Scent of Petrichor 8a

1170 Kata
Setelah menghabiskan waktu sepanjang malam di Riverside Point, menjelang subuh Rocky menuju kediamannya. Bukan untuk pulang, melainkan menemui Ivy. Entah mengapa ia sangat ingin melihat gadis itu saat ini. Mungkin ingin meluapkan kemarahan yang belum sempat terlampiaskan sebelumnya. Mungkin sebagai wujud rasa bersalah karena telah berbicara sangat keras pada Ivy. Atau mungkin sekadar untuk mengucapkan selamat ulang tahun secara diam-diam dan memuaskan rasa rindu memandangi wajah gadis itu saat terlelap. Rocky sempat berdiri ragu di depan pintu kamar Ivy, menimbang apakah sebaiknya ia masuk atau tidak. Logikanya melarang, namun perasaannya kali ini lebih kuat menguasai. Akhirnya Rocky memutuskan membuka pintu dan berjalan masuk. Dari posisinya di dekat pintu, Rocky bisa melihat gadis itu masih terlelap di atas tempat tidur. Ia mendekat dan duduk perlahan di sisi Ivy, memandangi wajah damai gadis itu saat terlelap. Lagi-lagi Rocky tidak bisa menahan dorongan untuk membelai wajah gadis itu. Belum sempat akalnya melarang, jemarinya sudah lebih dulu bergerak menelusuri garis wajah Ivy. Meski dalam pengaruh alkohol, mata Rocky tetap jeli. Ia bisa menyadari jejak air mata yang membayang di sekitar mata gadis itu. Perlahan jemarinya mengusap mata Ivy. “Aku tidak tahu kau masih suka menangis. Kukira gadis sekeras dirimu, tidak pernah menangis lagi.” Sudah dua kali Rocky menemukan Ivy dengan kondisi mata sembab seperti ini, dan sejujurnya ia merasa terkejut. “Kenapa sekarang kau lebih suka menangis sendirian? Padahal dulu kau selalu datang padaku setiap kali menangis.” Rocky merasakan dadanya sesak. Dulu, ia adalah tempat Ivy mengadu. Tempat Ivy mencari penghiburan saat sedang sedih. Kini? Dirinyalah yang menjadi penyebab gadis itu menangis. “Kenapa kita bisa jadi seperti ini …?” tanya Rocky pada Ivy yang tengah terlelap. “Aku rindu saat-saat dulu, masa-masa ketika hidup terasa sangat mudah, tanpa masalah dan kesulitan,” ujar Rocky lirih. “Aku ingin kembali ke masa ketika kau hanyalah seorang gadis kecil ceria yang melihat dunia begitu indah.”  Kenyataan yang sekarang mereka jalani, terlalu menyedihkan. “Bisakah kita kembali? Seandainya bisa …, aku ingin ….”  Dulu sekali, Rocky pernah merasakan bahagianya memiliki sebuah keluarga yang utuh, bersama Connor, Kelly, dan Ivy. Bagi Rocky, Connor adalah sosok ayah terhebat. Di tengah segala kekurangannya, Connor selalu berusaha memberi yang terbaik. Di tengah segala keterbatasannya, Connor berusaha membuat hidup Rocky sempurna. Connor memang bukan ayah yang selalu ada setiap saat karena kesibukannya pun padat, namun pria itu selalu berusaha menyempatkan waktu untuk Rocky. Hubungan keduanya begitu akrab dan hangat.  Selanjutnya ada Kelly. Bagi Rocky, Kelly adalah sosok ibu pengganti yang penyayang. Kelly memang bukan ibu kandungnya, namun wanita itu begitu sayang pada Rocky. Kelly tulus menerima Rocky dan memberi perhatian layaknya anak sendiri.  Terakhir, ada Ivy. Gadis itu memang bukan adik kandungnya, namun Rocky sangat menyayangi Ivy. Bagi Rocky, Ivy adalah pemberi warna dalam hidupnya. Sementara bagi Ivy, Rocky adalah segalanya.  Namun sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Hanya dua tahun saja keempatnya merasakan momen-momen indah itu, karena setelahnya, semua mulai memasuki fase kelam.  Rocky tidak akan pernah melupakan hari itu. Satu malam yang terasa dingin mencekam di pertengahan musim panas. Malam yang mengubah hidup Rocky selamanya, memaksa ia menjadi dewasa sebelum waktunya. >>> Rocky tengah mengerjakan tugas sekolah di kamarnya, ditemani celoteh ringan Ivy yang duduk manis di atas tempat tidur, ketika ia mendengar suara gaduh dari kamar Connor dan Kelly. Tanggung jawab sebagai satu-satunya lelaki di rumah karena sang ayah sedang keluar kota membuat Rocky merasa harus memeriksa kondisi Kelly. Rocky langsung beranjak dari meja belajar dan berpesan pada adiknya. “Kau tunggu di sini sebentar! Aku ke kamar Mom dulu.” Ivy yang sedang asik dengan bonekanya, hanya mengangguk patuh. Ketika Rocky keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan Kelly. Wanita itu terlihat kacau. Matanya terlihat berkaca-kaca, bibirnya pucat, dan rambutnya terkuncir asal.  "Mom, ada apa?" tanya Rocky khawatir. “Tidak ada apa-apa,” jawab Kelly gugup. Rocky memicingkan mata curiga. Gerak-gerik Kelly terlihat sangat mencurigakan. "Tapi aku mendengar suara-suara ribut dari kamarmu." “Oh, itu …. Aku hanya menjatuhkan beberapa barang karena tergesa-gesa saja.” Kelly berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar normal. Ia tidak ingin membuat Rocky khawatir. “Kau ingin pergi?” tebak Rocky. "Ya.” “Malam-malam seperti ini?” Rocky semakin curiga saja. Saat ini memang baru pukul tujuh, namun sejak menikah dengan Connor, Kelly tidak pernah lagi mengambil pekerjaan malam hari.  “Hm.” Kelly mengangguk cepat. “Ada pekerjaan?” tanya Rocky lagi. “Bukan,” jawab Kelly cepat dan setelahnya langsung menyesal. Kenapa tidak ia katakan saja ada pekerjaan?  “Lalu?” Kelly memutar otak, berpikir keras untuk mencari jawaban. “Mm …, hanya ada keperluan mendesak saja.” “Mom, bicaralah yang jujur. Jangan membohongi aku,” pinta Rocky serius. “Aku tahu ada yang tidak beres. Sepertinya kau sedang menutupi sesuatu dariku.” Mendengar kata-kata Rocky, seketika Kelly ingin menangis kembali. Ia tertunduk untuk menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca. Rocky meraih bahu Kelly dan mengusapnya pelan, lalu menatap wanita itu dengan perasaan cemas. "Mom, ada apa?" "Rocky …," bisik Kelly kebingungan. "Mom, kenapa menangis?" Rocky semakin khawatir saja saat ini. "Aku baru mendapat telepon dari polisi. Connor mengalami kecelakaan. Dia ada di rumah sakit." Sekitar 15 menit yang lalu, Kelly menerima telepon dari kepolisian yang mengabarkan bahwa suaminya mengalami kecelakaan tunggal ketika menuruni jalur perbukitan. Mobilnya terperosok ke jurang dan berakhir di danau. Dugaan sementara Connor mengalami kecelakaan karena lelah dan mengantuk saat mengemudi setelah melakukan sesi pemotretan di puncak bukit. Beruntung kondisinya segera diketahui oleh rombongan kru foto lain yang berada di belakang mobil Connor. Mendengar hal itu, Rocky serasa tertampar. Namun ia berusaha terlihat tegar agar Kelly tidak semakin sedih.  "Bagaimana kondisi Dad?" tanya Rocky tenang. "Cukup buruk. Connor harus segera dioperasi, karena itu aku harus secepatnya ke sana untuk menandatangani berkas persetujuan." "Aku ikut." "Bolehkah kuminta kau di sini saja untuk menemani Ivy?” tanya Kelly penuh harap. Seketika Rocky teringat bahwa ada adiknya yang baru berusia lima tahun. “Kau benar, Ivy terlalu kecil. Dia pasti tidak boleh masuk.” Bukan saja karena Ivy terlalu kecil dan pasti tidak akan diizinkan masuk ke rumah sakit, namun Rocky juga tidak tahu bagaimana caranya memberitahu sang adik perihal kondisi Connor. Ivy juga sangat menyayangi Connor, bahkan benar-benar beranggapan bahwa pria itu adalah ayah kandungnya.  “Maaf.” Sejujurnya Kelly merasa bersalah karena membuat Rocky tidak bisa menemui ayahnya segera. “Tapi aku janji akan segera kembali.” Rocky mengangguk paham dan berusaha tersenyum menenangkan. "Kau yakin bisa pergi sendiri?" "Hm.” Kelly mengangguk cepat, mencoba terlihat tegar. “Tolong jaga Ivy saja. Aku usahakan untuk pulang secepatnya." "Kabari aku perkembangan Dad." Setelah Kelly menuruni tangga, Rocky masih terdiam di tempatnya. Pikirannya kacau, demikian pula dengan perasaannya. Ada ketakutan yang tiba-tiba mencengkeram hati Rocky, membuatnya ingin menjerit dan menangis, namun tidak bisa. Ia hanya mampu diam dan memendam semuanya dalam hati. Perlahan, dengan langkah gontai ia kembali masuk ke kamarnya. Tepat sebelum membuka pintu dan melangkah masuk, Rocky sekuat tenaga mengubah raut wajahnya yang kusut menjadi ceria, demi agar Ivy tidak menyadari perubahan suasana hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN