Scent of Petrichor 10b

1248 Kata
Setelah melalui malam yang buruk juga pagi yang kacau, siang harinya Ivy memaksakan diri untuk pergi ke Ato Martial. Jika menuruti hati, ingin rasanya berdiam diri saja, namun logikanya menentang. Tidak akan ada hal positif yang ia dapatkan dengan menyendiri. Lebih baik mencari kesibukan, dan Ato Martial adalah tempat terbaik. Menghabiskan waktu di sasana selalu berhasil membuat Ivy merasa lebih baik. Setidaknya di sana ia bisa menguras tenaga dan pikirannya habis-habisan, hingga ketika tiba waktunya pulang nanti, tidak ada lagi ruang tersisa baginya untuk berpikir dan merasa. Ketika semua kelas telah berakhir hari itu, Blade mendekati Ivy yang terduduk lemas di ruang ganti. Blade duduk di sisi gadis itu kemudian bertanya hati-hati. “Kau terlihat lesu sekali hari ini. Wajahmu juga kusut. Apa semalam sangat kacau?" "Bisa dibilang begitu." Ivy mengangguk kecil. Bukan situasinya yang kacau, melainkan hati dan pikirannya. Menghabiskan waktu sepanjang malam bersama Rocky nyatanya membangkitkan semua kenangan lama yang Ivy coba kubur selama ini. "Dia memarahimu habis-habisan?" tanya Blade curiga. Jika mengingat betapa emosinya Rocky semalam, Blade sudah bisa membayangkan pertengkaran hebat di antara keduanya. Ivy menggeleng lesu. "Dia tidak bicara apa-apa lagi setelah kau pergi." Kalau saja pertengkaran mereka berlanjut, atau ia tidak mendengar penjelasan Aaron pagi tidak, pastinya perasaan Ivy tidak akan sekacau sekarang. Bagi Ivy, bertengkar lebih baik ketimbang ia harus mengetahui kenyataan betapa Rocky masih sangat peduli padanya. "Lalu kenapa kau begini?" tanya Blade tidak mengerti. Jika semua baik-baik saja, bukankah Ivy seharusnya merasa senang? “Entahlah,” gumam Ivy pasrah. Ia sendiri tidak paham dengan perasaannya akhir-akhir ini. Dimulai sejak pertengkaran hebatnya dengan Rocky ketika pria itu memergokinya di pesta seks beberapa waktu lalu. “Pria itu …, dia benar kakakmu?” Entah mengapa Blade merasakan ada yang janggal dengan hubungan antara Ivy dan Rocky. Apalagi selama ia mengenal Ivy, gadis itu tidak pernah menyebut soal kakaknya, padahal mereka sudah cukup akrab. Banyak hal yang Ivy ceritakan, tapi Rocky tidak termasuk di dalamnya. “Secara hukum begitu.” Sejujurnya Ivy ingin membantah, namun kenyataan yang ada memang demikian. “Ayahnya menikah dengan ibuku.” Blade mengangguk paham. “Apa hubungan kalian baik?” “Kenapa bertanya begitu?” “Kelihatannya kau tidak menyukai kakakmu, tapi sebaliknya dia terlihat sangat peduli padamu.” Ivy menoleh dan tersenyum menatap Blade. “Begitukah?”  Blade mengangguk yakin. Ia seorang lelaki, tidak mungkin Blade salah mengenali pancaran di mata Rocky. “Terlihat jelas dari sikapnya kemarin malam. Apalagi tadi.” Kata terakhir Blade membuat Ivy mengernyit curiga. “Tadi?” Blade kembali mengangguk. “Jika dia tidak peduli padamu, dia tidak akan repot-repot mendatangiku secara khusus.” “Dia mendatangimu?” tanya Ivy tidak percaya. “Kau tidak tahu?” balas Blade heran. Ivy menggeleng kecil. Jauh di dalam hati, amarah yang tadi sudah sempat mereda, kini kembali berkobar.   “Kukira dia tahu alamatku darimu,” ujar Blade bingung. “Dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?” tanya Ivy curiga. “Tidak. Dia hanya mengajakku bicara.” “Apa yang kalian bicarakan?” Melihat Ivy yang sangat penasaran, dengan senang hati Blade menceritakan pertemuannya dengan Rocky siang tadi. >>> Blade menatap heran pada sosok pria yang berdiri di depan pintu apartemennya. Namun Blade masih bisa mengingat dengan jelas siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.  “Ada apa?” Hanya itu sapaan yang bisa Blade berikan, karena otaknya terlalu sibuk berpikir, menebak kira-kira apa alasan kedatangan pria ini. “Bisa kita bicara?” Rocky balas bertanya. “Tentang apa?”  “Adikku,” jawabnya singkat. Dalam hati Blade berpikir, masih belum cukupkah percakapan mereka semalam? Apa lagi yang ingin pria ini bicarakan dengannya?  “Kita bicara di coffee shop saja,” ajak Blade.  Rocky mengangguk setuju dan mengikuti Blade berjalan menuju coffee shop di lantai dasar gedung apartemen ini. “Apa yang ingin kau bicarakan?” Blade memulai pembicaraan ketika mereka sudah duduk berhadapan di sudut coffee shop yang cukup sepi siang itu. “Aku ingin minta maaf untuk sikapku semalam. Aku sudah salah paham." Perkataan Rocky jelas membuat Blade terkejut. Padahal ia sudah mempersiapkan diri untuk menerima kemarahan Rocky yang lainnya. "Maksudmu?" "Tidak perlu kujelaskan, yang pasti aku minta maaf."  Pagi tadi, saat Ivy berdebat dengan Aaron, Rocky mendengar semuanya. Seketika itu juga ia merasa bodoh karena sudah menuduh Ivy yang tidak-tidak, padahal kenyataannya berbeda jauh. Itulah yang membuat Rocky memutuskan untuk mendatangi Blade.  Blade tersenyum kecil namun tulus. "Aku tidak terlalu memikirkannya. Sudah biasa bagiku disalahpahami karena penampilanku." Meski lega karena tahu bahwa Ivy dan Blade tidak berniat berbuat aneh-aneh semalam, namun Rocky masih sangat penasaran tentang satu hal. "Boleh aku tahu seperti apa hubunganmu dengan adikku?" "Kau tidak bertanya langsung padanya?" balas Blade heran. Apa sulitnya bertanya langsung pada Ivy? Rocky mengangkat bahunya. "Dia tidak mau bercerita padaku." Blade memikirkan jawaban Rocky. Alasan apa yang membuat Ivy bungkam? Blade jadi bertanya-tanya, haruskah ia memberi info pada Rocky atau sebaiknya diam saja? "Kau punya adik perempuan?" ujar Rocky tiba-tiba. Blade mengernyit heran. “Apa kau punya?” ulang Rocky. "Hm." Blade mengangguk kecil. "Apa kau pernah merasa ingin menghajar laki-laki yang mendekatinya?" tanya Rocky lagi. Rasanya Blade mulai bisa memahami ke mana arah pembicaraan ini selanjutnya. "Terkadang." "Kalau begitu seharusnya kau bisa memahami perasaanku." Blade mengangguk beberapa kali. “Kurasa aku mengerti.” "Jadi bisa kau ceritakan padaku tentang kalian?" Kali ini Rocky mengatakannya bukan dengan nada memaksa, namun meminta. "Kami berteman. Hanya itu," jawab Blade apa adanya. Jujurkah pemuda ini? Mengapa rasanya Rocky tidak yakin. "Tidak ada perasaan khusus?" "Dari pihakku, harus kuakui ada. Tapi dari pihak Ivy, sama sekali tidak ada." Blade mengatakannya sambil tersenyum lebar. "Kalian sudah kenal lama?" "Baru sekitar enam bulan. Sejak aku bergabung menjadi pelatih savate di Ato Martial." "Ternyata kalian sesama pelatih di sana." Rocky merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Blade. Jika biasanya lelaki yang berdekatan dengan Ivy adalah berandalan tidak jelas, kali ini tidak. Blade sepertinya lelaki baik-baik, meski penampilannya tidak mengatakan demikian. "Ya. Bisa dibilang kami rekan kerja," ujar Blade senang. "Kalian sering pergi bersama?" "Tidak juga. Jadwalku padat." "Aku pernah melihat kalian pergi bersama beberapa waktu lalu." Blade mencoba mengingat kapankah itu? Tidak sulit, karena kenyataannya mereka memang jarang pergi bersama. Baru tiga kali seingatnya. "Ah …, itu karena Ivy memintaku menemaninya ke suatu tempat." "Ke mana?" Blade langsung menggeleng penuh sesal. "Untuk yang itu, aku tidak bisa mengatakannya. Aku sudah berjanji pada Ivy untuk diam." "Baiklah. Kurasa tidak ada lagi yang ingin kutanyakan untuk saat ini. Terima kasih untuk waktumu, dan kuharap kau akan selalu memperlakukan adikku dengan sikap hormat." Hanya seperti itulah percakapan yang terjadi di antara dirinya dengan Rocky. Blade sendiri tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan pria itu. Semuanya masih dalam batas wajar menurutnya. <<< "Kau tidak mengatakan apa-apa padanya tentang tempat itu?" tanya Ivy cemas begitu Blade mengakhiri ceritanya. "Tidak. Seperti janjiku." "Baguslah," desah Ivy lega. "Ivy, boleh aku bertanya?" ujar Blade hati-hati. Jujur saja, ia bukan tipe lelaki cerewet atau usil, tapi kali ini ia sangat penasaran. “Tanya saja.” "Kenapa kelihatannya kau sangat tidak menyukai kakakmu itu?" Padahal dalam pandangan Blade, Rocky adalah kakak yang baik, meski mungkin agak sedikit overprotective. "Karena dia selalu mencampuri urusanku. Hidupku rasanya terkekang karena ulahnya," jawab Ivy dingin. "Kau bilang orang tuamu sudah meninggal, bukan?" "Hm." Ivy mengangguk kecil. "Mungkin itu bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.” Blade mencoba memberikan pandangannya sebagai seorang teman. "Kenapa kau ikut-ikutan membelanya juga?" tanya Ivy sengit.  "Aku bukan berpihak pada kakakmu, tapi aku juga memiliki seorang adik perempuan. Dan kurasa aku juga akan melakukan hal yang sama seperti kakakmu itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN