Mengetahui bahwa Rocky diam-diam menemui Blade membuat Ivy sangat marah. Hal semacam ini bukan pertama kalinya terjadi. Setiap kali ia dekat dengan lelaki, Rocky pasti akan mendatangi orang itu. Entah untuk tujuan apa sebenarnya. Maka kekesalan Ivy yang sudah sempat mereda pagi tadi, kini kembali menggunung.
Dalam perjalanan pulang dari Ato Martial, tanpa sadar Ivy malah menuju Center Point untuk menemui Rocky. Center Point adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion, produk yang dipasarkannya seperti pakaian, tas, sepatu, kosmetik, dan parfum. Sebagian besar waktu pria itu memang banyak dihabiskan di tempat ini, apalagi sejak Eldo memercayakan pimpinan tertinggi Center Point pada Rocky.
Ivy sudah lama tidak datang ke tempat ini, namun ia masih bisa mengingat letak ruangan Rocky dengan baik. Tanpa ragu ia berjalan menuju lantai 7 untuk menemui Rocky. Ada sedikit perubahan yang Ivy sadari. Ruangan yang dulu Rocky tempati kini diisi oleh orang lain, sementara pria itu sendiri kini menempati ruangan yang dulu Eldo gunakan.
“Rocky ada di dalam?” tanya Ivy pada seorang wanita yang duduk di meja dekat pintu ruang Rocky. Ivy menduga jika wanita ini mungkin sekretaris Rocky di Center Point.
Wanita itu berdiri cepat dan balas bertanya. “Maaf, Nona. Anda siapa?”
“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Katakan saja dia ada atau tidak!” sahut Ivy ketus.
Tatapan Ivy yang mengintimidasi membuat wanita itu gentar. Entah bagaimana gadis muda ini memiliki aura dominan yang menakutkan.
Sikap gugup wanita itu membuat Ivy langsung menarik kesimpulan. “Sepertinya dia ada. Aku akan masuk.”
“Tunggu, Nona! Anda tidak bisa masuk begitu saja!” Cepat-cepat wanita itu keluar dari meja kerjanya dan mengejar Ivy.
Ivy memandang sinis pada wanita itu yang kini berdiri menghadang jalannya. “Lalu?”
“Anda harus membuat janji dulu.”
“Merepotkan sekali!" Ivy mendengkus kasar dan segera menghalau tubuh wanita itu ke samping.
"Nona!"
Bersamaan dengan teriakan wanita itu, terdengar suara seorang pria bertanya. "Ada apa ini?"
"Maaf, Sir. Nona ini memaksa ingin masuk dan bertemu Mister Rocky."
"Ivy?"
Melihat sosok yang menghampiri mereka, Ivy seolah menemukan pencerahan. "Eldo, Rocky ada di dalam, bukan?"
"Hm." Eldo mengangguk pelan namun memandangi Ivy dengan ekspresi bingung. "Tumben sekali kau menanyakan dia?"
"Aku ingin menemuinya."
Refleks Eldo mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak salah dengar?"
"Jangan mengejekku, Eldo! Aku sedang kesal," ujar Ivy ketus.
"Aku tahu. Terlihat jelas dari wajahmu." Eldo sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Ivy, meski mungkin bagi orang lain yang melihat mereka, gadis itu terkesan kurang ajar.
Eldo sudah mengenal Ivy sejak gadis itu masih kecil, ia tahu seperti apa hidup yang dijalaninya, dan ia bisa mengerti mengapa gadis yang dulu ceria bisa berubah menjadi sosok yang keras seperti sekarang ini. Apa yang Ivy alami di masa kecil dulu mengingatkan Eldo pada masa kelamnya sendiri, meski tidak persis sama.
Ivy mendelik sebal pada Eldo. “Kalau tahu kenapa masih menggangguku juga?”
"Ayo!" Eldo terkekeh geli kemudian merangkul pundak Ivy. "Sebenarnya ada apa?"
Ivy menoleh ke samping dan menatap Eldo bingung. "Hm?"
"Ada apa sampai mencarinya ke sini?"
"Ada yang perlu aku bicarakan dengan dia."
“Biar kutebak,” ujar Eldo geli. "Dia habis melakukan sesuatu yang lagi-lagi membuatmu kesal. Benar begitu?"
"Tepat!"
Eldo menghentikan langkah di depan pintu ruangan Rocky. Sebelum mengizinkan Ivy masuk, ia menahan gadis itu dan menanyainya. "Kau ingin bertengkar lagi dengannya?"
Ivy tidak menjawab, ia malah mengangkat bahunya dengan tatapan menantang.
Tanpa perlu Ivy menjawab, Eldo sudah dapat menduga akan seperti apa jadinya pertemuan kedua kakak beradik ini nantinya. Eldo berdecak pelan. "Kau ini senang sekali mencari masalah dengannya."
"Bukan aku yang memulai," bantah Ivy tidak terima.
"Apa kau tahu …?” Eldo meletakkan sebelah tangannya di kepala Ivy sambil tersenyum sedih. “Terkadang aku merindukan masa-masa ketika melihatmu berlari-lari ceria di halaman rumah kalian. Bahkan jika dipikir-pikir lagi, kenakalanmu dulu terasa manis."
Ivy mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
Cepat-cepat Eldo menggeleng. Meski rasanya ia ingin menasihati Ivy agar tidak terus memusuhi Rocky, namun Eldo sadar ini bukan ranahnya. "Tidak ada. Masuklah!"
Kalau saja tidak sedang dikuasai perasaan kesal pada Rocky, ingin rasanya Ivy memaksa Eldo menjelaskan maksud perkataannya tadi. Ivy yakin ada hal lain yang Eldo maksudkan. Namun saat ini, fokusnya lebih terarah pada Rocky. “Kau tidak ikut masuk?”
“Urusanku dengannya sudah selesai.”
“Kalau begitu terima kasih sudah membantuku,” ujar Ivy sebelum berlalu ke dalam ruangan Rocky. Begitu membuka pintu, Ivy bisa melihat Rocky yang tengah duduk dengan wajah serius, memandangi halaman-halaman majalah yang terbuka di atas meja kerjanya.
“Kau kembali lagi,” gumam Rocky tanpa mengangkat wajahnya. Dikiranya Eldo yang masuk.
“Jangan pura-pura tidak melihatku,” ujar Ivy ketus.
Mendengar suara gadis itu Rocky langsung terkejut. “Kenapa kau di sini?” tanyanya spontan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Rocky, Ivy balas bertanya dengan nada dingin. "Sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan?"
Rocky mengernyit tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
Ivy berjalan mendekat sambil menatap tajam pada Rocky. "Sampai kapan kau akan terus begini? Aku muak hidup di bawah bayang-bayangmu!"
"Kau ini bicara apa?"
"Jangan berlagak bodoh! Aku tahu kau menemui Blade!" seru Ivy marah.
Kini pahamlah Rocky alasan kemarahan Ivy. Ternyata karena urusannya dengan Blade. Namun Rocky mencoba menanggapi kemarahan Ivy dengan tenang. "Apa salahnya aku menemui dia?"
"Apa hakmu menemui dia?" balas Ivy tajam.
"Apa harus punya izin khusus untuk bertemu dengan dia?"
Ivy mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kesal karena perkataan Rocky begitu menyebalkan namun memang benar adanya. Itulah yang membuat Ivy semakin jengkel. "Aku tidak peduli dengan siapa saja kau berinteraksi! Tapi karena kau menemui Blade atas dasar kepentingan yang berhubungan denganku, aku merasa terganggu."
Rocky diam saja. Dipandanginya saja gadis itu dengan tenang.
"Sampai kapan kau akan terus mengawasiku?" cecar Ivy.
"Sampai kau bisa bersikap dewasa dan bertanggung jawab atas hidupmu."
Jawaban Rocky membuat Ivy semakin meradang. "Kau pikir aku anak kecil?"
"Bukan.” Tiba-tiba saja suara Rocky berubah dingin. Matanya terlihat menerawang jauh beberapa saat, kemudian perlahan sorotnya terlihat kecewa. “Kau bukan anak kecil melainkan remaja pembangkang yang sulit dikendalikan.”
“Remaja katamu?!” seru Ivy sengit. Ia tidak terima disebut sebagai remaja padahal usianya sudah 24 tahun.
“Kau yang sembilan tahun lalu, dengan kau yang sekarang masih sama saja. Tidak ada bedanya sama sekali.” Rocky menggeleng sedih. “Kau masih tetap gadis 15 tahun yang keras kepala dan suka melakukan segala sesuatunya menuruti emosimu semata! Kau masih gegabah dan berpikiran pendek. Kau melakukan segala sesuatu yang kularang dan menentang segala sesuatu yang kusarankan."