BAB 8

1252 Kata
“Indonesia 812, maintain speed 210 knots. Trafik di depan Anda cukup padat,” instruksi Thalia dingin, kembali pada mode profesionalisme tanpa celah. Irama suaranya mengalun konstan di frekuensi radio, persis seperti standar prosedur navigasi udara yang baku. Tak ada getaran, tak ada keraguan. Dalam hitungan milidetik setelah kejutan awal melintas di dadanya, jemari Thalia sudah kembali menari di atas konsol, menekan tombol transmitter dengan kepastian seorang pengontrol berpengalaman. Di ketinggian sepuluh ribu kaki, suara datar namun amat jernih itu memenuhi ruang kokpit Airbus A330 milik maskapai nasional. Valen yang memegang kemudi langsung membetulkan letak headset-nya. Ada senyum tipis yang mendadak terukir di sudut bibirnya saat mendengar intonasi tajam namun sangat terstruktur tersebut. “Maintain speed 210 knots, Indonesia 812,” balas Valen melancarkan readback sempurna tanpa cela sedikit pun. Senyum Valen belum juga pudar saat ia menyesuaikan tuas kecepatan. Pola komunikasi kontroler di menara Juanda ini selalu berhasil memancing rasa kagumnya. Di tengah lalu lintas udara Surabaya yang terkenal padat dan perubahan cuaca yang kerap mengejutkan, nada suaranya tetap menjadi jangkar penenang yang amat presisi. “Cakep banget readback-nya, Cap,” celetuk Kenzo dari kursi sebelah kanan. Co-pilot muda itu melirik Valen dengan tatapan jenaka. “Tumben amat responnya secepat kilat gitu? Nada suaranya langsung berubah sepuluh kali lipat lebih penurut dari biasanya.” Valen tidak mengalihkan pandangan dari panel instrumen dan hamparan awan tipis di depan kaca kokpit. “Itu namanya kepatuhan pada prosedur, Ken. Dia ngasih instruksi jelas, ya kita eksekusi presisi. Makin cepat kita patuh, makin rapi alur pendaratan.” “Ah, masa cuma soal prosedur?” goda Kenzo, menaikkan kedua alisnya seraya menyenggol pelan lengan seragam Valen. “Perasaan kalau dipandu petugas menara yang cowok atau yang agak santai, Captain suka minta direct route atau izin potong kompas. Tapi kalau sama Suara Emas Juanda Tower ini ... wah, ampun Kapten! Penurutnya luar biasa. Kayak murid teladan di depan wali kelas super galak.” Valen terkekeh pelan, menepuk bahu co-pilot-nya itu. “Fokus ke instrumen, Ken. Awan Cumulonimbus di sektor utara itu makin pekat. Jangan bikin fokus kita terpecah cuma gara-gara mau bercanda di ruang kokpit.” “Siap, Pak Chief Pilot!” sahut Kenzo setengah bergurau, walau matanya kini kembali sigap memperhatikan indikator navigasi. “Tapi serius deh, Cap. Cara dia ngatur trafik siang ini beneran berkelas. Tegas, irit kata, tapi bikin lega yang bawa pesawat.” “Makanya saya pernah bilang ke kamu,” ujar Valen dengan nada lebih lembut, teringat percakapannya dengan wanita misterius di kafe kemarin. “Orang yang punya dedikasi setinggi itu di menara bukan orang sembarangan. Dia mikirin keselamatan puluhan pesawat sekaligus. Rasa hormat kita ke dia ya ditunjukin lewat kedisiplinan terbang begini.” Sementara itu, ratusan meter di atas permukaan landasan pacu, suasana di dalam ruang kontrol menara Juanda terasa tak kalah intens. Pantauan layar radar menayangkan tumpukan titik hijau yang bergerak merapat menuju lintasan pendaratan. Thalia menggeser trackball dengan kecepatan konstan, matanya memindai seluruh data ketinggian dan kecepatan pesawat. “Indonesia 812, turn right heading 090, cleared ILS approach runway 10,” instruksi Thalia lagi, mengarahkan pesawat yang dikemudikan Valen memasuki jalur garis lurus menuju landasan. “Turn right heading 090, cleared ILS approach runway 10, Indonesia 812,” sahut suara Valen dari headset Thalia. Begitu transmisi berakhir, Ria yang berdiri di samping konsol Thalia memajukan badannya, menyenggol pelan bahu sang senior sambil menyunggingkan senyum penuh arti. “Sumpah ya, Mbak Thalia,” bisik Ria mengamati layar monitor. “Komunikasi kamu sama Kapten Valen tuh kalau didengar-dengar rasanya harmonis banget di frekuensi. Nggak ada wording yang kebuang, timing-nya pas, sahut-sahutannya udah kayak musik orkestra yang terlatih.” Thalia tidak memalingkan pandangannya sedikit pun dari deretan angka di layarnya. “Semua penerbangan dipandu dengan standar ops yang sama, Ri. Tidak ada yang spesial.” “Masa sih nggak ada yang spesial?” celetuk Ria tak mau kalah. “Perasaan kalau sama pilot lain kamu nadanya lebih galak dua tingkat. Tapi tadi pas respon Kapten Valen, nadanya ... ehem, agak lebih lembut dikit. Dikit banget sih, tapi kerasa bedanya.” Thalia menghentikan gerakan jemarinya sejenak di atas meja konsol. Ia menarik napas dalam melalui hidung, menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi emosional apa pun. “Ria,” ujar Thalia dengan intonasi rendah namun dingin yang mematikan. “Di ruang radar ini hanya ada dua hal, variabel keselamatan dan prosedur standar. Saya tidak mengenal preferensi pribadi di atas meja konsol. Kapten Valen menjalankan readback dengan benar, maka instruksi berjalan lancar. Cuma itu logikanya.” Ria mengangkat kedua tangannya membentuk tanda menyerah, meski cengirannya belum sepenuhnya hilang. “Ampun, Mbak. Siap, salah. Saya cuma memuji sinkronisasi kerjanya kok. Beneran deh, jarang ada pilot yang bisa ngikutin ritme instruksi kamu secepat dan sepresisi Kapten Valen.” “Dia hanya melakukan tugasnya sebagai penerbang profesional,” jawab Thalia datar, lalu kembali menekan tombol radio untuk memandu pesawat penerbangan lain di belakang armada Valen. “Lion 521, continue approach, wind 090 degrees 8 knots.” Meskipun lisannya menyuarakan instruksi dengan sangat tenang, batas-batas profesionalisme yang dibangun Thalia terasa diuji dari dalam. Bayangan wajah ramah Valen saat menyodorkan cangkir kopi, tutur katanya yang tulus saat membela petugas menara di kafe kemarin, serta desah suaranya yang kini mengisi telinganya via frekuensi radio, saling berbenturan di dalam benak Thalia. Namun, Thalia menyadari batasan tugasnya. Tugasnya adalah memastikan pesawat bernomor penerbangan GA812 itu menyentuh aspal landasan dengan aman, bukan menyertakan perasaan pribadi di balik konsol pemandu keselamatan. Prosedur pendekatan ILS (Instrument Landing System) malam itu akhirnya berjalan tanpa hambatan berarti. Di bawah panduan cermat Thalia, burung besi bermesin ganda yang dibawa Valen menembus lapisan awan tipis dengan sangat mulus. “Indonesia 812, wind 080 degrees 7 knots, runway 10, cleared to land,” ucap Thalia memberikan izin mendarat terakhir. “Cleared to land runway 10, Indonesia 812. Thank you, Tower,” balas Valen hangat. Thalia mengawasi layar monitor saat simbol titik hijau pesawat Valen perlahan meluncur stabil meniti garis lurus runway, disusul dengan bayangan visual burung besi tersebut yang melintas kokoh di bawah pendar lampu landasan pacu. Roda-roda pesawat menyentuh aspal dengan pendaratan yang sangat mulus tanpa goncangan berarti. “Indonesia 812, vacate via taxiway N4, contact ground on 121.9,” instruksi Thalia mengarahkan pesawat keluar dari landasan utama menuju area parkir. “Vacate N4, contact ground 121.9. Good day, Tower,” tutur Valen menutup komunikasi di frekuensi menara. Roda depan Airbus A330 berhenti sempurna saat pesawat berbelok perlahan menyusuri taxiway N4. Suara deru mesin perlahan mengecil saat Valen menyelesaikan lembar pengecekan usai mendarat bersama Kenzo. Valen mematikan sakelar frekuensi radio menara di konsol atasnya, memindahkan jalur komunikasi ke radio pemandu darat. Setelah seluruh prosedur penanganan selesai, ia mengandaskan punggungnya ke sandaran kursi pilot yang empuk. Pandangannya secara refleks beralih keluar jendela samping kokpit. Dari sudut apron yang luas, matanya menatap lurus ke arah bangunan tinggi megah yang berdiri kokoh di kejauhan, Menara Kontrol Juanda. Lampu-lampu indikator merah di puncak bangunan itu menyala berkedip lembut di antara kegelapan malam yang mulai turun. Valen menatap lantai teratas menara yang berdinding kaca tebal itu dengan binar mata penuh kekaguman. “Disiplin banget,” batin Valen pelan sambil tersenyum simpul. Ia membayangkan wanita tak tergapai di atas sana—sosok 'Cewek Es' yang baru saja memandu penerbangannya dengan tingkat presisi yang begitu tinggi. Tanpa ia sadari sedikit pun, wanita kaku di puncak menara tinggi itu dan wanita berinisial T.V.D. yang meninggalkan pembatas buku di kafe kemarin sore adalah satu jiwa yang sama yang kini tengah memandangi pesawatnya dari balik kaca radar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN