Scent of Petrichor 12a

1163 Kata
Ivy memandangi punggung Rocky yang menjauh meninggalkannya. Apa yang sesungguhnya saat ini ia rasakan? Entah. Ivy sendiri tidak bisa memahami hatinya. Ada kalanya ia merasa sangat membenci Rocky. Namun di lain waktu, terkadang ia begitu merindukan sosok itu. Namun bagaimana pun juga, ia tidak akan menjadi lemah. Hanya beberapa saat saja ia membiarkan dirinya memandangi sosok Rocky yang terus menjauh, setelahnya ia sendiri langsung melangkah mantap meninggalkan Center Point. Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Ivy untuk berjalan kaki menuju tempat perhentian bus yang akan membawanya menuju daerah Kings Road, tempat kediaman Rocky yang selama hampir tujuh tahun ini dihuninya sendirian. Dalam perjalanan menuju perhentian bus, Ivy terus mengulang pertengkaran mereka beberapa waktu lalu dalam benaknya. Masih terbayang jelas dalam ingatan Ivy, ekspresi kelelahan di wajah Rocky yang diam-diam membuatnya merasa iba. Lamunannya buyar ketika Ivy merasakan ponselnya bergetar. Dilihatnya nama sang penelepon dan seketika keningnya berkerut dalam. Ivy menerimanya dan berbicara singkat, setelah itu membuka pesan berisi gambar yang sang penelepon kirimkan. Niatnya untuk pulang seketika berubah. Ada satu tempat yang harus ia datangi sekarang juga. Cepat-cepat Ivy berbalik arah dan menyeberang jalan. Tanpa gadis itu ketahui, Rocky melihatnya. Seketika ia bergumam lelah, “mau ke mana lagi anak nakal itu?” Ketika Rocky mengatakan tidak peduli, sesungguhnya tidak demikian kenyataannya. Semarah apa pun, sekesal apa pun, Rocky tidak mungkin berhenti peduli pada gadis itu. Ketika tadi ia meninggalkan Ivy di depan lift dan langsung menuju mobilnya, sebenarnya Rocky diam-diam tetap menunggui gadis itu. Ia berencana untuk mengikuti Ivy dan memastikan gadis itu pulang dengan selamat. Begitu melihat Ivy berbalik arah dan menyeberang jalan, cepat-cepat Rocky melajukan mobilnya dan memutar arah untuk mengikuti gadis itu. Meski sempat tertinggal karena Rocky harus mencari putaran terdekat, ia masih sempat melihat Ivy menaiki bus yang menuju ke kawasan Alway Bridge. Sambil mengikuti bus yang Ivy naiki, Rocky terus berpikir kira-kira ke mana tujuan gadis itu?  Kira-kira 15 menit kemudian, bus yang Ivy naiki berhenti dan gadis itu turun. Melihat lokasi gadis itu turun, seketika kecurigaan Rocky bangkit. Gadis itu kini tengah berada tepat di depan SHUT, sebuah kelab malam yang cukup terkenal di kawasan Alway Bridge. Rocky tahu tempat ini, karena SHUT adalah milik salah satu orang dari Dinasti Zhang juga. Memang bukan kelab malam besar, kelasnya pun jauh di bawah Riverside Point, namun cukup terkenal. SHUT biasanya didatangi oleh anak-anak muda dengan kondisi kantong yang cukup pas-pasan. Namun di tempat ini juga tercatat pernah terjadi berbagai transaksi besar. “Apa dia akan menuju ke sana? Apa dia tidak ingat aku pernah menyeretnya keluar dari sana beberapa tahun yang lalu?” ujar Rocky dongkol. Dugaan Rocky ternyata benar. Kini Ivy sudah berdiri tepat di depan pintu masuk SHUT dan sedang berhadapan dengan penjaga di sana. “Mau apa dia ke sini?” Rocky benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Ivy. “Terbuat dari apakah kepala anak itu? Kenapa sulit sekali diberitahu?” Rocky masih duduk menunggu di dalam mobilnya, mengamati situasi dari jarak yang aman. Ia ingin melihat, apa yang akan Ivy lakukan. Jika gadis itu benar-benar masuk, ia akan segera menyeretnya keluar. Berdiri di depan pintu masuk SHUT, mau tidak mau Ivy kembali teringat kenangan menjengkelkan yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu, persis di tempat ini. Ivy tidak akan pernah melupakan kejadian ketika Rocky dengan seenaknya menyeret ia keluar dari sana, memisahkannya dari teman-teman kuliahnya di tengah pesta. Ketika Ivy masih berdiri ragu, seorang pria mendekatinya dan bertanya. "Hai, Cantik! Ingin masuk?" Mata tajam Ivy langsung awas mengamati pria di hadapannya. Dari pakaiannya, Ivy bisa menebak bahwa pria itu adalah petugas keamanan SHUT.  “Bisa tunjukkan kartu identitasmu?” "Tidak," jawab Ivy cepat. “Aku tidak ingin masuk.” "Kalau tidak ingin masuk, lalu untuk apa ke sini?" tanya pria itu heran. "Apa kau mencari sesuatu?" “Hm.” Ivy mengangguk kaku. “Apa yang kau cari.” Sebelum menjawab, Ivy mengeluarkan ponselnya dari saku, kemudian menunjukkan pesan bergambar yang tadi diterimanya.  "Pernah melihat ini?" tanya Ivy sambil menunjukkan ponselnya pada sang penjaga. "Coba kulihat." Pria itu mengamati gambar yang Ivy tunjukkan, kemudian menggeleng ragu. Sebelum memberikan jawaban pada Ivy, ia menunjukkan gambar itu pada rekannya. "Kau pernah melihatnya?" Keduanya saling berpandangan kemudian mengangguk ragu. "Kurasa aku pernah melihatnya di suatu tempat," ujar sang rekan. "Di mana? Di sini?" tanya Ivy tidak sabar. “Tentu! Kalau bukan di sini, bagaimana aku melihatnya?” sahut si pria nomor dua. “Kapan?” Pria itu segera meringis bingung. “Aku tidak yakin. Setiap hari banyak yang kulihat, aku tidak bisa mengingatnya dengan baik.” “Apakah ada orang lain yang pernah melihatnya selain kalian?” “Entah.” “Kenapa tidak masuk saja dan tanyakan pada yang lain?” usul si pria pertama. Jika saja semudah itu, Ivy pasti akan segera masuk. Pasalnya, begitu Ivy menunjukkan kartu identitas miliknya, maka sudah pasti ia akan diblokir. Selalu seperti itu sejak bertahun-tahun lalu. Kecuali tempat yang didatanginya adalah lokasi baru. “Aku ingin masuk, tapi ada sedikit masalah,” ujar Ivy ragu. “Apa?” tanya si pria nomor dua. Belum lagi Ivy sempat menjawab, tiba-tiba ia merasakan bahunya dicekal dari belakang. Refleks Ivy memutar tubuhnya dan menangkap tangan itu. Matanya seketika melebar ketika melihat sosok yang kini berhadapan dengannya. “Kau lagi!” “Ikut aku!” ujar Rocky dingin sambil menarik tangan Ivy. "Lepas!" Ivy meronta kesal dan berusaha melepaskan cekalan tangan Rocky. Terkadang ia heran dengan kekuatan pria itu. Image Rocky bukanlah pria kuat yang tangguh, ia lebih terlihat manis dan lembut, anehnya saat berhadapan dengan Ivy, Rocky selalu jadi yang sebaliknya.  "Ikut aku dulu, di mobil akan aku lepas,” sahut Rocky tidak peduli dan langsung menyeret Ivy meninggalkan SHUT. "Kenapa kau bisa ada di sini?” desis Ivy jengkel ketika dengan pasrah ia harus berjalan mengikuti Rocky ke tempat mobil pria itu terparkir. Dalam hati ia mengutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran Rocky tadi? “Apa kau menguntitku?” “Masih perlu bertanya?” balas Rocky dingin. Ivy benar-benar dibuat jengkel dengan jawaban Rocky. Belum lagi kekesalannya karena masalah Blade menghilang, Rocky sudah kembali memprovokasinya dengan urusan lain. Dengan sekuat tenaga Ivy mengerem langkahnya dan membuat Rocky kesulitan menariknya. Rocky berbalik kesal dan berusaha menarik Ivy kuat-kuat. “Kenapa berhenti?” Ivy tersenyum puas karena idenya berhasil. Beberapa detik kemudian gadis itu tersenyum  jahat bersamaan dengan kakinya yang melayang cepat menendang tulang kering Rocky. “Argh …, sial!” Rocky mengerang sambil mengumpat kesakitan.  Ivy berniat memakai kesempatan itu untuk meloloskan diri dari Rocky, namun pria itu lebih sigap. Diraihnya pinggang Ivy dengan cepat, menariknya kuat-kuat hingga tubuh mereka saling beradu, kemudian menguncinya erat. Posisi mereka saat ini membuat Ivy salah tingkah. Tubuh mereka saling menempel erat, membuat Ivy jengah. Belum lagi tatapan tajam Rocky yang persis berada di atasnya. “Lepas,” bisik Ivy gugup. “Turuti aku, jadi anak baik, dan kau akan kulepas,” ancam Rocky. “Apa maumu sebenarnya?” ujar Ivy geram. “Aku hanya ingin membawamu ke mobil. Kau bisa bekerja sama?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN