>>> Setengah tahun sudah berlalu sejak kepergian Connor, dan segala sesuatunya berubah drastis dalam kehidupan Rocky bersama Ivy juga Kelly. Rasanya, hampir tidak ada lagi hari-hari penuh canda tawa seperti dulu, yang ada kini hanya sepi. Segala sesuatunya menjadi suram dan menyedihkan.
“Quinny!” panggil Rocky dari dapur.
“Apa?” balas gadis kecil itu dari ujung tangga.
“Turunlah! Makan dulu!” teriak Rocky. Ia terlihat sibuk menata makanan yang baru selesai dimasak di atas meja makan.
Ivy melangkah turun untuk menuruti kata-kata Rocky, namun wajahnya terlihat tidak senang. Gadis kecil yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang keenam dua bulan lalu, terlihat jauh lebih pendiam dibandingkan sebelumnya.
“Ini masakanmu?” tanyanya lesu di depan meja makan.
“Hm.” Rocky menepuk pundak Ivy, menarikkan kursi bagi sang adik dan mendorongnya untuk duduk.
Ivy menengadah menatap Rocky dengan pandangan kecewa. “Mom pergi lagi?”
“Ya.”
Jawaban Rocky membuat Ivy tertunduk dalam.
Rocky duduk di sebelah Ivy lalu mengusap kepala sang adik. “Kau tidak suka masakanku?”
Padahal Rocky yakin masakannya tidak buruk. Ia sudah cukup terlatih selama ini.
“Bukan.” Ivy menggeleng pelan.
“Lalu kenapa wajahmu begitu?”
“Aku tidak suka karena Mom selalu pergi.” Ivy mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Kepergian Connor meninggalkan luka dalam bagi Ivy. Bukan saja sosok ayahnya yang menghilang, ibunya pun demikian. Hampir tidak ada lagi waktu yang dapat Ivy habiskan bersama Kelly di rumah. Ibunya selalu sibuk. Pagi-pagi sekali sudah berangkat, dan hingga larut malam belum juga kembali, sampai waktunya Ivy pergi tidur pun, Kelly tetap belum ada di rumah.
“Mom pergi untuk bekerja, Quinny.” Rocky mencoba menghibur sang adik.
"Aku ingin Mom di rumah saja, tidak usah bekerja," ujar Ivy lirih.
Rocky paham perasaan Ivy, sangat paham. Ia juga kehilangan ibunya di usia sangat dini, dan Rocky merasakan betapa inginnya melihat Connor terus di rumah bersamanya. Namun kini Rocky sudah jauh lebih bijak dan ia berjanji akan membantu Ivy melewati masa-masa sulit ini.
"Mom harus bekerja untuk mendapatkan uang, agar kita bisa terus hidup," jawab Rocky bijak.
"Tapi aku takut kalau Mom akan pergi ke surga juga seperti Dad." Tiba-tiba saja wajah Ivy berlinang air mata.
Kata-kata Ivy membuat Rocky tersentak. Dari mana datangnya pikiran semacam itu? "Kenapa berpikir begitu?"
"Karena Dad terus bekerja lalu tidak pernah pulang lagi. Dad ternyata malah pergi ke surga. Aku takut Mom juga akan begitu," ujar Ivy terisak-isak.
Tersayat rasanya hati Rocky mendengar ungkapan ketakutan adiknya. Rupanya, meski tidak pernah diungkapkan, kepergian Connor menjadi sebuah trauma bagi Ivy.
“Jangan pikirkan itu.” Cepat-cepat Rocky menghentikan pikiran Ivy yang melantur. “Ayo, sekarang makanlah!"
"Rocky, malam ini boleh aku tidur di kamarmu?" tanya Ivy sambil menyantap makanannya.
Refleks Rocky mengangkat alisnya. "Lagi?"
"Hm." Ivy mengangguk dengan wajah penuh harap.
"Quinny, cobalah untuk tidur sendiri."
"Memangnya kenapa?" tanya Ivy sedih.
"Kau sudah bertambah besar."
"Lalu apa masalahnya?" protes Ivy.
Sebenarnya Rocky menolak bukan karena merasa terganggu. Ia sama sekali tidak keberatan. Rocky hanya takut Ivy jadi ketergantungan padanya. Hubungan mereka terlalu dekat, sementara Rocky tidak tahu berapa lama lagi ia bisa terus menemani Ivy. Setelah sekolahnya usai, Rocky pasti akan bekerja dan tidak bisa lagi memiliki banyak waktu untuk Ivy. Ia takut pada saat itu Ivy akan mengalami kehilangan besar dan tidak ada lagi orang yang menjadi tempat gadis kecil itu bergantung.
Akhirnya Rocky mencoba menjawab pertanyaan Ivy dengan candaan. "Saat besar nanti kau akan malu kalau kekasihmu tahu kau selalu tidur denganku."
"Untuk apa aku malu?” balas Ivy cepat. “Saat aku besar nanti, aku akan jadi kekasihmu."
Mata Rocky melebar dan perlahan ia tersenyum geli. "Kau berpikiran begitu?"
"Ya." Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat.
Rocky mengusap pipi Ivy kemudian menggeleng pelan. "Quinny, kita tidak bisa jadi kekasih."
"Kenapa?" tanya Ivy kecewa.
"Karena kita saudara. Dan saudara tidak boleh jadi kekasih."
Ivy mengernyit. Wajahnya terlihat sangat serius. "Aku tidak mengerti."
Rocky tersenyum kecil lalu menepuk kepala adiknya. "Saat besar nanti kau akan mengerti."
"Jadi boleh aku tidur di kamarmu?" tanya Ivy di akhir percakapan tidak jelas mereka.
"Tidak.” Rocky menggeleng tegas. “Kemarin kau baru tidur di kamarku."
"Rocky jahat!" seru Ivy kesal. Ia memukul meja lalu mendorong kasar kursinya ke belakang.
"Hei, Quinny! Kau mau ke mana?" Rocky begitu terkejut melihat ledakan emosi adiknya.
Ivy menatap marah pada Rocky, mengentakkan kaki, lalu langsung berbalik badan dan meninggalkan sang kakak. "Aku benci Rocky!"
"Kau boleh membenciku, tapi habiskan dulu makanmu!" seru Rocky.
"Tidak mau!" Ivy berteriak kesal sambil menaiki tangga, langsung menuju kamarnya dan mengurung diri di sana.
Namun kekesalannya pada Rocky tidak menghalangi langkah Ivy untuk mencari sang kakak saat ia ketakutan di tengah malam. Tanpa ragu Ivy masuk ke kamar Rocky dan naik ke atas tempat tidur kakaknya.
"Rocky …," bisik Ivy hati-hati.
"Ada apa?" tanya Rocky dengan suara berat.
"Aku bermimpi buruk lagi."
Rocky mencoba membuka mata dan menatap wajah Ivy yang duduk di sisinya. "Kau menangis?"
Ivy mengangguk berkali-kali sambil memeluk boneka kesayangannya. "Aku takut sekali."
"Kemarilah." Rocky merentangkan tangan sebagai tanda ia mengizinkan Ivy untuk tidur bersamanya malam ini.
"Boleh aku tidur di sini?" tanya Ivy ragu.
"Tidurlah."
Rocky tidak tahu berapa lama ia duduk termenung di sisi tempat tidur Ivy, sementara pikirannya terus mengembara ke masa kecil mereka. Rocky begitu terlarut dalam lamunannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa Ivy terbangun dan balas memandanginya dalam diam.
Untuk beberapa saat, Ivy tidak bereaksi sama sekali. Setelah menit-menit berlalu, akhirnya gadis itu tidak tahan untuk terus diam. "Sedang apa di sini?"
Rocky tersentak. Ia benar-benar terkejut karena tidak menyadari jika Ivy sudah bangun, belum lagi kepalanya sedikit pening akibat beberapa gelas alkohol yang ditenggaknya bersama Aaron tadi.
"Kau mau apa?" Ivy kembali bertanya.
"Tidak bisakah kau kembali seperti dulu?" gumam Rocky sangat pelan.
"Apa?" Ivy mengernyit bingung. Ia tidak bisa menangkap perkataan Rocky yang terdengar samar itu.
"Tidak ada.” Rocky menggeleng cepat. “Lupakan."
"Keluarlah. Aku tidak nyaman ada kau di sini," usir Ivy kejam.
Jika biasanya Rocky akan tersinggung dengan perkataan pedas Ivy, kali ini ia hanya mendengkus geli. "Seingatku dulu kau selalu ingin kutemani."
"Itu dulu. Sudah sangat lama. Bahkan aku sudah hampir lupa," bantah Ivy cepat.
Alih-alih menuruti permintaan Ivy untuk meninggalkan kamar gadis, Rocky malah merebahkan dirinya di tempat tidur. Entah karena pengaruh alkohol yang membuat Rocky kehilangan akal sehat, atau lamunannya tadi membuatnya terlena.
Perlahan Rocky berbaring miring menghadap Ivy, memandangi gadis itu dengan tatapan sendu kemudian berbisik lirih, “untuk malam ini saja, biarkan aku di sini.”