ini. Ia mogok makan, mogok sekolah, mogok melakukan apa-apa. Satu-satunya yang Ivy lakukan hanya meringkuk di tempat tidur dan menangis. "Kebetulan kalau begitu. Ada yang perlu aku bicarakan dulu denganmu," sambut Jane senang. "Duduklah!" Rocky menunjuk kursi di teras dan ia ikut duduk di sana. Entah mengapa ia tidak ingin mengajak wanita ini masuk. "Apa yang ingin Anda bicarakan?" "Aku berniat membawa Ivy untuk tinggal bersamaku." Rocky serasa tersambar petir mendengarnya. "Kenapa tiba-tiba?" "Apa perlu ditanyakan?” balas Jane sinis. “Jelas karena ibunya sudah meninggal. Aku sebagai satu-satunya keluarga yang Ivy miliki, jelas harus berinisiatif mengajaknya tinggal bersamaku." "Kenapa baru sekarang?" tanya Rocky dingin. "Maksudmu?” “Kenapa baru sekarang Anda datang dan menunjukkan kepedulian pada Ivy? Ke mana Anda ketika kakak Anda sangat membutuhkan bantuan?” Saat mereka mengalami krisis yang sedemikian mencekik, entah sudah berapa kali Kelly menghubungi Jane, dan wanita itu menanggapi permohonan kakaknya dengan dingin. Lagi pula, jika memang ia sangat peduli pada Ivy, kenapa baru muncul setelah dua minggu berlalu? “Oke, aku memang salah karena sudah mengabaikan mereka. Keadaanku pun sulit,” jawab Jane santai. “Tapi sekarang aku tidak bisa tidak peduli. Ivy tidak memiliki siapa-siapa lagi.” “Ivy masih memiliki aku,” jawab Rocky tegas. Seketika Jane tersenyum sinis. “Kau bukan keluarganya.” “Aku kakaknya.” Jane menggeleng geli. “Kalian tidak memiliki hubungan darah sama sekali.” “Aku yang selama ini menjaganya, dan aku akan terus menjaganya,” ujar Rocky penuh tekad. “Tapi kau tidak memiliki hak asuh atas Ivy.” “Kenapa tidak bisa? Aku sudah dewasa. Usiaku sudah 21 tahun.” Jika selama ini saja ia bisa, mengapa ke depannya tidak bisa? Ia yakin akan mampu melakukannya. Tidak ada orang lain yang lebih menyayangi Ivy dibandingkan dirinya. “Apa yang bisa jadi jaminan kalau kau mampu mengasuh seorang anak?” tanya Jane meremehkan. Seketika Rocky teringat dengan pekerjaannya. Mungkin itu akan jadi kartu mati jika Jane sampai memperkarakan masalah hak asuh. Jane tersenyum senang, merasa telah menang atas Rocky. “Serahkan saja Ivy padaku. Aku jauh lebih mampu merawatnya daripada kau.” “Tanyakan saja pendapat Ivy, apakah dia mau ikut bersamamu atau tetap tinggal denganku.” Akhirnya hanya itu yang dapat Rocky katakan, sambil berharap dalam hati jika Ivy akan memilihnya. <<< “Tapi kau yang memilih untuk ikut dengannya. Aku tidak pernah menyuruhmu pergi,” ujar Rocky bingung. Mengapa gadis ini mengatakan Rocky membuangnya, padahal yang terjadi malah ia yang merasa Ivy membuangnya. Meninggalkannya. “Aku memang memilih ikut dengannya agar dia tidak menyulitkanmu. Tapi kau bilang akan rajin menjengukku. Kau akan datang sesering mungkin. Nyatanya kau tidak datang-datang.” Tiba-tiba saja mata Ivy berkaca-kaca ketika mengungkapkan kekecewaan yang selama ini ia pendam. Jika mengingat hari-hari sepi yang ia lalui di rumah Jane, Ivy selalu ingin menangis. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya ketika ia duduk di teras setiap sore, berharap akan melihat sosok Rocky datang, menjemputnya, lalu mengajaknya pulang. Namun kenyataannya, sang kakak bahkan tidak pernah datang menjenguk. Tidak satu kali pun. “Tapi …,” ujar Rocky ragu. “Tapi apa?” “Saat itu bibimu mengatakan kau bahagia tinggal bersamanya dan memintaku untuk jangan terus datang untuk mengganggumu.” Ivy tersentak. Benarkah bibinya melakukan itu? “Kukira kau benar-benar bahagia tinggal bersamanya. Apalagi ketika kulihat kau memang banyak tertawa.” “Bagaimana kau tahu aku banyak tertawa?” tanya Ivy heran. Selama dua bulan ia hidup di rumah Jane, Ivy benar-benar kehilangan kontak dengan Rocky. “Hampir setiap hari aku datang dan melihatmu.” Mana mungkin ia bisa meninggalkan Ivy sendirian? Meski Jane melarangnya datang dan selalu mengusirnya, Rocky tetap kembali. Hanya melihat Ivy dari jauh pun, itu sudah cukup bagi Rocky. Ia tidak tahu jika saat itu Ivy begitu menantikan kedatangannya. “Aku tidak berani mendekatimu, karena aku takut ketika melihatku kau hanya teringat kenangan menyakitkan saat kita tinggal bersama. Itu juga yang Jane katakan.” “Jadi kalau aku tidak nekat melarikan diri, mungkin sampai hari ini aku masih akan terus tinggal bersamanya?” Rocky mengangguk membenarkan. “Apa yang membuatmu sampai melarikan diri?” Meski sedih membayangkan Ivy yang saat itu baru berusia sebelas tahun berjalan kaki sepanjang malam dari rumah Jane sampai ke rumah mereka, Rocky tetap mensyukuri keberanian adiknya kala itu. “Sudah kukatakan aku lebih suka tinggal bersamamu.” “Apakah tidak ada alasan lain?” Rocky tahu adiknya keras kepala, namun ia merasa ada alasan lain yang belum Ivy ceritakan. “Aku benci Aunty Jane,” bisik Ivy dengan suara menahan marah. “Apa alasannya?” “Dia selalu mengatakan hal-hal buruk tentang Mom, kau, dan juga Dad. Aku tidak tahan mendengarnya terus-menerus." "Ternyata begitu." "Ah! Apa kau tahu kalau Aunty Jane itu licik?" "Licik bagaimana?" "Beberapa tahun lalu aku akhirnya mengetahui alasan mengapa dia ingin mengurusku. Dia yang sebelumnya tidak pernah peduli padaku, tiba-tiba ingin mengurusku. Bukankah aneh?" "Hm."  "Ternyata dia melakukan itu dengan harapan dapat mengambil uang asuransi Mom yang diwariskan padaku." “Bagaimana kau tahu?” tanya Rocky terkejut.  “Bagaimana aku bisa tahu, itu tidak penting.” Ivy menjawab sambil mengamati wajah Rocky dan menyadari bahwa pria itu tidak terlihat terkejut. “Apa kau juga sudah tahu tentang hal itu?" "Hm." Bagaimana mungkin Rocky tidak tahu? Ia tidak bodoh. Selama ini ia hanya sengaja bungkam agar Ivy tidak perlu tahu. Sejak awal Jane datang dengan tiba-tiba, Rocky sudah menaruh curiga, dan ia meminta bantuan Eldo untuk mencari tahu motif wanita itu. "Kenapa kau tidak mencegahnya?" tanya Ivy kecewa. "Aku tidak ingin dianggap berniat menguasai uang asuransi Mom juga." "Tapi akhirnya kau tetap menerimaku kembali ke rumah dan merawatku." Tidak lama setelah Ivy kembali tinggal bersama Rocky, uang asuransi Kelly yang diwariskan untuk putrinya memang dicairkan dan dikelola oleh Rocky demi kepentingan sang adik.  "Karena aku memang tidak pernah ingin menyerahkanmu pada Jane. Aku hanya membebaskanmu untuk memilih." "Jadi maksudmu …, selama ini aku salah paham padamu?" "Kalau kau berpikir aku tidak menyayangimu dan aku membuangmu, jelas itu salah." "Begitu rupanya." Ivy menganggukkan kepalanya berulang-ulang lalu tiba-tiba tersenyum manis. "Kau tahu …, rasanya lega sekali mendengarmu berkata seperti itu." "Kau harus tahu, Ivy. Ketika dulu kau meninggalkan Jane dan memilih tinggal denganku ….” Perkataan Rocky terhenti karena tiba-tiba saja tubuh Ivy terkulai ke atas pangkuannya. Entah gadis itu tertidur atau pingsan, yang pasti Ivy sudah benar-benar mabuk. Karena jika ia tidak mabuk, tidak mungkin gadis itu akan bersedia mengungkapkan semua tanya yang selama ini Rocky pendam. Melihat Ivy terlelap di pangkuannya, Rocky tersenyum samar. Tangannya bergerak memperbaiki posisi Ivy, merapikan rambut gadis itu yang berantakan, kemudian membelai pipinya yang hangat. Meski Ivy sudah tidak bisa mendengarnya, Rocky tetap melanjutkan kata-katanya yang tadi menggantung. "Ketika kau kembali tinggal bersamaku …, aku sangat bahagia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN