Scent of Petrichor 11b

1345 Kata
>>> Masih terekam jelas dalam ingatan Rocky tentang peristiwa yang terjadi sembilan tahun lalu. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari di mana adik manisnya berubah menjadi sosok pembangkang yang tidak dapat dikendalikan lagi. Siang itu Rocky kembali ke rumahnya setelah lima hari tidak bisa pulang karena urusan pekerjaan. Dalam hatinya, ia sudah tidak sabar untuk bertemu Ivy. Adiknya itu pasti sangat kesepian selama Rocky tidak pulang, meski kini Ivy tidak lagi menunjukkannya.  Dua tahun terakhir, Rocky memang merasakan perubahan yang cukup besar terjadi pada Ivy. Adiknya itu tidak lagi semanja dulu. Ivy tidak pernah lagi merengek dan bergelayut manja padanya, ia jadi jauh lebih tenang dan mandiri. Rocky mengira bahwa itu adalah perubahan wajar yang terjadi pada seorang remaja, namun apa yang dilihatnya di rumah siang itu, mengubah persepsinya secara drastis. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Rocky jika suatu saat ia akan melihat adiknya sedang b******u dengan seorang pemuda di sofa ruang tengah rumahnya dalam kondisi setengah telanjang. Namun itulah yang terjadi padanya saat ini.  Melihat pemandangan seperti itu, kemarahan Rocky langsung memuncak. Ia berderap menghampiri sofa kemudian menarik kasar pemuda yang tengah menindih tubuh Ivy hingga terjungkal ke lantai. “Ivy! Apa yang kau lakukan? Siapa orang ini?” Rocky menatap penuh amarah pada keduanya. “Kekasihku,” jawab Ivy enteng. Sama sekali tidak terlihat gentar apalagi merasa bersalah. Mendengar Ivy menyebut pemuda itu sebagai kekasihnya, kepala Rocky seketika terasa ingin meledak. Pemuda berandalan yang matanya terlihat nakal ini kekasih adiknya? Yang benar saja! “Apa?! Kekasih?! Kau sudah gila?! Memangnya berapa usiamu?!" Rocky tidak mampu mengontrol kemarahannya saat ini. Padahal biasanya, ia adalah sosok orang yang sangat sabar. Hampir tidak pernah ia marah sepanjang hidupnya. Sebelum melanjutkan kemarahannya, Rocky terpaksa mengambil jeda sejenak untuk menyambar pakaian Ivy di lantai dan melemparkannya untuk menutupi tubuh gadis itu. “Pakai bajumu!” "Kau lupa usiaku?" sahut Ivy dengan gaya menantang sambil perlahan memakai bajunya lagi. "Usiamu baru 15 tahun dan kau sudah memiliki kekasih. Apa kau sudah hilang akal?" tanya Rocky tidak percaya. Ke mana perginya adik manis yang selalu membuntutinya itu? Kenapa sekarang yang ada di hadapannya malah seorang gadis pembangkang yang terlihat tidak takut pada apa pun? "Memangnya salah?" tantang Ivy. "Jelas salah!" hardik Rocky kencang. Ivy tertawa sinis kemudian bertanya santai. "Siapa yang membuat aturan kalau gadis 15 tahun tidak boleh berpacaran?" "Aku." Ivy tersenyum mengejek. "Memangnya kau siapa?" "Aku kakakmu." Perlahan sorot mata Ivy berubah tajam. "Kau bukan kakakku.” Bantahan Ivy terdengar menyakitkan bagi Rocky, meski itu adalah sebuah kenyataan. "Tapi aku yang bertanggung jawab atas dirimu." "Tidak perlu. Aku bisa mengurus diriku sendiri," sahut Ivy angkuh. “Kalau kau sudah selesai marah-marah, bisa tinggalkan kami berdua?” “Kau ingin aku meninggalkan kalian berdua di sini?” “Ya.” “Jangan mimpi, Ivy!” hardik Rocky. “Lagi pula aku belum selesai denganmu.” Mata Ivy menatap nyalang pada Rocky. Panggilan yang Rocky ucapkan tadi membuat Ivy merasa tertampar. Sepanjang 12 tahun ia menjadi adik Rocky, kakaknya tidak pernah memanggilnya ‘Ivy’. Ia selalu disapa dengan panggilan spesial, ‘Quinny’. Hari ini, mengapa berubah? Sedemikian marahkah Rocky padanya? Namun Ivy tidak gentar. “Kau mau apa lagi denganku?” tanya Ivy dingin. "Jelaskan padaku siapa pemuda ini!" ujar Rocky geram sambil menunjuk pemuda yang sejak tadi duduk dengan kaku di lantai setelah dibuat terjungkal olehnya.  "Sudah kubilang dia kekasihku," sahut Ivy tenang. "Identitasnya!” seru Rocky frustasi. “Orang seperti apa dia! Itu yang aku ingin tahu." "Kenapa perlu tahu? Apa kau akan mengizinkan aku berpacaran?" pancing Ivy dengan wajah licik. "Tidak! Aku hanya perlu tahu dengan siapa kau bergaul." Ivy melipat kedua tangannya di depan d**a dan menjawab angkuh. "Aku tidak mau memberitahumu." Melihat sikap keras kepala adiknya, Rocky segera mencari jalan lain. Didekatinya pemuda itu kemudian berjongkok di depannya. Ditatapnya pemuda itu dengan sorot mengancam. "Kalau begitu kau jawab sendiri pertanyaanku!" "Jangan katakan apa-apa!" seru Ivy panik. Rocky menarik kerah pakaian pemuda itu. "Cepat jawab!" "Dia Olaf!" seru Ivy cepat. Rocky menoleh ke samping, memicingkan mata menatap Ivy. "Teman sekolahmu?" "Bukan." "Lalu di mana kau mengenal dia?" tanya Rocky sambil mengamati wajah Olaf. Sekali melihat saja Rocky langsung tidak suka. Napasnya berbau alkohol bercampur aroma asap rokok. Bibir, hidung, dan pelipisnya dihiasi tindikan. Entah apa yang dilihat Ivy dari anak ini? "Bar," jawab Ivy berani. "Apa?!" Tanpa sadar Rocky mengeratkan pegangannya pada kerah pakaian Olaf. “Bar katamu?!” "Ya. Bar tempat Mom dulu bekerja." "Kau gila!" umpat Rocky terkejut. Dilepaskannya cengkeraman pada Olaf dengan kasar hingga pemuda itu kembali terdorong ke lantai lalu mengusirnya. “Kau …, cepat pergi dari sini dan jangan berani datang lagi!” Meski diperlakukan demikian oleh Rocky, Olaf tidak berani melawan. Sesuatu dalam diri Rocky membuatnya gentar, karena itu ia memilih diam saja dan tidak ikut campur dalam pertengkaran Ivy dengan kakaknya itu. Maka dengan patuh, Olaf langsung bangkit tergesa dan meninggalkan rumah itu. "Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Rocky setelah Olaf pergi. Ivy mengangkat bahu dan tersenyum meremehkan. "Bersenang-senang." "Ivy, aku sedang tidak ingin main-main …," desis Rocky. "Siapa juga yang ingin bermain-main?" "Jawab yang benar! Apa yang kau lakukan di sana?" "Sudah kubilang aku ingin bersenang-senang. Menikmati hidup." "Dan kau bertemu dia di sana?" "Hm." Rocky mendekati Ivy yang sejak tadi duduk dengan tenang di sofa, kemudian berjongkok di hadapannya. "Kau jatuh cinta?" "Mungkin." "Apa yang kau lihat darinya?" Melihat Ivy berpacaran saja sudah menjadi pukulan berat bagi Rocky, terlebih sosok yang dipacarinya adalah pemuda tidak jelas macam Olaf. "Dia bisa membawaku keluar masuk dengan bebas, dan pastinya memberiku minuman sebanyak yang aku inginkan." "Jangan berani-berani melakukannya lagi!" seru Rocky kalut. Apa yang ia lewatkan selama ini sampai-sampai Ivy jadi berubah sedemikian buruk tanpa ia ketahui? "Aku tidak mau kau mendatangi bar itu lagi, dan juga bergaul dengannya. Kau dengar aku?" Ivy tertawa sinis. "Aku dengar tapi aku tidak ingin melakukannya." "Ivy, ada apa denganmu?!” seru Rocky frustasi. Refleks ia mencengkeram kedua sisi bahu Ivy dan mengguncang tubuh adiknya. “Kenapa kau jadi seperti ini?" "Aku sudah besar dan aku ingin menjalani hidup sesuai kehendakku sendiri." Mata Ivy berkilat marah ketika mengatakannya. “Bukan berarti aku selalu salah dan kau selalu benar,” desis Ivy penuh kebencian. Ucapan Ivy membuat Rocky kembali tersadar dari lamunannya. Perlahan ia tersenyum letih. Hari ini, Rocky merasa tidak memiliki daya untuk berdebat dengan Ivy. Ia terlalu lelah.  Malam ini Rocky memilih diam dan mengalah saja. Alih-alih mendebat Ivy, ia malah berdiri dan menarik lembut tangan gadis itu. “Ayo, pulang!” “Apa?” ujar Ivy bingung yang refleks langsung melepaskan tangannya dari pegangan Rocky. “Kau ingin terus di sini?” tanya Rocky datar. “Tidak.” “Kalau begitu, ayo!” Ia kembali menarik tangan Ivy dan membawa gadis itu menuju pintu. “Maksudmu kau akan pulang bersamaku?” tanya Ivy heran. Ia benar-benar heran dengan sikap Rocky malam ini. Belum lagi ketika pria itu mengajaknya pulang. Kenapa akhir-akhir ini Rocky jadi sering pulang ke kediamannya? “Tempat itu masih rumahku, bukan?” Rocky bertanya santai sambil terus melangkah meninggalkan ruang kerjanya untuk menuju lift. “Tentu itu masih milikmu.” “Kalau begitu kenapa kau terlihat keberatan?” tanya Rocky geli. “Seingatku kau pernah mengatakan-” “Aku hanya akan mengantarmu pulang,” potong Rocky cepat. “Tidak perlu! Aku bisa sendiri,” tolak Ivy cepat. Apa-apaan ini? Sudah sangat lama rasanya sejak terakhir kali Rocky mengantarnya pulang. “Ini sudah malam.” Rocky mendorong Ivy untuk masuk ke lift dan memaksanya turun bersama. “Aku tahu. Tapi aku bisa pulang sendiri,” sahutnya berkeras. “Kenapa kau selalu keras kepala?” tanya Rocky lelah. “Kenapa kau selalu senang memaksa?” balas Ivy sinis. Rocky menggeleng tidak percaya. Bahkan meski ia sudah menunjukkan sikap mengalah, gadis ini tetap saja tidak berniat berdamai. “Kenapa kau suka sekali membantah?” Dan Ivy tidak kehabisan ide untuk menyahuti Rocky. “Kenapa kau suka sekali mengatur?” “Sudahlah, aku tidak peduli! Kalau kau ingin pulang sendiri, aku tidak akan memaksa,” ujar Rocky akhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN