>>> Setelah prosesi pemakaman yang melelahkan, kini yang tersisa hanya kehampaan, terutama bagi Rocky dan Kelly. Bukan Ivy tidak kehilangan, hanya saja ia masih terlalu kecil untuk memahami makna sesungguhnya dari sebuah perpisahan abadi itu. Meski hanya satu orang yang pergi, namun rumah mereka berubah sepi seketika.
“Rocky, apa Dad pergi ke surga?” tanya Ivy ketika Rocky tengah mengantarnya tidur. Biasanya hal ini Connor yang lakukan. Mengantar Ivy ke kamar, membacakan cerita, lalu menemaninya hingga terlelap. Jika tengah malam terbangun, barulah Ivy akan menyelinap ke kamar Rocky.
“Hm.” Rocky hanya mengangguk kecil, berharap dengan begitu Ivy tidak akan bertanya apa-apa lagi.
Namun nyatanya gadis kecil itu masih ingin bertanya. Ivy menahan tangan Rocky yang sedang menyelimutinya agar sang kakak tidak beranjak dulu. “Apa surga itu jauh?”
“Sangat jauh.” Bahkan sesungguhnya Rocky tidak tahu surga itu di mana dan seperti apa.
“Apa aku bisa ke sana?” tanya Ivy penasaran.
Rocky menghadapi dilema. Apa jawaban yang harus berikan? Ia saja tidak banyak tahu tentang hal ini. Namun dari satu ingatan di masa kecilnya, Rocky sepertinya pernah mendengar hal ini. Akhirnya ia menjawab juga meski sebenarnya ragu. “Bisa. Suatu hari nanti.”
“Kenapa Dad pergi sendiri? Kenapa tidak mengajak kita?” Wajah Ivy terlihat sedih sekaligus kecewa ketika mengatakannya.
Pertanyaan ini pun yang Rocky tanyakan dalam hatinya. Kenapa ayahnya harus pergi juga? Kenapa ia harus menjadi yatim piatu di usia sedini ini? Mengapa hidup sedemikian kejam padanya? Namun tidak mungkin Rocky mengungkapkan kemarahan yang ia pendam pada adiknya yang tidak mengerti apa-apa ini, bukan? Hingga untuk kesekian kalinya, Rocky lagi-lagi memberikan jawaban dusta. “Dad sedang menyiapkan tempat untuk kita di sana.”
Mendengar hal itu, seketika mata Ivy berbinar. “Jadi nanti kita bisa menyusul?”
“Hm. Jika tempatnya sudah siap.”
“Kapan?”
Gawat! Sepertinya Ivy jadi berharap banyak karena jawaban-jawaban Rocky. “Aku tidak tahu.”
“Besok?” sambut Ivy antusias.
“Tidak bisa.” Rocky menggeleng cepat.
“Lima hari lagi?”
“Masih lama.” Rocky mulai putus asa.
“Kenapa lama sekali?” keluh Ivy jengkel.
“Karena jauh.” Hanya jawaban itu yang terpikir oleh Rocky.
“Tapi aku ingin bertemu.”
Rocky menunduk dalam. Ia benar-benar putus asa sekarang. “Untuk saat ini tidak bisa.”
Ivy mengguncang tangan Rocky untuk menuntut jawaban. “Bagaimana kalau aku rindu?”
Bagaimana? Apa yang harus dilakukan? Rocky juga tidak tahu. Namun tiba-tiba sesuatu melintas dalam benaknya.
“Kau bisa berdoa.” Itulah kata-kata yang banyak orang ucapkan saat ibunya meninggal tujuh tahun lalu.
“Bagaimana kalau aku ingin memeluk Dad?” tanya Ivy lagi. Ia tahu cara berdoa. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya berdoa akan membayar rasa rindu? Ia butuh sesuatu yang lebih nyata.
“Kau bisa memeluk fotonya,” usul Rocky.
“Aku tidak suka itu!” Tiba-tiba Ivy menjerit kesal.
Rocky terkejut melihat ledakan emosi Ivy yang tiba-tiba. Cepat-cepat ia memeluk gadis kecil itu untuk menenangkannya. “Quinny …, jangan begitu. Nanti Mom semakin sedih melihatmu begini.”
Ivy terdiam. Ia tahu ibunya memang terlihat sedih tiga hari terakhir ini. Bahkan Kelly terus menangis sepanjang hari. Saat makan malam saja, ibunya tadi tidak ikut bergabung. Kelly hanya mengurung diri di kamar dan terus menangis, sambil memeluk pakaian dan foto milik Connor.
“Kenapa Mom menangis terus?” tanya Ivy bingung.
“Mungkin karena Mom rindu pada Dad.”
“Rocky …, kita temani Mom saja!” usul Ivy tiba-tiba.
Rocky melepaskan pelukannya dari Ivy sambil berpikir. “Menurutmu Mom akan senang?”
“Pasti!” seru Ivy.
Rocky memikirkannya lagi, dan harus ia akui, mungkin ide itu tidak buruk. “Ayo, kita ke kamar Mom!”
Ivy langsung naik ke pangkuan Rocky dan mengalungkan lengan di leher sang kakak. Kalau sudah begini, pasti maksudnya ia ingin digendong. Tanpa banyak bicara, Rocky membawa Ivy dalam pelukannya ke kamar orang tua mereka. Di depan pintu, Ivy langsung mengetuk dan membuka pintu.
“Mom, kau sudah tidur?” tanya Ivy sambil melongok ke dalam.
“Ada apa?” sahut Kelly lesu. Perlahan ia beringsut duduk lalu menyeka matanya yang basah.
“Boleh kami tidur di sini?” tanya Rocky hati-hati.
Kelly tersenyum lemah kemudian menepuk tempat tidurnya. Ia tidak keberatan harus berbagi tempat tidur bertiga malam ini. Jika sendirian saja, rasanya ia bisa gila. Kelly tidak sanggup.
“Maaf sudah mengganggu waktu sendirimu,” bisik Rocky ketika Ivy sudah terlelap.
Kelly menggeleng lemah, menoleh ke samping dan menatap Rocky yang berbaring di ujung tempat tidur. “Kurasa aku juga ingin ditemani. Aku tidak ingin sendiri.”
“Mom, apa yang akan terjadi pada kita?” tanya Rocky dengan perasaan gamang.
“Aku juga tidak tahu,” bisik Ivy lirih. Jika di depan Ivy ia berusaha terlihat tegar, di hadapan Rocky Kelly bisa sedikit lebih jujur. Setidaknya remaja ini sudah lebih mampu memahami perasaannya.
“Mom, apa Dad meninggalkan hutang?” tanya Rocky cemas. Bukan Rocky bermaksud buruk dengan menuduh ayahnya berhutang, ia hanya berjaga-jaga saja
Kelly menggeleng cepat. “Tidak. Ayahmu tidak pernah berhutang.”
“Tapi apa Dad meninggalkan cukup tabungan untuk kita?” tanya Rocky lagi.
Kelly mengulurkan tangan ke arah Rocky, melewati tubuh Ivy yang berbaring di tengah. Perlahan tangannya mengusap lembut kepala Rocky. “Jangan khawatirkan itu. Aku akan berjuang untuk menghidupi kita bertiga.”
“Maaf aku membebanimu,” ujar Rocky dengan perasaan bersalah.
“Kenapa bicara begitu?” tanya Kelly tidak suka.
“Kalau ini terlalu sulit, kau bisa meninggalkan rumah ini Mom. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku tidak ingin jadi bebanmu.” Rocky harus berbesar hati. Ia sadar, dirinya dan Kelly tidak memiliki hubungan darah yang mewajibkan wanita itu untuk menanggung hidupnya. Rasanya juga tidak adil bagi Kelly.
“Jangan bicara begitu, Rocky. Kita adalah keluarga. Kau harus ingat itu,” ujar Kelly tegas. Apa pun yang terjadi, ia akan memenuhi janjinya pada Connor untuk selalu menjaga dan menyayangi Rocky, seperti yang sudah pria itu lakukan terhadap Ivy sampai akhir napasnya.
“Apa kau akan kembali bekerja?”
“Hm. Aku harus.”
“Pekerjaan apa yang akan kau lakukan?”
“Entah.” Sudah dua tahun Kelly berhenti dari dunia modeling yang sempat digelutinya dulu. Untuk kembali tiba-tiba tidaklah semudah itu. Apalagi mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. “Aku tidak bisa berpikir saat ini. Tapi aku pasti akan mendapatkan pekerjaan. Apa pun itu akan aku lakukan.”
“Aku juga bisa membantu.”
“Tidak perlu.” Kelly menggeleng tegas. “Tugasmu cukup bersekolah saja.”
“Apa yang bisa aku bantu, Mom?” Rocky tidak ingin menjadi benalu dalam kehidupan Kelly.
Kelly melirik Ivy yang terlelap dengan damai di sisinya. “Kau bisa membantuku menjaga Ivy. Mulai sekarang aku pasti akan lebih banyak di luar rumah.”
“Jangan khawatirkan Ivy. Aku akan menjaganya dengan baik,” sahut Rocky cepat.
“Kalau begitu aku tenang. Percayalah, semua akan baik-baik saja,” ujar Kelly disertai senyum samar. Sejujurnya, Kelly hanya berusaha terlihat tegar. Padahal yang sesungguhnya, ia hancur. Kelly tidak pernah mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
Pernikahannya dengan Connor begitu manis. Untuk pertama kali dalam hidupnya Kelly merasa dicintai, dihargai, dan diterima. Bahkan Connor tidak pernah menganggap Ivy sebagai anak dari pria lain, padahal ayah kandung putrinya saja tidak pernah mengakui keberadaannya.
Kelly terbuai dalam kebahagiaan yang ia pikir akan bertahan selamanya, hingga ia tidak pernah menyangka jika Connor akan pergi meninggalkannya secepat ini. Apalagi semuanya begitu mendadak. Ia terguncang. Ia kehilangan pegangan.