BAB 3

1447 Kata
“Juanda Ground, Indonesia 812 clear of runway 10 via taxiway Alpha. Request taxi to stand T2-04 via shortcut Alpha-Three,” ucap Valen di frekuensi darat. Decitan halus roda pesawat membelah landasan pacu utama Juanda. Muka pesawat A330 itu meluncur mulus tanpa hentakan keras. Di dalam kokpit yang berguncang pelan, Valen mengeksekusi pendaratan mulus dengan tingkat presisi yang luar biasa. Pesawat raksasa berbobot ratusan ton itu berangsur melambat, menundukkan hidungnya anggun sebelum siap berbelok menuju jalur pergerakan darat. Kenzo di sebelah kirinya menghela napas lega sambil merapikan lembaran daftar periksa pasca-pendaratan. “Touchdown yang mulus, Cap. Cantik banget. Saya bertaruh penumpang di belakang bahkan enggak sadar kalau roda kita sudah menyentuh aspal.” “Terima kasih, Ken,” balas Valen tipis, jemarinya lincah mengontrol tuas tenaga untuk mempertahankan laju pelan pesawat. “Sekarang tinggal urusan parkir. Rute utama penerusan darat sore ini padat. Kalau kita dapat jalur pintas Alpha-Three, kita bisa pangkas waktu lima sampai delapan menit.” “Setuju banget, Cap. Lumayan banget buat mempercepat waktu putar penerbangan pesawat buat jadwal berikutnya,” sahut Kenzo sembari memeriksa panel indikator mesin yang berangsur stabil. “Apalagi kru kabin pasti sudah mau buru-buru istirahat.” Di menara kontrol, Thalia duduk menatap layar radar darat yang menampilkan pergerakan titik-titik kendaraan dan armada di area parkir pesawat. Begitu frekuensi berpindah dari pengatur ruang udara ke pemandu area darat, suara berat Valen kembali mengalun jernih di headset-nya. Ria yang duduk di sebelah Thalia melirik layarnya sendiri lalu berbisik, “Wah, si Kapten Ganteng minta jalur pintas tuh, Tha. Minta lewat Alpha-Three. Dikasih enggak?” “Jalur lintasan pesawat bukan soal dikasih atau enggak berdasarkan selera, Ri,” balas Thalia tanpa berpaling dari monitornya. “Tugas kita itu memastikan alur pergerakan darat enggak macet dan tetap aman.” Thalia tak langsung menyetujui permintaan tersebut. Matanya dengan cepat memindai sudut sektor kargo, sekitar lima ratus meter dari posisi A330 milik Valen. Sebuah pesawat kargo raksasa Boeing 747 baru saja menyalakan lampu navigasinya, bersiap melakukan dorongan mundur keluar dari pangkalan parkir kargo. Thalia membetulkan posisi mikrofonnya. “Indonesia 812, Juanda Ground. Negative on shortcut Alpha-Three. Taxi to stand T2-04 via main taxiway Bravo and Echo.” Di kokpit, Valen mengerutkan dahi. Ia melirik keluar kaca samping, menatap bentangan jalur Alpha-Three yang di mata telanjangnya tampak kosong dan lengang. Valen menekan tombol bicara. “Juanda Ground, Indonesia 812. Visual check, Alpha-Three appears clear from our side. We can expedite taxi to clear the runway exit area faster.” Thalia menatap titik sinyal pesawat Valen, lalu menjawab dengan intonasi yang dingin, stabil, dan sama sekali tak terpengaruh oleh posisi atau alasan logistik sang pilot. “Indonesia 812, I repeat, negative Alpha-Three,” potong Thalia tegas. “You have heavy cargo traffic preparing for pushback at Apron Bravo-South, hidden behind the hangar structure. Proceed via Bravo and Echo as instructed.” Kenzo melirik Valen sambil memiringkan kepala. “Cap, dia bilang ada kargo dorong mundur di balik hanggar. Radar darat mereka pasti memantau pergerakan kendaraan yang enggak kelihatan dari sudut pandang kita di bawah sini.” Valen terdiam sejenak. Ia sadar, dari ketinggian kokpit, pandangan lurusnya memang terhalang oleh benteng dinding bangunan hanggar pemeliharaan di sebelah kanan. Namun, ego profesionalismenya sempat membuatnya ingin memangkas waktu operasional maskapai. “Tapi dari sudut pandang fisik kita di sini, pergerakan kargo itu harusnya masih butuh jeda waktu beberapa menit sebelum benar-benar memotong jalur,” bisik Valen, menganalisis situasi di depannya. “Gimana, Cap? Mau mendebat lagi atau ikut arahan penguasa menara?” bisik Kenzo dengan cengiran samar. “Dia kayaknya enggak bakal kompromi soal rute darat deh.” Valen terkekeh pelan, mengakui ketegasan pemandu di darat ini. Ia membatalkan niatnya mendebat dan kembali menekan tombol bicara dengan nada yang amat kooperatif. “Copied, Juanda Ground. Taxiing to stand T2-04 via Bravo and Echo, Indonesia 812,” balas Valen pasrah. Valen memutar kemudi hidung pesawat, mengarahkan badan pesawat berbelok melebar menuju jalur pergerakan Bravo. Tepat saat moncong Airbus A330 itu berbelok penuh dan melewati batas bangunan hanggar, mata Valen dan Kenzo menangkap pemandangan di depan mereka. Sebuah pesawat kargo berbadan raksasa Boeing 747 perlahan-lahan bergerak mundur keluar dari tempat kargo, memotong tepat di jalur Alpha-Three yang beberapa detik lalu sempat diminta oleh Valen. Jaraknya sangat dekat dengan area persimpangan. Jika Valen memaksa masuk lewat Alpha-Three tadi, kedua pesawat raksasa itu dipastikan akan saling mengunci di persimpangan sempit, memicu kemacetan total di area pergerakan darat, atau bahkan risiko insiden gesekan sayap yang membahayakan. Kenzo menarik napas panjang, menepuk dadanya pelan. “Astaga ... pangeran kargo segede gitu beneran nongol. Perhitungannya tepat banget, Cap. Kalau tadi kita nekat masuk Alpha-Three, kita bakal terjebak di sana sejam lebih menunggu dia selesai dorong mundur.” Valen menatap pesawat kargo itu bergerak pelan di kejauhan. Rasa kagum yang tak terbendung membuncah di dadanya. Wanita di balik konsol radar itu bukan hanya sekadar menjalankan tugas dengan kaku, melainkan memiliki pengamatan situasi yang luar biasa tajam. “Perhitungannya sama sekali tak meleset,” gumam Valen dengan senyum tipis mengembang di bibirnya. “Dia enggak cuma melihat posisi kita, tapi juga memperhitungkan jeda waktu pergerakan armada lain yang bahkan belum kelihatan di mata kita.” “Makanya, Cap, jangan ragukan 'Cewek Es' Juanda,” kata Kenzo sambil tertawa pelan. “Di atas panggung darat ini, dia ratunya. Kita cuma penumpang yang dituntun.” “Ratu yang sangat teliti,” balas Valen penuh minat. “Dia membaca pergerakan darat kayak membaca papan catur.” “Tapi lumayan kan, Cap, kita terhindar dari potensi masalah besar,” tambah Kenzo sambil membetulkan posisi tali pengamannya. “Bisa-bisa kita dipanggil manajemen kalau sampai bikin antrean area parkir mengunci.” “Jelas,” sahut Valen. “Keputusan dia benar-benar menyelamatkan efisiensi penerbangan ini secara keseluruhan.” Pesawat Indonesia 812 terus merayap pelan mengikuti jalur melingkar Bravo dan Echo yang diarahkan oleh Thalia. Perjalanan menuju tempat parkir T2 berlangsung sangat lancar tanpa ada hambatan sedikit pun. Di ruang menara, Thalia mengawasi titik sinyal pesawat Valen yang akhirnya perlahan berhenti tepat di garis parkir T2-04. Petugas juru parkir darat di bawah sana sudah mulai mengangkat tongkat lampu menyambut pendaratan sempurna tersebut. “T2-04 occupied,” gumam Thalia sambil membetulkan catatan di layarnya. Ria menyenggol lengan Thalia lagi, mengunyah permen karetnya. “Nah kan, pas banget kan waktunya? Kalau tadi kamu turutin kemauan si Kapten, dua pesawat raksasa itu sudah saling berhadapan di persimpangan.” “Aturan di darat itu sebenarnya simpel kok, Ri,” kata Thalia datar sambil meminum sedikit airnya. “Siapa yang pandangannya terhalang, ya nurut saja sama yang memegang peta. Mau ngebut juga kalau bahaya buat apa?” “Tapi kan wajar kalau pilot senior kayak dia ingin cepat sampai pintu masuk,” bela Ria sambil tersenyum tipis. “Siapa sih yang enggak ingin buru-buru mendarat setelah terbang berjam-jam?” “Ingin cepat itu hal manusiawi, tapi tugas kita memastikan kecepatan enggak mengabaikan keselamatan,” sahut Thalia logis. “Iya deh, Bu Senior yang selalu benar,” goda Ria. “Tapi Kaptennya penurut juga ya akhirnya. Kirain bakal keras kepala kayak pilot-pilot senior lainnya yang suka ngotot di frekuensi.” “Dia profesional,” jawab Thalia singkat. “Dia tahu kapan harus bertanya, dan tahu kapan harus nurut.” “Btw, Tha, gaya bicaranya Kapten Valen di radio beneran tenang banget ya,” bisik Ria lagi, enggan menyelesaikannya. “Enggak terasa panik walau rutenya kita putar.” “Tugas mereka memang harus tenang di kokpit,” balas Thalia pendek. “Sama kayak kita di sini.” Thalia meraih mikrofon untuk menyerahkan wewenang pengawasan darat kepada petugas operasional lapangan setempat. “Indonesia 812, Juanda Ground. Positioned at stand T2-04. Contact Apron Control on 121.9 for engine shut down. Good day.” Di dalam kokpit, Valen memegang mikrofon transmisinya untuk terakhir kali sebelum mematikan sistem navigasi utama. Ia menatap ke arah bangunan menara kontrol yang berdiri megah di kejauhan, terbingkai oleh langit sore yang mulai memerah. Kenzo memperhatikan kaptennya sambil tersenyum geli. “Mau pamitan formal saja atau mau menambahkan sesuatu, Cap?” Valen menyunggingkan senyum khasnya, menekan tombol bicara sekali lagi. “Contacting Apron Control on 121.9, Indonesia 812. Terima kasih panduannya, Juanda Controller. Pendaratan mulus, jalanan aman. Lain kali kopi saya yang bayar.” Suara berat dan hangat itu bergema jernih di headset Thalia. Ria di sebelah Thalia langsung tertawa terpingkal-pingkal sambil menutupi mulutnya. “Bisa-bisanya dia mengajak ngopi di frekuensi resmi! Astaga, Thalia! Itu Kapten Valen beneran terang-terangan banget memancing kamu!” Thalia mendengarkan ucapan itu tanpa mengubah sedikit pun ekspresi di wajahnya. Namun di balik pandangan matanya yang lurus menatap layar radar, jemarinya sempat berhenti sepersekian detik di atas konsol. Thalia memutus saluran transmisi dengan tombol off, lalu hanya bisa memutar bola matanya malas menanggapi godaan halus tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN