“Cewek Es Juanda Tower?” Thalia mengulang kalimat dari pengeras suara ponsel itu dengan nada yang sangat dingin, membuat suasana meja kafe mendadak hening.
Pandangan mata Thalia mengunci rapat wajah Valen. Suara heboh Kenzo yang tadinya memenuhi ruang di antara mereka seketika lenyap begitu Valen dengan gerakan panik menekan tombol merah di layar ponselnya. Kepanikan yang sangat jarang menghinggapi seorang Chief Pilot berpengalaman kini terpancar jelas dari gestur canggung pria itu.
Valen mengusap tengkuknya, meletakkan ponselnya telungkup di atas meja kayu. “Maaf ... banget. Co-pilot saya memang suka ngomong ngawur kalau di luar jam kerja.”
Thalia tidak langsung merespons. Ia memperbaiki posisi duduknya, menyilangkan d**a sambil menatap pria di depannya dengan pendar mata yang amat sukar dibaca. Di balik ketenangannya yang terlatih menghadapi situasi darurat di menara, jantung Thalia sebenarnya sempat berdegup lebih kencang. Ia harus menahan diri rapat-rapat agar identitas aslinya sebagai petugas ATC yang dijuluki "Cewek Es" itu tidak terbongkar begitu saja di meja kafe ini.
“Cewek Es ...” Thalia bergumam pelan, berpura-pura mengunyah istilah itu dengan dahi berkerut halus. “Panggilan yang cukup kasar buat seorang profesional yang bertugas menjaga keselamatan lalu lintas udara.”
Valen menarik napas pendek, merasa serba salah di hadapan wanita asing yang tampaknya sangat menghargai profesi penerbangan ini. “Sebenarnya itu cuma seloroh internal antar-pilot. Nggak ada maksud menghina sama sekali. Cuma ... ya, tahu sendiri kan gimana kebiasaan anak-anak kalau lagi nongkrong di lounge?”
“Artinya kamu dan teman-teman kamu biasa ngasih julukan sembarangan ke petugas yang menjalankan tugasnya dengan disiplin?” potong Thalia datar, suaranya tetap mengalun halus namun menusuk tepat di sasaran.
“Bukan begitu,” bela Valen cepat, memajukan tubuhnya untuk meluruskan kesalahpahaman. “Petugas yang kami maksud itu punya reputasi luar biasa tegas di Juanda. Dia nggak pernah toleransi kesalahan readback, nggak suka basa-basi, dan keputusannya selalu tepat demi keselamatan. Buat sebagian pilot yang terbiasa santai, ketegasan seperti itu sering dianggap dingin. Makanya muncul julukan seperti itu.”
Thalia menatap Valen lebih dalam, mencoba membaca kejujuran dari raut wajah pria itu. “Dan menurut kamu sendiri, julukan itu pantas?”
Valen terdiam sejenak, menatap cangkir kopinya lalu kembali menatap sepasang mata tajam wanita di depannya. Sama sekali tak terlintas di benak sang kapten bahwa wanita berkaus rajut krem yang diajaknya mengobrol santai ini adalah sosok yang sama di balik konsol radar.
“Jujur? Awalnya saya pikir dia memang cuma wanita kaku yang membenci obrolan ramah,” aku Valen tulus. “Tapi setelah mendarat kemarin sore dan mengalami sendiri bagaimana presisinya dia mengatur lalu lintas taxiway ... saya justru kagum.”
Thalia mengangkat sebelah alisnya, berpura-pura tidak tahu. “Kagum?”
“Iya,” sahut Valen jujur. “Dia menolak permintaan jalur pintas saya bukan karena jutek atau ingin pamer wewenang, tapi karena dia melihat bahaya yang terhalang dari pandangan saya di kokpit. Dia profesional sejati. Julukan 'Cewek Es' itu cuma bentuk ketidakmampuan sebagian pilot untuk memahami betapa beratnya beban tanggung jawab di menara.”
“Tapi bukannya ucapan co-pilot kamu tadi mengindikasikan kalau kalian sering menjadikan cara kerjanya sebagai bahan lelucon?” desak Thalia, menguji seberapa jauh Valen membela atau menoleransi kebiasaan rekan-rekannya.
Valen menggeleng pelan, raut wajahnya mengeras tipis mengekspresikan keseriusannya. “Bagi sebagian orang mungkin itu terdengar kayak lelucon ringan, tapi saya pribadi selalu ngingetin Kenzo dan yang lainnya kalau tugas kontroler itu batas antara hidup dan mati. Kami di kokpit cuma megang satu pesawat, sementara dia di menara megang belasan pesawat sekaligus dalam satu waktu yang sama.”
“Lalu kenapa kamu membiarkan dia menyebut julukan itu di ponsel?” tanya Thalia lagi.
“Karena panggilan tadi tiba-tiba dan saya nggak sempat menyaringnya,” ujar Valen dengan nada penyesalan yang jujur. “Saya salah nggak mengantisipasi ucapan Kenzo di tempat umum seperti ini.”
Mendengar pembelaan tulus dan pengakuan salah dari mulut Valen sendiri, ada getaran aneh yang menyusup halus di d**a Thalia. Pria bersuara hangat di depannya ini ternyata tidak menyimpan dendam atas penolakannya di udara. Malah sebaliknya, ia memahami alasan logis di balik ketegasannya.
Namun, Thalia menyadari situasi ini sudah terlalu berisiko. Makin lama ia duduk di meja ini, makin besar kemungkinan Valen akan menyadari siapa sebenarnya wanita di hadapannya. Dunia aviasi itu terlampau sempit, dan Thalia tidak ingin kehidupan pribadinya bercampur aduk dengan persepsi kerja di menara.
“Dunia aviasi ternyata memang sesempit itu ya,” ujar Thalia pelan sambil merapikan posisi bukunya di atas meja.
Valen tersenyum tipis, masih menyangka wanita di depannya hanyalah pengamat atau pekerja industri aviasi biasa. “Sangat sempit. Mau lari ke mana pun, ujung-ujungnya kita ketemu orang yang sama atau ngebahas hal yang sama. Apalagi di Surabaya.”
“Mungkin itu tanda kalau semua orang di aviasi memang saling terhubung lewat disiplin yang sama,” komentar Thalia lirih.
“Bisa jadi,” balas Valen lembut. “Dan kadang perjumpaan tak sengaja kayak gini bikin kita makin paham sudut pandang orang lain yang sebelumnya nggak pernah kita kenal secara personal.”
“Tapi percakapan ini harus selesai di sini,” kata Thalia tegas. Ia menutup buku tebal karangan Profesor Hawkins itu, memasukkannya ke dalam tas kain yang bersandar di kakinya.
Valen terkejut melihat perubahan gerakan wanita di depannya yang begitu mendadak. “Lho? Kok buru-buru? Hujannya di luar masih lumayan deras.”
“Gerimisnya udah mereda,” balas Thalia tanpa melihat keluar jendela. Ia meraih cangkir cappuccino-nya yang tinggal tersisa sedikit, meminumnya habis, lalu berdiri dari kursi. “Aku ada urusan lain yang harus diselesaikan.”
“Tapi jalanan di luar pasti masih basah dan licin,” cegah Valen halus, ikut memperbaiki posisi duduknya seolah ingin menahan kepergian sang wanita. “Nggak mau nunggu sebentar lagi sampai benar-benar terang?”
“Saya biasa bergerak tepat waktu, bukan menunggu cuaca sempurna,” jawab Thalia cepat.
“Tunggu sebentar,” Valen akhirnya ikut berdiri, memegang tepi meja. Ada rasa tidak rela yang ganjil saat melihat wanita cerdas itu bersiap pergi begitu saja. “Paling nggak, boleh saya tahu nama kamu? Rasanya aneh banget udah ngobrol panjang lebar soal aviasi tapi saya bahkan nggak tahu harus memanggil kamu apa.”
Thalia menatap Valen untuk terakhir kalinya sore itu. Sebuah senyum sangat tipis—hampir tak berbekas—terukir di bibirnya. “Bukannya misteri itu bikin obrolan di kafe jadi lebih berkesan?”
“Tapi misteri tanpa nama bikin orang makin kepikiran,” sahut Valen dengan senyum simpul yang amat hangat.
“Kalau memang takdir aviasi itu sempit seperti kata kamu tadi, mungkin suatu hari kita bakal ketemu lagi tanpa sengaja,” kata Thalia penuh arti.
Sebelum Valen sempat membalas argumen itu, Thalia sudah menyampirkan tasnya di bahu dan melangkah cepat melewati deretan meja kafe. Derap langkahnya anggun dan teratur, menyibak kerumunan pengunjung yang masih bertahan menghindari hujan.
Valen berdiri terpaku di tempatnya, memandangi sosok berkaus krem itu menerobos gerimis tipis di luar pintu kaca kafe hingga menghilang di belokan jalan HR Muhammad. Pria itu menghembuskan napas panjang, lalu terkekeh pelan meratapi kegagalannya berkenalan.
“Misteri, ya?” gumam Valen pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Wanita yang unik.”
Valen kembali duduk di kursinya, meraih ponselnya untuk mengirim pesan teguran singkat pada Kenzo gara-gara panggilan cerobohnya tadi. Jemarinya menari cepat di atas layar sentuh, menutul tombol demi tombol untuk menumpahkan kekesalannya pada sang co-pilot.
“Ken, lain kali kalau telepon tolong jaga mulut lu. Omongan lu soal Juanda Tower bikin cewek yang lagi duduk di meja gue mendadak ilfil dan langsung pergi.”
Tak butuh waktu lama, balasan dari Kenzo masuk dengan deretan emotikon tertawa dan wajah panik.
“Lho? Sori Cap! Mana gue tahu lu lagi PDKT di kafe! Tapi tunggu ... cewek aviasi juga? Siapa Cap?”
Valen tidak membalas lagi pesan tersebut. Ia mengunci layar ponselnya, meletakkannya kembali di meja, lalu memanggil pelayan kafe untuk meminta tagihan sekaligus merapikan barang-barang pribadi di atas meja.
Saat memindahkan cangkir keramik bekas minum Thalia untuk merapikan tatakan kertas, mata Valen menangkap sebuah benda kecil yang tergeletak di bawahnya.
Sebuah pembatas buku berbahan kulit sintetis berwarna cokelat tua.
Benda itu sepertinya terselip dari dalam buku analisis krisis yang dibaca wanita tadi dan terjatuh tanpa disadari saat ia merapikan barang-barangnya. Valen mengambil pembatas buku itu, mengusap permukaannya yang halus dengan rasa penasaran yang kembali mencuat.
Di bagian ujung bawah pembatas buku tersebut, terukir rapi sebuah inisial dengan huruf emas yang elegan,
T.V.D.
Valen memandangi tiga huruf kapital itu dengan binar mata yang mendadak dipenuhi rasa penasaran luar biasa. Siapa pemilik inisial T.V.D. ini sebenarnya? Ibu jarinya mengusap ukiran inisial tersebut, sementara benaknya terus menerka-nerka tanpa sedikit pun menyadari bahwa wanita misterius itu adalah sang penguasa menara Juanda yang baru saja dipujinya.