“Gimana kabarmu, Kembang?” Suara Seruni terdengar segar di seberang telepon. Pagi itu, Kembang sengaja menghubungi sahabatnya itu demi mengurai pelik hatinya sendiri. Tentang Bos Besar yang tiap hari makin membuatnya kelimpungan. “Sehat, Run. Ragaku. Jiwaku …entah.” Wanita itu membuang napas kasar, lalu berjalan dari sandaran balkon untuk mengambil duduk di kursi santai di sana. “Ha-ha-ha. Kenapa emangnya? Pak Bos galak, ya?” tanya Seruni lagi. “Iya. Makin dia galak, makin bikin aku deg-degan. Sumpah, Run. Di hadapan dia, semuanya jadi nggak terkendali. Termasuk nafsuku,” jelas Kembang panjang lebar. Seruni makin kencang tertawa. Ia tak menyangka jika pada akhirnya seorang Kembang merasakan debaran itu. Hal yang selalu wanita itu hindari demi terus bisa berdiri dengan kakinya se

