Cassandra menatap lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki bertubuh jangkung itu mengulas sebuah senyuman baginya. “Papa,” sapa Cassandra dengan canggung. Hubungannya dengan Irfan Asmara memang tidak terlalu dekat. Ditambah lagi setelah mendengar bahwa pada kenyataannya, lelaki itu bukanlah ayah biologisnya. Irfan hanya orang asing yang dipilih oleh kakeknya untuk menjadi tameng baginya. “Sandra, kamu baru saja datang. Kenapa harus berkemas?” tanya Irfan. Kali ini suara lelaki itu lebih lembut dari biasanya. “Eng … Sandra mau jalan-jalan beberapa hari, Pa,” sahut gadis itu datar. Irfan menyeruak masuk ke dalam ruang kamar putrinya. Tanpa dipersilahkan, ia pun duduk di atas sofa panjang yang ada di ruangan itu. “Papa dengar dari Bik Sum, kamu sudah ingat semuanya kembali. Benarkah?

