Scent of Petrichor 13a

1203 Kata
Tanpa ada orang lain bersama mereka, suasana di antara Rocky dan Ivy terasa sangat canggung. Mungkin kecanggungan itulah yang membuat Ivy terus menyesap minuman di gelas meski ia tidak menyukai rasanya yang kuat. Namun tidak halnya dengan Rocky. Seteguk pun ia belum menyentuh minumannya sejak tadi. Ivy melirik gelas Rocky dan ia yakin isinya masih sebanyak saat pertama Javier membawakannya tadi. "Kau tidak minum?" Rocky ikut melirik gelasnya, kemudian melihat juga ke gelas Ivy yang sudah kosong. “Tidak.” "Kenapa? Kau tidak bisa minum?" tanya Ivy penasaran. "Bukan tidak bisa. Hanya tidak ingin," ralat Rocky.  "Kenapa?" Jawaban singkat Rocky belum memuaskan keingintahuan Ivy. "Aku tidak suka." "Kau tidak suka rasanya?" "Aku tidak suka efeknya." "Mabuk maksudmu?" Sebelum Rocky menjawab, diam-diam ia mengamati wajah Ivy dengan tatapan heran. Mengapa tiba-tiba gadis ini jadi banyak bertanya? Lalu samar-samar ia menangkap rona merah muda di kedua belah pipi gadis itu. Jika dugaannya tidak salah, sepertinya itu akibat pengaruh alkohol.  "Begitulah," jawab Rocky sambil tersenyum samar. Lihat saja betapa cepatnya alkohol itu bekerja pada Ivy! Ivy memicingkan mata curiga. Ia menemukan ketidaksesuaian antara jawaban Rocky dengan kenyataan yang ada. Pria ini mengatakan ia tidak suka alkohol karena dampaknya, namun Ivy jelas ingat kalau semalam Rocky baru saja mabuk. "Tapi kemarin malam bukankah kau minum, bahkan sampai …, mabuk." Rocky menggaruk pelipisnya sambil meringis. Ivy memang sangat jeli dan sulit dibohongi. Terpaksa Rocky mengatakan jawaban yang sesungguhnya meski sebenarnya ia merasa sedikit gengsi. "Aku hanya minum sampai mabuk jika otakku benar-benar kusut dan penat. Seumur hidupku, aku hanya pernah mabuk dua kali." "Sungguh?" Mata Ivy terbelalak seketika.  "Hm." "Apa yang kemarin itu …, termasuk …, mabuk ...?" tanya Ivy hati-hati. "Ya." Rocky mengangguk sambil memalingkan wajah ke arah lain, agar Ivy tidak bisa melihat ekspresinya saat ini. Ia sangat malu karena Ivy melihatnya mabuk, dan Rocky hanya bisa berharap jika saat dalam kondisi tidak sadar itu, ia tidak melakukan hal-hal gila. Sayangnya, Rocky tidak bisa menanyakan hal itu pada Ivy. "Jadi …," gumam Ivy pelan. Meski otaknya mulai terasa berkabut, namun ia masih mampu berpikir. Jika Rocky mengatakan ia baru pernah mabuk dua kali, dan ia hanya mabuk jika merasa sangat tertekan, apakah artinya semalam pria itu sedang berada dalam kondisi buruk? Apakah itu karena dirinya? "Jadi apa?"  "Tidak. Lupakan!" Ivy menggeleng cepat-cepat. Ia tidak mungkin mengungkapkan dugaan memalukan itu. Rasanya agak berbahaya. Namun mulutnya yang mulai sulit dikontrol itu, malah dengan seenaknya mengajukan pertanyaan lain yang tidak kalah berbahaya. "Kalau begitu kapan pertama kau mabuk?" Rocky sempat ragu dalam hatinya. Haruskah ia menjawab? Namun akhirnya ia menyadari, untuk apa pula hal itu ditutupi. "Tujuh tahun yang lalu. Sekitar pertengahan tahun." Tiba-tiba Ivy merasa pening. Tujuh tahun yang lalu, pertengahan tahun. Bukankah itu hari pertengkaran besar mereka yang membuat semua menjadi berantakan? Apakah lagi-lagi dirinya yang jadi penyebab Rocky minum sampai mabuk? Tanpa dapat dicegahnya, Ivy merasa bersalah pada Rocky. Lalu tanpa berpikir, ia menyambar gelas Rocky dan menenggaknya langsung sampai habis. Ia berharap dalam hati agar mabuk saja sekalian dan besok saat terbangun tidak akan ingat apa-apa. "Wajahmu memerah," ujar Rocky ketika menyadari rona di pipi Ivy semakin parah. "Hm? Apa?" "Wajahmu memerah, Ivy." "Ah …! Kau mungkin salah lihat." Refleks Ivy menangkup pipinya sendiri. "Ini pasti karena pantulan cahaya." "Sepertinya kau mabuk," gumam Rocky pelan. "Aku? Mabuk? Kukira kau yang mabuk," balas Ivy sambil terkekeh pelan. Entah apa yang lucu, tapi tiba-tiba saja ia merasa sangat ingin tertawa. "Jelas-jelas aku tidak minum," gerutu Rocky. Ivy tidak memedulikan gerutuan Rocky, dengan santainya ia malah menyorongkan gelas yang sudah kosong ke arah pria itu. "Rocky, aku ingin lagi." Entah apa yang membuat Rocky menuruti saja keinginan Ivy dan membiarkan gadis itu minum sepuasnya sebanyak yang diinginkan. Setelah gelas keempat, barulah Rocky merasa ini sudah berlebihan. "Sudah cukup, Ivy. Kau sudah mulai kehilangan kontrol," larang Rocky tegas.  "Ayolah!” rengek Ivy tiba-tiba. “Aku tidak tahu kapan kau akan berbaik hati mengizinkanku datang ke sini lagi." "Ivy …." Untuk sesaat Rocky terkejut. Ia seolah menemukan kembali adik kecilnya yang manja. Ivy mengerucutkan bibirnya kemudian mengeluh. "Apa kau tahu? Ini pertama kalinya aku mencicip minuman beralkohol. Dan ternyata …, rasanya sama sekali tidak enak." “Tidak heran kau mabuk semudah ini,” gumam Rocky geli. "Kalau tidak enak kenapa kau ingin lagi?"  "Entahlah, mungkin karena ini membuatku merasa senang," jawab gadis itu sambil tertawa kencang. Tubuhnya mulai terlihat limbung dan hilang keseimbangan. Rocky menggeleng tidak percaya. Cepat-cepat ia berpindah ke sisi Ivy untuk menopang tubuh gadis itu. "Kau benar-benar sudah mabuk, Ivy." "Kau! Bukan aku! Aku tidak." Rocky mendengkus sebal. "Bagaimana aku akan mabuk? Minum saja aku tidak." "Gelasmu kosong!"  "Kau yang menenggaknya, Ivy!" sahut Rocky gemas. Bahkan gadis ini sudah tidak ingat apa yang dilakukannya tadi! "Benarkah?” tanya Ivy tidak percaya. “Aku tidak ingat. Kau pasti bohong." "Ternyata sadar atau mabuk kau sama-sama merepotkan." "Dan kau sama-sama cerewet." Ivy terkekeh geli. "Tapi terima kasih." "Untuk?" "Sudah mengajakku ke sini." Tanpa sadar Rocky tersenyum kecil. Terakhir kali ia mendengar gadis ini mengucapkan terima kasih rasanya sudah sangat lama sekali. "Jadi kau senang?" "Tentu." "Apa kau sangat menyukai kehidupan malam?" "Entah. Mungkin." Rocky menatap Ivy dengan pandangan sedih. "Apa kau tahu alasanku melarangmu?" "Entah. Mungkin kau senang saja mengatur-atur hidupku." "Aku bukan mengaturmu. Aku hanya ingin menjagamu.” "Menjaga?" "Aku tidak ingin kau-" "Ssh!” Ivy menaikkan tangannya dan membungkam mulut Rocky. “Sudah jangan lanjutkan. Tolong jangan jadi cerewet, setidaknya untuk malam ini saja." "Oke. Aku akan diam," sahut Rocky datar. Dalam hatinya ia mulai berpikir. Bagaimana ceritanya gadis yang sudah keluar masuk kelab malam sejak remaja tidak pernah mencicip alkohol? Sungguhkah ini kali pertama? Namun jika dipikir lagi baik-baik, kalau Ivy sudah terbiasa minum, bukankah tingkat toleransi tubuhnya terhadap alkohol seharusnya jauh lebih tinggi? "Kenapa menatapku terus?" Meski sudah mabuk dan kepalanya terasa berat, Ivy belum buta. Ia bisa melihat tatapan Rocky yang terus tertuju padanya.  "Tidak," elak Rocky cepat. Ivy memicingkan mata curiga. "Kau terlihat ingin mengatakan sesuatu." "Tidak ada," elak Rocky lagi. "Katakan saja. Aku yakin ada yang ingin kau ucapkan," desak gadis itu penasaran. Sesungguhnya memang ada hal yang sudah sejak lama sangat mengganjal hati Rocky. Sesuatu yang sangat ingin ia ketahui jawabannya, namun tidak berani ia tanyakan. Haruskah sekarang ia menanyakannya? Bagaimana jika itu akan memperburuk hubungan mereka. Tapi jika melihat kondisi Ivy yang seperti ini, kecil kemungkinan gadis itu akan mengingat semua. Akhirnya Rocky memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kau jadi begini?" Ivy balas memandangi Rocky lekat-lekat. Keduanya saling berpandangan cukup lama, sementara dari sudut yang lain, Javier dan Aaron diam-diam mengamati interaksi di antara Rocky dan Ivy. Sudah hampir dua jam mereka dibiarkan berdua, dan sejauh ini sepertinya situasi masih kondusif. "Apa menurutmu meninggalkan mereka berdua adalah ide yang bagus?" tanya Aaron sangsi.  "Entah. Tapi kurasa mereka perlu berbincang dalam kondisi rileks. Selama ini mereka selalu bersitegang," sahut Javier bijak. "Menurutmu, apakah mereka akan terus jadi seperti musuh?" gumam Aaron prihatin. Javier menggeleng kecil. "Aku juga tidak tahu, tapi kuharap tidak." "Sebenarnya apa yang mengubah gadis itu …? Dulu dia begitu manis dan menyenangkan. Sekarang …," gumam Aaron bingung sambil memandangi sosok Ivy dari jauh. Javier ikut memandangi sosok Ivy juga. "Pasti ada alasan kuat mengapa ia sampai berubah sedrastis ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN