Aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi udara kafe minimalis di kawasan HR Muhammad, Surabaya Barat, saat hujan gerimis mulai membasahi kaca luar.
Matahari sore tertutup awan mendung yang menggantung pekat di atas kawasan HR Muhammad. Rintik gerimis yang awalnya halus kini berubah menjadi ketukan-ketukan kecil berirama di kaca jendela besar sebuah kafe bernuansa kayu dan monokrom. Di sudut paling tenang ruangan, Thalia duduk memangku satu kakinya. Hari ini, baju seragam serba putih dengan tanda kepangkatan di bahu berganti dengan kaus rajut longgar berwarna krem netral yang memeluk santai tubuhnya. Konde rapi yang biasa menyanggul rambutnya di menara radar berganti menjadi kuncir kuda acak-acakan yang menyisakan beberapa helai anak rambut di sekitar pelipisnya.
Di hadapannya, cangkir keramik berisi cappuccino hangat masih menguapkan asap tipis. Jemari lentiknya perlahan membalik halaman buku tebal bersampul gelap tentang analisis krisis dan psikologi keputusan dalam penerbangan. Di luar jam kerjanya sebagai controller, Thalia adalah wanita biasa yang menyukai kesendirian dan ketenangan. Tidak ada desis sinyal radio, tidak ada tekanan angka-angka elevasi yang merayap di layar radar, dan tidak ada teriakan instruksi darurat.
Hanya ada aroma kopi, denting sendok yang bertabrakan pelan di meja sebelah, dan hujan yang berangsur menderas luar biasa.
Hujan deras yang turun tiba-tiba membuat suasana jalanan Surabaya Barat mendadak lumpuh. Dalam hitungan menit, pengunjung baru berbondong-bondong merangsek masuk ke dalam kafe untuk berteduh. Suasana sepi yang tadinya dinikmati Thalia lenyap seketika, berganti dengan dengung percakapan dan langkah kaki yang lalu lalang mencari tempat duduk.
Thalia menghela napas pelan, menggeser cangkirnya sedikit rapat ke dekat buku agar tidak tersenggol orang melintas. Semua meja di sekitar ruangan kini terisi penuh.
Seorang pria berjaket kulit hitam dengan kemeja kasual yang tergulung hingga siku melangkah perlahan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tangannya menggenggam sebungkus dokumen dan kunci mobil. Garis wajahnya tegas, dadanya bidang, dan rambutnya yang sedikit basah oleh rintik hujan disisir rapi ke belakang. Langkah kakinya terhenti tepat di depan meja kayu kecil yang ditempati Thalia.
Pria itu menatap satu-satunya kursi kosong di depan Thalia, lalu menatap sang wanita dengan senyum yang amat sopan.
“Permisi,” suara pria itu terdengar empuk, rendah, dan sangat jernih di tengah bisingnya hujan. “Maaf mengganggu waktunya. Kafe mendadak penuh banget di luar. Boleh saya menumpang duduk di kursi kosong ini? Saya cuma mau menghabiskan kopi sebentar sampai hujannya agak reda.”
Thalia mendongak dari bukunya. Tanpa seragam formal dan headset aviasi yang biasa melekat di telinganya, Thalia tak mengenali pemilik suara itu secara visual. Di matanya, pria di depannya hanyalah pengunjung kafe berpenampilan rapi yang bertutur kata santai dan tidak agresif.
“Boleh, silakan,” jawab Thalia singkat. Suaranya halus, namun tetap menyisakan nada datar yang irit ekspresi.
“Terima kasih banyak,” ujar pria itu—yang tak lain adalah Valen—sambil menarik kursi kayu di seberang Thalia. Ia meletakkan kunci mobil dan dokumennya di sudut meja, lalu melepas jaket kulit hitamnya, menyisa kemeja biru gelap yang pas di badannya.
Seorang pelayan kafe datang membawa cangkir manual brew pesanan Valen. Valen mengangguk ramah pada sang pelayan. “Terima kasih ya.”
Suasana di meja kecil itu sempat hening selama beberapa menit. Thalia kembali menunduk, berpura-pura fokus membaca deretan paragraf analisis keselamatan penerbangan di bukunya, walau ia sadar ada presensi seorang pria asing yang duduk sangat dekat di depannya.
Valen menyesap kopinya perlahan, lalu matanya secara tak sengaja menangkap judul buku tebal yang berada di atas meja Thalia. Alisnya terangkat tinggi, memancarkan binar ketertarikan yang tak bisa disembunyikan.
“Buku tentang Human Factors in Aviation Safety karangan Profesor Hawkins?” tanya Valen membuka percakapan. Suaranya terdengar ramah tanpa nada menggoda. “Buku yang cukup langka buat dibaca santai di sore hari yang hujan gini.”
Thalia menghentikan jemarinya yang hendak membalik halaman, lalu menatap pria di depannya dengan tatapan menelisik. “Kamu tahu buku ini?”
Valen menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Dulu sempat jadi salah satu literatur wajib waktu saya ambil lisensi tingkat lanjut. Jarang banget nemu orang awam yang mau pusing-pusing baca soal dinamika CRM dan kesalahan komunikasi di kokpit atau menara.”
“Aku bukan orang awam,” balas Thalia jujur, walau ia tak menyebutkan secara spesifik apa profesinya. “Dan bab tentang miscommunication ini materi yang sangat krusial. Kebanyakan insiden besar di udara itu berakar dari hal sepele, salah penafsiran satu kata di radio.”
Valen terkekeh pelan, mengangguk setuju. “Setuju banget. Kadang orang pikir terbang itu cuma soal mahirnya mengemudikan instrumen, padahal tujuh puluh persen keselamatan itu ada di kejelasan komunikasi antara manusia di bawah dan manusia di atas.”
Thalia memperhatikan gaya bicara pria di depannya. Pria ini tidak tebar pesona, tidak bernada pamer, dan memilih kata dengan sangat hati-hati namun berbobot. Ada ketenangan yang matang dari cara bicaranya.
“Kamu sendiri kerja di industri aviasi?” tanya Thalia penasaran, menggeser bukunya sedikit ke samping.
“Bisa dibilang begitu,” sahut Valen dengan mata berbinar jenaka. “Saya orang yang sering kena semprot kalau salah baca instruksi dari orang-orang teknis di darat.”
Thalia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman langka yang hampir tak pernah dilihat oleh rekan-rekan kerjanya di menara Juanda. “Bagus dong kalau disemprot. Artinya orang daratnya peduli sama keselamatan kamu.”
“Tapi kadang teguran dari orang darat itu dinginnya melebihi pendingin udara di ruangan, lho,” goda Valen sambil menyeringai tipis. “Bikin panik sendiri kalau nadanya udah kayak robot tanpa emosi.”
“Itu bukan dingin, tapi profesional,” bela Thalia cepat, langsung mengambil posisi mempertahankan perspektif pekerja darat. “Di dunia navigasi, emosi itu gangguan. Makin tenang dan datar nada suaranya, makin jernih informasi yang ditangkap. Kalau petugasnya ikut panik atau banyak basa-basi, fokusnya bisa terpecah.”
Valen tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat hangat di tengah gemericik hujan yang membasahi kaca kafe. “Kamu membela pihak kontroler darat dengan sangat gigih ya. Apa semua pembaca buku Hawkins memang punya empati tinggi sama petugas menara?”
“Bukan cuma empati, tapi logika,” jawab Thalia datar, meski di dalam hatinya ia mulai menikmati percakapan kasual ini. “Nyawa ratusan orang di udara tergantung pada kepatuhan pilot terhadap instruksi darat. Kalau ada pilot yang coba-coba bercanda atau nawarin hal nggak penting di frekuensi sibuk, wajar banget kalau langsung dipotong.”
Valen hampir saja menyemburkan kopi yang baru dihirupnya. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu saat ia menawarkan kopi secara asal di radio Juanda. “Wah, rasanya kayak lagi disidang langsung sama orang menara.”
“Aku cuma menyampaikan fakta,” kata Thalia santai sambil menyesap cappuccino-nya yang mulai dingin.
“Tapi sejujurnya, kamu ada benarnya,” ujar Valen dengan nada yang lebih lembut dan tulus. “Kerja sama di aviasi memang butuh saling pengertian. Pilot di atas punya keterbatasan jarak pandang, sementara petugas di bawah punya gambaran utuh lewat radar. Kalau keduanya saling egois, fatal akibatnya.”
Thalia menatap pria di depannya lebih lekat. Wawasan pria ini terasa begitu padat, dan sudut pandangnya menunjukkan bahwa ia memiliki pengalaman lapangan yang amat matang.
“Jarang ada pilot atau praktisi yang mau mengakui kalau pandangan mereka terbatas dari kokpit,” puji Thalia jujur.
“Pengalaman bikin orang belajar buat menurunkan ego,” balas Valen pelan. “Makin lama kita di udara, makin kita sadar kalau kita ini cuma manusia kecil yang bertumpu pada sistem dan bantuan orang-orang di darat.”
Hujan di luar semakin deras, melukis tirai air yang membiaskan lampu-lampu jalanan HR Muhammad menjadi pendar keemasan yang indah. Di dalam kafe, suasana canggung yang tadi sempat menyelimuti meja kecil itu perlahan mencair, berganti dengan kehangatan obrolan dua orang asing yang menemukan frekuensi pemikiran yang sama tanpa perlu menanyakan nama satu sama lain.
Thalia merasa nyaman. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia bisa berbicara santai tentang aviasi tanpa perlu dibebani oleh rasa tegang atau tanggung jawab operasional. Pria di depannya memiliki tutur kata yang tenang, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan tidak berusaha mendominasi percakapan.
Valen pun demikian. Ia sangat terkesan dengan ketajaman berpikir dan cara pandang wanita di depannya. Di mata Valen, wanita berkaus rajut krem ini bukan cuma cantik secara alami, tapi juga memiliki kecerdasan yang membuat tiap detik obrolan terasa bernilai.
“Ngomong-ngomong, kopi kamu udah dingin tuh,” tunjuk Valen ramah pada cangkir Thalia. “Mau saya pesankan cangkir kedua? Saya yang bayar sebagai tanda terima kasih udah diizinkan numpang duduk di meja ini.”
Thalia menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. “Nggak perlu, terima kasih. Satu cangkir cukup buat sore ini.”
“Paling nggak biarkan saya bayar minuman yang ini,” paksanya lembut.
Thalia baru saja hendak membuka mulut untuk menolak tawaran ramah itu ketika tiba-tiba sebuah nada dering nyaring memecah suasana meja mereka.
Ponsel pintar milik Valen yang tergeletak di atas meja kayu bergetar kencang, menayangkan panggilan masuk dari kontak bernama 'Kenzo Co-Pilot'.
Valen menggeledah saku kemejanya mencari earphone, namun tak menemukannya. Karena suara bising kafe dan hujan yang lebat, secara refleks Valen menekan tombol terima dan mengaktifkan mode pengeras suara (speaker) agar bisa mendengar dengan jelas.
“Halo, Ken? Ada apa?” tanya Valen santai.
Suara Kenzo langsung menyembur keluar dari pengeras suara ponsel dengan volume yang terlampau kencang dan intonasi khasnya yang heboh.
“Cap! Lu udah sampai Apart belum? Lusa kita ada jadwal terbang bareng lagi nih dari Jakarta balik ke Juanda. Siap-siap disemprot sama Cewek Es Juanda Tower kalau lu coba-coba ngajak ngopi di radio lagi!”
Suara Kenzo memantul jernih di atas meja kecil itu.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti bergerak.
Thalia yang baru saja hendak menyedot kopinya mendadak menghentikan seluruh pergerakannya. Jemarinya membeku di sekitar cangkir. Mata cokelat tuanya perlahan melebar, lalu mendongak menatap tajam, dingin, dan penuh keterkejutan ke arah pria bersuara hangat yang duduk tepat di hadapannya.
Valen terpaku, matanya bertabrakan langsung dengan tatapan mematikan milik Thalia yang seketika berubah seratus delapan puluh derajat menjadi setajam es batu.