“Checklist selesai, Kenzo. Mari kita sapa penguasa menara Juanda,” bisik Valen Radcliffe Aksara dari kursi kapten.
Di ketinggian dua puluh delapan ribu kaki, pendar cahaya matahari sore menembus kaca depan kokpit Airbus A330 yang mereka kemudikan, melukis warna keemasan di atas hamparan awan putih yang memanjang sejauh mata memandang. Pesawat berbadan lebar itu meluncur mulus, membelah langit Jawa Timur tanpa guncangan berarti. Valen menyandarkan punggungnya santai di kursi kemudi berbahan kulit, matanya yang tajam mengamati barisan indikator navigasi yang menyala tenang di panel instrumen utama.
Di sebelahnya, Co-Pilot Kenzo Braham sibuk membolak-balik lembaran dokumen pendaratan dan mengecek ulang perhitungan sisa bahan bakar di komputer penerbangan. Suara dengung mesin jet di luar terdengar seperti bisikan konstan yang menenangkan di dalam ruang kemudi yang hangat itu, menciptakan ritme kerja yang presisi sekaligus nyaman.
“Semua aman, Cap. Cuaca Juanda dilaporkan cerah berawan, angin tenang dari arah utara, jarak pandang di atas delapan kilometer,” kata Kenzo sambil merapikan papan jepit di pangkuannya. “Instrumen pendaratan juga beroperasi normal.”
Valen mengangguk pelan, membetulkan letak kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. “Bagus. Skenario pendaratan standar lewat rute biasa. Jangan sampai kita salah sapa di radio.”
Kenzo terkekeh kecil, lalu memiringkan kepala menatap kaptennya dengan cengiran penuh maksud. “Soal sapa-menyapa ini yang bikin deg-degan, Cap. Captain tahu enggak siapa yang pegang pemandu Juanda shift sore ini?”
“Mana saya tahu, Ken. Memangnya ada bedanya?” balas Valen santai. Jemarinya mengetuk-ngetuk tepi kemudi dengan ritme teratur, menikmati penerbangan sore yang relatif lancar ini.
“Beda banget!” seru Kenzo agak berbisik, memajukan tubuhnya seolah-olah percakapan mereka bisa bocor keluar jalur komunikasi internal. “Anak-anak di ruang tunggu keberangkatan tadi siang pada heboh bahas petugas pemandu Juanda yang satu ini. Julukannya di kalangan pilot armada kita itu ‘Cewek Es’.”
Valen menaikkan sebelah alisnya di balik kacamata hitamnya, tertawa samar. “Cewek Es?”
“Iya, Cap. Namanya Thalia kalau enggak salah. Katanya cantik luar biasa, tapi dinginnya minta ampun. Enggak mempan digoda, enggak suka basa-basi, dan yang paling serem ... dia paling benci kalau ada pilot yang salah ulang instruksi atau ngomong agak berantakan di radio. Sekali salah instruksi, langsung ditegur habis-habisan tanpa ampun di depan semua penerbangan lain.”
Valen menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. “Masa sih sekejam itu? Kamu percaya saja sama ocehan anak-anak. Mungkin dia cuma profesional saja, Ken. Tugas pemandu di darat itu berat, memegang keselamatan ratusan nyawa di udara dalam satu detik yang sama. Ya wajar kalau tegas dan tanpa kompromi.”
“Tegas sih tegas, Cap. Tapi ini tuh kelewat dingin,” desak Kenzo makin penasaran, seolah ingin meyakinkan sang kapten bahwa penguasa menara ini beda dari yang lain. “Kemarin Kapten Danu mencoba bercanda sedikit pas memutar pesawat di atas Madura, bukannya dibalas tawa, malah dijawab seadanya terus dikasih serangkaian instruksi yang ribetnya bikin kepala pusing. Saya jujur agak perih dengarnya pas ikut mendengarkan.”
“Lagian Kapten Danu ngapain bercanda di frekuensi sibuk?” tanggap Valen logis. “Frekuensi radio penerbangan itu jalur kritis, bukan tempat ngobrol di warung kopi. Kalau instruksinya padat, ya wajar kalau responsnya murni soal tugas.”
“Iya sih, tapi kan sedikit ramah enggak dosa, Cap,” ujar Kenzo belum mau kalah. “Masa bicara profesional harus kaku banget kayak mesin otomatis?”
Valen menatap layar instrumen utama, lalu melirik tombol transmisi radio di konsol tengah. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya—senyuman khas yang selalu muncul setiap kali ia menemukan tantangan menarik yang mengusik rasa ingin tahunya.
“Kamu percaya banget sama rumor bentukan anak-anak lounge,” kata Valen pelan. “Orang kalau dikasih sapaan yang hangat, sopan, dan berwibawa, masa iya tetap membalas pakai nada es batu? Komunikasi di kokpit sama menara itu kan dasarnya kerja sama tim, bukan ajang adu urat saraf.”
“Ah, Captain enggak percaya,” cibir Kenzo memancing. “Coba saja sendiri kalau berani. Sapa pakai nada biasa yang suka bikin para pramugari luluh itu. Kita lihat, es batu Juanda itu bakalan cair atau malah bikin kokpit kita makin beku.”
“Lihat dan pelajari, Kenzo,” ujar Valen percaya diri. “Ramah itu gratis, dan komunikasi yang luwes selalu bikin situasi kerja lebih lancar.”
Valen membetulkan posisi mikrofon pada headset-nya, lalu menekan tombol bicara di samping kemudinya. Ia sengaja menurunkan intonasi suaranya menjadi lebih rendah, hangat, mantap, dan sangat ramah—nada suara berkarakter yang biasanya selalu sukses melunakkan siapa saja yang mendengar di frekuensi penerbangan.
“Juanda Radar, Indonesia 812, Flight Level 280, Captain Valen Aksara on controls. Selamat sore, Juanda.”
Kenzo mendadak menahan napas, menatap layar radio seolah-olah wujud sang pemandu bakal muncul dari sana untuk memberikan reaksi.
Selama dua detik penuh, frekuensi hening. Hanya ada desis halus sinyal udara yang memenuhi headset mereka. Valen tersenyum makin lebar, menyandarkan punggungnya, merasa percaya diri bahwa sapaan ramahnya sedang diproses dengan baik di darat.
Lalu, sebuah suara wanita mengalun dari balik frekuensi radio. Suaranya jernih, tajam, teratur, dan sama sekali tidak memiliki riak emosi. Datar. Seperti pisau presisi yang memotong udara tanpa ragu.
“Indonesia 812, Juanda Radar. Identified. Maintain Flight Level 280. Turn left heading 120, descend and maintain Flight Level 180, cross position DELTA at or above Flight Level 200, speed 250 knots or less.”
Tidak ada kata ‘selamat sore’. Tidak ada tawa ramah. Tidak ada kompromi untuk basa-basi sedikit pun. Thalia melibas seluruh sapaan hangat Valen dalam sekejap dan langsung menyemburkan deretan instruksi penyesuaian arah, ketinggian, dan kecepatan penerbangan yang sangat ketat, rapat, serta berpresisi tinggi.
Kenzo yang berada di kursi sebelah langsung membekap mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan gelak tawa yang nyaris tumpah di dalam kokpit. Wajah sang co-pilot sampai memerah menatap kaptennya yang mendadak tertegun di tempat.
Valen mengedipkan matanya dua kali, menatap layar radio dengan pandangan tak percaya. Senyum percaya dirinya yang tadinya mengembang sempurna kini memudar seketika, berganti dengan rasa terkejut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sepanjang kariernya berkomunikasi dengan menara kontrol mana pun di seluruh wilayah udara nasional.
“Aduh, dingin banget, Cap,” bisik Kenzo mengejek dengan suara tertahan. “Langsung dikasih rentetan perintah navigasi lima lapis tanpa napas. Enggak dikasih celah buat tersenyum sama sekali.”
Valen dengan cepat menguasai dirinya kembali. Sebagai seorang pilot senior yang sangat berpengalaman, ia menekan kembali tombol bicara untuk memberikan tanggapan balik yang presisi dan wajib hukumnya dalam dunia penerbangan.
“Diisi Flight Level 180, turn left heading 120, cross DELTA at or above Flight Level 200, speed 250 knots, Indonesia 812,” jawab Valen dengan nada resmi yang kini jauh lebih rapi, patuh, dan sangat disiplin.
“Indonesia 812, readback correct. Report passing Flight Level 220,” balas Thalia lugas dari darat, lalu memutus transmisi begitu saja tanpa kata tambahan.
Suara klik dari frekuensi radio menandakan jalur komunikasi telah kembali sepi dan tertutup rapat.
Di dalam kokpit A330 yang meluncur deras di ketinggian dua puluh delapan ribu kaki itu, suasana mendadak hening untuk beberapa detik. Kenzo akhirnya tidak sanggup lagi menahan ledakan tawanya. Tawa sang co-pilot pecah memecah kesunyian ruang kemudi yang tadinya sangat formal.
“Pfft! Hahaha! Apa saya bilang, Cap!” seru Kenzo sambil menepuk paha tangannya sendiri dengan heboh. “Enggak mempan! Senjata suara emas Captain Valen Aksara mentok di depan tembok es Juanda! Dia bahkan enggak gubris ucapan ‘selamat sore’ dari Captain!”
Valen mematikan transmisi radio internalnya sejenak, lalu perlahan menoleh ke arah Kenzo. Alih-alih kesal, tersinggung, atau malu karena reputasinya dipatahkan dalam hitungan detik, sebuah tawa pelan justru keluar dari tenggorokannya. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi kapten, menatap pemandangan hamparan awan sore di luar kaca kokpit dengan binar mata yang jauh berbeda dari sebelumnya.
“Datar banget suaranya, Ken,” kata Valen sambil terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. Ia melepas kacamata hitamnya, menyelipkannya di kantung kemeja, lalu menatap indikator radar di depannya dengan minat yang sangat mendalam. “Tapi kok bikin penasaran, ya?”
“Aduh, Cap, jangan cari masalah deh,” jawab Kenzo geleng-geleng kepala, menatap sang kapten dengan hembusan napas cemas. “Perjalanan pendaratan kita masih panjang di ruang udara ini. Jangan sampai kita disuruh memutar di udara cuma gara-gara Captain penasaran sama penguasa menara.”
“Bukan cari masalah, Kenzo,” ujar Valen lembut sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna. “Ini namanya menghargai ketegasan. Jarang-jarang ada orang di darat yang bisa bikin saya penurut cuma dalam waktu sepuluh detik.”