>>> “Kenapa lama?” Ivy langsung bertanya dengan nada menuntut khas seorang anak-anak, begitu sang kakak kembali ke dalam kamar.
“Aku habis berbicara dengan Mom.” Rocky langsung berjalan kembali menuju meja belajar tanpa melihat ke arah Ivy, ia takut gadis kecil itu akan menyadari raut wajahnya yang kacau saat ini. Ivy memang masih kecil, namun ia peka.
“Mom di mana?”
"Mom sedang pergi."
Mendengar bahwa ibunya pergi, Ivy langsung bergegas turun dari tempat tidur dan mendekati Rocky. Ditariknya ujung baju sang kakak lalu memiringkan kepala dan bertanya. “Lama?”
Rocky berusaha menampilkan senyumnya yang biasa kemudian menepuk kepala Ivy. “Katanya sebentar.”
"Rocky ….” Ivy kembali menarik ujung baju Rocky untuk menarik perhatian sang kakak.
“Hm?”
“Dad belum pulang?”
“Belum.”
“Kapan Dad pulang?” tanya Ivy dengan nada sedih.
Apa yang harus dikatakannya pada anak sekecil Ivy? “Aku kurang tahu. Semoga tidak lama.”
"Kenapa Dad lama sekali? Aku ingin cepat bertemu." Mata Ivy mulai berkaca-kaca ketika mengatakannya.
“Aku juga.” Rocky mengangguk kecil. Kemudian demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Ivy lainnya yang mungkin akan berbahaya, Rocky memilih mengusir sang adik. “Quinny, bermainlah kembali. Aku harus mengerjakan tugasku dulu.”
Ivy menurut dan kembali ke tempat tidur, asik bermain sendiri dengan mainannya dan tidak lagi mengganggu Rocky dengan berbagai pertanyaan. Sementara Rocky, remaja itu tidak benar-benar mengerjakan tugasnya. Ia hanya duduk termenung di depan meja belajar, memandangi pekerjaan sekolah, sementara pikirannya mengembara ke mana-mana. Otaknya sama sekali tidak dapat digunakan untuk memikirkan pelajaran malam ini. Pikirannya hanya tertuju pada kondisi sang ayah. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Rocky langsung teringat bahwa sekarang sudah waktunya bagi Ivy untuk tidur. Didekatinya sang adik lalu menepuk tangannya. “Quinny, sudah malam. Kau harus tidur.”
Ivy menengadah menatap Rocky dan bertanya sedih. “Mom belum kembali?”
“Hm.”
Ivy menggeleng kecil. “Aku tidak mau tidur.”
“Kenapa?”
“Aku takut.”
“Apa yang kau takutkan?”
“Tidak tahu. Perasaanku tidak enak.”
Rocky memandangi adiknya dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah gadis kecil ini bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ayah mereka?
“Tapi kau harus tidur,” bujuk Rocky.
“Boleh aku tidur di sini saja?” pinta Ivy memelas.
“Boleh.” Dengan mudahnya Rocky langsung meloloskan permintaan Ivy. Untuk malam ini, rasanya ia juga tidak ingin sendirian. “Sekarang gosok gigimu dulu.”
“Temani,” pinta Ivy lagi.
“Biasanya kau sudah bisa sendiri.”
“Aku takut,” rengek gadis kecil itu.
“Takut apa Quinny?”
“Entah. Aku takut saja.”
Lagi! Ketakutan seperti apa yang sebenarnya Ivy rasakan? Memikirkannya saja perasaan Rocky jadi bertambah kacau.
“Ayo!” Rocky berdiri cepat dan mengulurkan tangannya ke arah Ivy. “Aku temani!”
Rasanya Rocky bisa memahami ketakutan yang Ivy rasakan, karena ia juga mengalaminya. Rasa takut yang sulit dijelaskan, namun nyata. Dan rasa takut yang mencekam itu terus berlanjut.
“Rocky, aku tidak bisa tidur,” keluh Ivy ketika mereka sudah berbaring di tempat tidur Rocky cukup lama.
“Kenapa?” gumam Rocky.
“Tidak tahu.” Ivy mengetuk punggung Rocky yang berbaring membelakanginya. “Rocky, lihatlah ke sini!”
Sebenarnya Rocky ingin terus memunggungi adiknya saja. Ia ingin menghindari bertatapan dengan mata polos Ivy. Rocky takut ia tidak akan bisa berbohong lebih lama lagi. Namun ia tidak tega juga karena Ivy sudah memintanya membalik badan. “Apa kau makan banyak permen tadi sore?”
“Tidak.”
“Coklat?”
“Tidak.”
“s**u?”
“Tidak, Rocky!” seru Ivy jengkel. Hari ini Ivy memang tidak makan sesuatu yang terlalu banyak mengandung gula hingga membuat dirinya sulit beristirahat. “Aku hanya takut, jadi tidak bisa tidur.”
“Sini aku peluk!” Rocky merentangkan tangannya agar Ivy mendekat.
Ivy langsung merangsek ke dalam pelukan Rocky dan memeluk sang kakak kuat-kuat. Setelah beberapa lama, ia kembali mengeluh. “Aku masih tetap takut.”
Rocky menepuk punggung Ivy untuk menenangkan adiknya. “Mau mendengar aku bercerita?”
Ivy mengangguk senang dan bersiap mendengarkan Rocky mendongeng untuknya. Namun hingga cerita itu selesai, mata Ivy tetap terbuka lebar.
“Masih belum tidur juga?”
“Tidak bisa.”
“Mau aku bernyanyi untukmu?” tawar Rocky.
“Mau.”
Setelah menyanyikan enam lagu sambil mengusap teratur punggung Ivy, Rocky melirik sang adik dan menemukan gadis kecil itu akhirnya terlelap. Perlahan ia bergumam sambil memandangi wajah Ivy. “Quinny, aku mengerti mengapa kau ketakutan. Bukan kau saja yang merasakannya, aku juga.”
Rocky terus memeluk Ivy sepanjang malam sampai akhirnya ia jatuh tertidur juga. Meski demikian, tidurnya tidak tenang. Mimpi-mimpi buruk bergantian datang dan membuatnya ketakutan, hingga ia terbangun ketika merasakan guncangan di lengannya.
Rocky membuka mata yang terasa berat dan melihat Kelly menunduk di sebelahnya. “Mom …?”
“Kita harus bergegas ke rumah sakit,” bisik Kelly.
“Dad …?” bisik Rocky takut.
Kelly mengangguk sedih. “Connor kritis.”
Rocky menatap cemas pada adiknya yang masih terlelap. “Bagaimana dengan Ivy?”
“Aku sudah meminta izin pada pihak rumah sakit untuk membawanya. Connor mungkin tidak akan bisa bertahan sampai besok pagi.”
Tanpa membangunkan Ivy, Rocky menggendong sang adik dan membawanya ke mobil. Ia duduk di kursi belakang sambil memangku kepala Ivy. Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu panjang dan mencekam. Baik Rocky mau pun Kelly, sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Suasana hening itu dipecahkan oleh gumaman Ivy yang baru terbangun.
“Rocky …, ini di mana?” tanya gadis kecil itu kebingungan.
“Mobil.”
“Kita mau ke mana?” Ivy beringsut duduk dan memandang keluar jendela mobil. “Ini masih malam?”
“Ya, sekarang masih malam.”
“Ke mana kita malam-malam?”
Rocky dan Kelly sontak saling berpandangan melalui spion.
“Kita mau ke mana?” ulang Ivy ketika tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
“Kita akan bertemu Dad.” Akhirnya Kelly yang menjawab.
Ivy begitu bersemangat ketika mendengar akan bertemu Connor. Ia duduk dengan sangat manis dan tidak bertanya apa-apa lagi, hingga mereka tiba di rumah sakit. Namun pertemuan yang Ivy bayangkan, jauh di luar kenyataannya. Jangankan untuk meminta Connor menggendongnya seperti biasa, sekadar memeluk saja tidak bisa. Bahkan untuk masuk dan mendekat saja ia tidak diperbolehkan. Ivy hanya dapat melihat Connor dari kaca ruang ICU sambil digendong oleh Rocky.
“Aku ingin masuk,” rengek Ivy untuk kesekian kalinya.
Rocky menggeleng sedih. “Kita hanya boleh melihatnya dari sini.”
“Tapi aku ingin memeluk Dad.” Ivy terus merengek. Ia tidak bisa mengerti mengapa hanya diizinkan melihat namun tidak boleh mendekat.
Rocky tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menenangkan Ivy, karena perasaannya sangat kacau saat ini. Ia sudah sempat masuk untuk melihat Connor dari dekat, dan Rocky paham sekali seburuk apa kondisi ayahnya. Ia bahkan sudah merelakan jika ayahnya harus pergi. Kondisi ayahnya benar-benar buruk, jika seandainya pun ia mampu bertahan, Connor tidak akan pernah kembali seperti semula. Kemungkinan besar ayahnya hanya akan terbaring di tempat tidur sepanjang hidupnya.
“Kenapa Dad tidur terus?” tanya Ivy setelah cukup lama mereka berada di sana dan Connor tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Baik Rocky atau pun Kelly, sama-sama kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan Ivy. Gadis kecil itu terus mengulang-ulang pertanyaan yang sama sepanjang malam.
“Kenapa Dad tidak menjawabku?”
“Mesin apa itu?”
“Selang apa itu?”
Hingga menjelang pagi, akhirnya Ivy mengajukan satu pertanyaan yang sejak tadi belum pernah diucapkannya.
“Kenapa mereka menutup wajah Dad?”