Meski hatinya mendongkol parah karena Rocky terus menyeret dan memaksanya menuju mobil, Ivy tidak bisa mengalahkan tenaga pria itu. Ia terpaksa mengikuti langkah Rocky, begitu juga ketika akhirnya pria itu mendorongnya masuk ke mobil.
“Kau menyeretku seperti ini hanya untuk memaksaku pulang?" tanya Ivy sinis ketika mobil Rocky sudah melaju meninggalkan SHUT.
"Bukan," jawab pria itu singkat.
Ivy menoleh cepat dan memandang curiga. "Lalu?"
Rocky tidak menanggapi pertanyaan Ivy. Ia diam saja dengan pandangan tetap fokus ke depan.
“Jawab aku!” tuntut Ivy.
Rocky menoleh sepintas kemudian menjawab datar. Hari ini rasanya benar-benar melelahkan bagi Rocky, dan ia rasanya sudah sampai pada tahap putus asa menghadapi gadis keras kepala ini.
“Jawab atau aku akan melompat keluar!” ancam Ivy, dan ia benar-benar bersiap membuka pintu mobil.”
“Jangan macam-macam!” seru Rocky terkejut ketika Ivy sudah mengambil ancang-ancang. Disambarnya lengan gadis itu dan menariknya menjauh dari pintu mobil.
“Makanya cepat jawab!”
"Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat,” jawab Rocky akhirnya.
“Aku tidak mau ikut denganmu!” sahut Ivy ketus.
"Kau tidak bertanya dulu ke mana aku akan membawamu?"
“Memangnya ke mana?”
“Tempat yang pasti kau sukai.” Tanpa sadar Rocky tersenyum samar. Gadis itu dengan mudahnya termakan pancingan yang Rocky berikan.
Melihat Rocky tersenyum mengejek padanya, cepat-cepat Ivy kembali memasang wajah ketus dan tidak peduli. "Siapa bilang aku bersedia pergi denganmu?"
Rocky kembali tersenyum samar. "Kau yakin tidak akan menyesal?"
"Menyesal untuk apa?"
Rocky mengangkat bahunya santai. "Tidak menerima tawaran ajakanku."
Sikap Rocky benar-benar berhasil membuat Ivy penasaran. “Ke mana sebenarnya kau ingin membawaku?”
“Ikutlah dulu,” sahut pria itu berlagak misterius.
Ivy memicingkan mata dan terus memandangi Rocky dengan tatapan curiga.
Rocky yang menyadari jika gadis itu terus memandanginya, jadi merasa jengah juga. Ia mengangkat sebelah alisnya kemudian bertanya heran. “Apa kau takut aku akan berbuat jahat padamu?”
“Bukan begitu.” Meski Rocky memang menyebalkan, tapi Ivy yakin pria itu tidak pernah berniat mencelakainya.
“Kalau begitu kenapa ragu-ragu?”
Ivy mengedik cepat. “Entahlah.”
Namun setelah itu, Ivy tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya duduk diam dan memandang keluar jendela. Ketika mobil Rocky memasuki sebuah tempat yang terasa familiar, sontak Ivy kembali bertanya heran. “Kenapa mengajakku ke sini?”
"Ini tempat yang kau suka, bukan?" balas Rocky santai.
"Benar. Tempat yang sangat aku suka tapi tidak pernah bisa aku nikmati karena ulahmu," sindir Ivy pedas.
“Itulah sebabnya aku mengajakmu ke sini.” Mungkin rasa putus asa yang akhirnya membuat Rocky nekat membawa Ivy ke Riverside Point. Setelah belasan tahun berjuang menjauhkan gadis itu dari kehidupan malam dan nyatanya berujung tetap gagal, Rocky menyerah. “Jika kau sedemikian inginnya menikmati kehidupan malam, biar aku temani."
Bagi Rocky, Riverside Point adalah tempat teraman bagi Ivy jika gadis itu memang ingin mencicip kehidupan malam. Riverside Point adalah tempat berkelas dan yang pasti merupakan daerah kekuasaan mereka. Javier sendiri yang turun tangan mengelolanya, jadi semua bisa dipastikan akan aman.
Sejujurnya Ivy sangat terkejut, namun ia tidak ingin menunjukkannya. "Kenapa juga harus denganmu?"
"Karena aku bisa menjagamu tetap aman, tidak peduli kau mabuk sekali pun, selama bersamaku, tidak akan ada yang bisa melakukan hal buruk padamu."
***
"Wow! Apakah aku salah lihat?" gumam Aaron heran sambil bibirnya menyunggingkan senyum.
Javier yang sedang sibuk memeriksa laporan di laptopnya tidak segera menyadari maksud Aaron. "Ada apa?"
Aaron berdecak tidak sabar kemudian menunjuk ke arah pintu masuk. "Coba lihat di sana!"
Javier memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Dari posisinya duduk saat ini, jarak pintu masuk memang cukup jauh. "Rocky," gumam Javier datar.
"Lihat siapa yang datang bersamanya!" seru Aaron tidak sabar.
Javier kembali berusaha menajamkan matanya dan baru menyadari maksud Aaron. "Jangan mengatakan apa pun, Aaron. Biarkan mereka."
"Apa kau tidak penasaran?" goda Aaron jail.
Javier bukan tidak penasaran melihat Rocky yang sedemikian kuat memegang teguh prinsipnya, tiba-tiba muncul di sini dengan membawa Ivy. Namun raut wajah sahabatnya yang keras sudah menjadi pertanda keras bagi mereka untuk menutup mulut rapat-rapat malam ini. "Tidak perlu ditambahi dengan rasa penasaran kita pun hubungan mereka sudah terlalu keruh. Jadi biarkan saja mereka."
"Mereka mendekat," bisik Aaron geli. Berbeda dengan Javier yang serius, Aaron malah tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya.
Javier melotot tajam dan berbisik dengan suara rendah. "Bersikaplah biasa.”
"Hai, duduklah!" Aaron melambai ceria pada Rocky dan Ivy kemudian menepuk tempat yang kosong di sisinya.
"Hari ini sepi?" tanya Rocky berbasa-basi, padahal ia saja tidak benar-benar tahu seperti apa kondisi sehari-hari di sini.
"Banyak yang memakai ruangan VIP," jawab Javier.
Rocky mengangguk kecil lalu menoleh ke samping. "Kau ingin minum apa?"
"Eh?" Ditanya seperti itu Ivy sontak terkejut. Jangankan berpikir ingin minum apa, bisa masuk ke sebuah kelab malam dengan tenang saja Ivy tidak pernah membayangkannya.
"Kau tidak ingin minum?" tanya Rocky lagi.
Minum? Minum apa? Dia tidak tahu. Akhirnya Ivy menjawab asal. "Air mineral saja."
Refleks Aaron membuang mukanya ke samping dan menahan tawa, begitu juga dengan Javier.
Lain lagi dengan Rocky. Ia terbelalak dan bertanya tidak percaya. "Setelah perjuangan panjang dan akhirnya aku bersedia membawamu ke sini, kau hanya akan memesan air mineral? Yang benar saja, Ivy!"
Menyadari kebodohan jawabannya, Ivy jadi salah tingkah. "Kau yang melarangku minum-minum selama ini."
"Ada aku dan mereka yang menjagamu di sini. Kau bisa minum sesukamu," ujar Rocky serius.
"Kalau begitu apa saja," jawab Ivy akhirnya.
Rocky mengernyit bingung. Biasanya Ivy selalu bersikap percaya diri dan tidak pernah malu atau ragu saat ditanya. Ia jadi bingung dengan jawaban Ivy yang tidak jelas.
"Apa yang kau suka?" tanyanya lagi.
"Aku suka semua,” sahut Ivy cepat.
"Biar kubuatkan dulu." Javier cepat-cepat berinisiatif untuk mengakhiri tanya jawab menegangkan di antara keduanya. "Rocky, kau juga ingin sesuatu?"
"Hm. Samakan saja dengan minuman untuknya."
"Kau yang akan membuatnya sendiri?" Ivy bertanya heran ketika melihat Javier beranjak dari duduknya.
Aaron berdecak kemudian berkedip jenaka. "Hasil racikan Javier adalah yang terbaik di sini."
"Aku tidak sabar mencobanya." Ivy berusaha terdengar ceria meski sebenarnya ia canggung. Suasana ini sama sekali tidak mengenakkan baginya.
Selang beberapa menit kemudian, Javier kembali dengan dua gelas minuman di tangannya. Diletakkannya persis di depan Rocky dan Ivy. "Minumlah!"
"Terima kasih." Ivy mengangguk kikuk.
"Kenapa tidak diminum?" Rocky bertanya heran ketika melihat Ivy hanya memandangi gelas di hadapannya.
"Kenapa harus buru-buru? Apa ada sesuatu di dalamnya?" balas Ivy defensif.
"Hah?" Rocky melongo bodoh.
"Kau menuduh kami mengerjaimu?" Aaron tergelak kencang menanggapi kekonyolan Ivy malam ini.
Javier menahan senyumnya dan berusaha tetap bersikap serius. "Ivy, aku tidak membubuhkan apa-apa. Tenanglah."
Akhirnya, di bawah tatapan ketiga pasang mata pria yang duduk bersamanya, Ivy meraih gelas berisi minuman itu dan mendekatkannya ke bibir. Aroma kuat yang menyengat langsung mendera penciumannya, membuat Ivy refleks mengernyit. Ia masih ragu lagi beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menyesap isi gelas tersebut.
"Uhuk!" Begitu cairan beraroma kuat itu masuk ke dalam mulutnya, lidahnya seolah terbakar dan tanpa dapat ditahan, Ivy terbatuk.
"Hei!” seru Rocky terkejut. Ia langsung menepuk punggung Ivy tanpa sadar. “Kau kenapa?"
Ivy menggeleng cepat dan mendorong pelan tangan Rocky. "Tidak apa-apa?"
"Apa rasanya terlalu kuat?" tanya Javier dengan rasa bersalah.
"Tidak. Ini enak," dusta Ivy. Padahal sejujurnya, rasa minuman yang Javier berikan sangat tidak enak. Seumur hidupnya, inilah kali pertama ia mencoba minuman beralkohol, dan Ivy tidak menyukainya.
Javier mengangguk lega. "Kalau begitu nikmatilah. Nanti jika kau ingin lagi, akan aku buatkan yang lain. Aku tinggal dulu, ada yang harus kuselesaikan di atas."
Cepat-cepat Javier menyambar laptop yang tadi sedang dipakainya sambil mengedip memberi kode pada Aaron.
Aaron yang memang pada dasarnya cepat tanggap, langsung merespon dengan baik. Dengan sigap ia juga berdiri dan mengejar Javier. "Biar aku bantu."
Kini tinggalah keduanya dengan perasaan canggung yang menyelimuti mereka.