“Ternyata pemilik pembatas buku ini suka minum kopi di jam yang sama,” suara Valen menyapa pelan dari samping rak buku kafe yang sama seminggu kemudian. Thalia yang sedang mengamati deretan novel dan buku di sudut ruangan mendadak menghentikan jemarinya. Ia memutar tubuh perlahan, menyapa sosok pria berjaket kasual warna abu-abu gelap yang berdiri menatapnya dengan senyum hangat. Tanpa kemeja penerbang atau seragam dinas, penampilan Valen sore itu kelihatan begitu santai, santun, tapi tetap punya daya pikat tersendiri. Thalia membetulkan letak kaus terakota yang dikenakannya. “Kamu lagi?” Valen terkekeh pelan, melangkah satu pijakan lebih dekat tanpa mengikis jarak sopan di antara mereka. “Kenapa? Kecewa ya yang menyapa bukan orang lain?” “Enggak,” sahut Thalia datar, walau binar matan

