BAB 4

1330 Kata
“Siapa sih pilot bus terbang tadi? Sok akrab banget di frekuensi!” Thalia mengomel sambil memijit tengkuknya yang pegal di ruang istirahat gedung Air Traffic Services (ATS). Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa kulit yang agak terkelupas di sudut ruangan. Segelas teh hangat yang baru diseduh menguapkan aroma melati, tapi sama sekali tak berhasil menurunkan suhu kepalanya yang mendadak hangat gara-gara insiden di ujung shift tadi. Ria yang baru keluar dari pantry membawa secangkir cokelat panas langsung tertawa lepas. Suara tawa rekannya itu menggema tipis di antara deretan loker besi. “Aduh, Tha ... muka kamu melipat gitu makin kelihatan seram, tahu enggak?” goda Ria sambil mengambil tempat duduk di seberang Thalia. Ia menyilangkan kaki santai. “Kamu beneran enggak tahu siapa yang baru kamu cuekin di radio tadi?” Thalia menaikkan sebelah alisnya, meminum tehnya perlahan. “Memangnya harus tahu? Bagi aku, mau yang bawa pesawat itu pangeran inggris atau sopir angkot penerbangan, kalau kodenya Indonesia 812 ya tetep cuma satu titik hijau di layar radar.” “Aduh, dasarnya cewek es ya begini nih,” Ria menggeleng-gelengkan kepala, gelak tawanya belum sepenuhnya reda. “Itu tadi tuh Kapten Valen! Valen Radcliffe Aksara! Pilot emas kesayangan maskapai yang fotonya terpampang gede di spanduk promosi penerbangan internasional itu!” Thalia hanya bergemuruh pelan di tenggorokan, berpaling menatap keluar jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan apron bawah di bawah remang lampu sorot. “Terus kalau dia pilot emas, aku harus kasih dia karpet merah pas mau parkir? Aturan aviasi enggak kenal istilah kasta, Ri.” “Bukan soal kastanya, Tha,” sela Ria gemas, memajukan badannya. “Maksud aku, dia itu sosok yang lagi ramai banget dibicarakan di lingkungan bandara ini. Tampan, karirnya melesat cepat, Chief Pilot muda, dan dengar-dengar dia baru aja resmi pindah domisili buat menetap di Surabaya. Anak-anak ground handling cewek sampai pramugari senior aja pada heboh tiap kali tahu jadwal terbangnya landing di sini.” “Oh ya? Bagus dong kalau dia menetap di sini,” sahut Thalia datar tanpa minat. “Artinya dia bakal sering ngerasain gimana ketatnya standar navigasi ruang udara Juanda, jadi enggak bakal coba-cabal ajak ngopi di radio lagi.” “Kamu itu beneran enggak ada celah romantisnya sedikit pun ya?” cibir Ria sambil menyesap cokelat panasnya. “Dia ajak ngopi lho tadi. Walau bercanda, nada suaranya itu lho ... dalam banget. Kalau cewek lain yang pegang konsol kamu tadi, mungkin udah salah pencet tombol push-to-talk gara-gara gemetaran.” “Satu detik salah pencet tombol di konsol itu taruhannya nyawa penumpang, Ri,” tegur Thalia serius, menatap tajam rekannya. “Lagian suara bagus enggak bisa digakai buat ngehindarin near-miss di udara. Di atas sana cuma ada data presisi, bukan tebar pesona.” Ria mendesah pasrah, menyandarkan kepala di sandaran kursi. “Iya, iya, Bu Supervisor. Tapi awas aja ya kalau suatu hari kamu kualat sama ucapan sendiri.” Sementara itu, di tempat terpisah yang dipisahkan oleh bentangan landasan dan beberapa blok bangunan, suasana di Crew Lounge Terminal 2 terasa jauh lebih hangat. Bau harum aroma kopi mesin dan wewangi parfum mahal memenuhi ruangan berdinding kaca tersebut. Valen duduk di salah satu sudut meja kayu, sibuk memasukkan dokumen penerbangan dan tablet navigasinya ke dalam tas koper hitam milik penerbang. Seragam kaptennya masih rapi melekat, meski dua kancing teratas kemeja putih berlengan panjangnya sudah ia buka untuk memberi sedikit kelonggaran bernapas. Di sebelahnya, Kenzo masih tak berhenti menyengir. “Gimana rasanya diasingkan oleh suara emas menara, Cap?” bisik Kenzo melirik sekeliling lounge yang agak ramai oleh para kru pesawat lain. “Serius deh, saya masih belum bisa lupa gimana cepatnya dia memutus transmisi pas Captain tawarkan kopi.” Valen terkekeh tipis tanpa mengalihkan pandangan dari riset dokumennya. “Dia cuma jalanin tugasnya dengan sangat profesional, Ken. Lagian salah saya juga bercanda di frekuensi resmi.” “Bercanda tapi niat kan?” goda Kenzo lagi. Sebelum Valen sempat membalas, sebuah langkah kaki beritme anggun mendekati meja mereka. Seorang wanita berparas jelita dengan seragam pramugari senior—lengkap dengan tiga garis emas di lengan jasnya dan papan nama bertuliskan Nadia—tersenyum manis sambil membawa dua cangkir kertas berisi minuman hangat yang masih menguapkan asap. “Malam, Kapten Valen,” sapa Nadia dengan suara yang diatur sedemikian lembut. Muka anggunnya dipoles riasan sempurna yang menonjolkan kecantikannya. “Pendaratan sore tadi mulus banget seperti biasa. Saya lihat Kapten kelihatan agak lelah, jadi saya inisiatif ambilkan Americano hangat dari kafe depan.” Nadia meletakkan salah satu cangkir tepat di samping jemari Valen, lalu menyunggingkan senyum penuh arti yang biasa berhasil memikat para kru penerbangan. Di sudut lounge lain, beberapa pramugari junior tampak melirik-lirik penasaran, mengamati interaksi senior mereka dengan sang kapten idola. Kenzo berdehem pelan, pura-pura sibuk memeriksa ponselnya agar tak mengganggu. Valen menatap cangkir kopi itu sejenak, lalu mendongak menatap Nadia. Wajah kapten itu tetap mengumbar senyum ramah yang sangat sopan, namun ada jarak tak kasat mata yang terbentang sangat tegas di dalam tatapan matanya. “Terima kasih banyak, Mbak Nadia,” ujar Valen dengan intonasi yang begitu formal, sengaja menggunakan panggilan resmi untuk menegaskan batas. “Tapi maaf, saya baru saja minum air putih dan sebentar lagi mau langsung pulang ke apartemen. Kopinya bisa buat Kenzo saja, dia sepertinya butuh kafein buat perjalanan pulang.” Senyum manis di wajah Nadia seketika membeku. Matanya berkedip lambat, tak menyangka perhatian khusus yang ia berikan secara terang-terangan justru ditolak begitu halus di depan umum. “Oh ... begitu ya, Cap?” sahut Nadia berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang, walau ada guratan kekecewaan yang gagal ia tutupi. “Nggak apa-apa kok. Mungkin lain kali kalau kita ada jadwal flight bareng lagi.” “Tentu. Terima kasih perhatiannya,” balas Valen singkat, lalu kembali menutup retsleting tas kopernya. Ia berdiri dari kursi, meraih jaket penerbangnya, dan mengangguk sopan pada Nadia. “Saya duluan ya, Kenzo, Mbak Nadia. Selamat beristirahat.” Valen melangkah pergi meninggalkan area lounge dengan langkah tegapnya yang tenang. Di belakangnya, Nadia berdiri kaku sambil mengepalkan jemarinya pelan. Ia menahan kesal luar biasa saat menyadari lirikan dan bisikan halus dari para pramugari junior di meja sudut yang menyaksikan penolakan dingin dari sang kapten. Kenzo yang ditinggal sendirian hanya bisa meringis canggung. Ia meraih cangkir kopi pemberian Nadia sambil tersenyum kelelahan. “Makasih kopinya ya, Mbak Nadia. Kapten Valen memang kalau habis terbang bawaannya pengen cepet sampai rumah.” Valen berjalan menyusuri koridor panjang penghubung utama yang menghubungkan kompleks gedung operasional bandara dengan area parkir khusus karyawan. Koridor itu sepi di jam-jam pergantian shift malam, hanya dihiasi derap langkah sepatunya yang memantul di atas lantai granit yang mengilap. Udara malam Surabaya yang hangat menyapu wajahnya saat ia melewati area selasar terbuka. Ia membetulkan letak tali tas di bahunya, menikmati kesendirian sejenak setelah berjam-jam berada di ruang kokpit yang penuh dengan suara instrumen. Dari arah berlawanan, langkah kaki berirama konstan terdengar mendekat. Seorang wanita berkonde rapi dengan seragam putih resmi bernoda tanda kepangkatan Air Traffic Controller sedang berjalan lurus. Wanita itu memegang map berkas di tangan kirinya, tatapannya fokus mengarah ke depan tanpa sedikit pun melirik kanan-kiri. Valen melambatkan langkahnya secara refleks saat menyadari seragam resmi yang dikenakan wanita itu. Jarak mereka menyusut cepat di koridor yang redup. Tepat saat mereka berpapasan di bawah pendar lampu koridor utama, wanita itu mendongak tipis. Tatapan mata mereka sempat beradu secara langsung. Dua detik. Dua detik yang terasa melambat di mana Valen menatap sepasang mata cokelat tua yang begitu jernih, tajam, dan tidak memiliki riak emosi— persis seperti karakter suara dingin yang baru saja menuntun pendaratan pesawatnya beberapa puluh menit lalu dari balik konsol radar. Thalia tak menghentikan langkahnya sama sekali. Ia bahkan tak mengubah ekspresi wajahnya, menatap Valen seolah-olah pria berseragam kapten di depannya itu hanyalah tiang koridor yang kebetulan lewat. Wanita itu berlalu begitu saja, meninggalkan wangi aroma teh melati yang samar menembus udara malam. Valen menghentikan langkahnya, berbalik perlahan untuk menatap punggung wanita berkonde rapi itu yang terus menjauh tanpa pernah menengok ke belakang. Senyum tipis yang penuh teka-teki kembali terukir di sudut bibir sang kapten.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN