Goresan pena di atas kertas diary itu memudar, seperti terkena tetesan air. Cassandra bisa menebak bahwa ibunya sedang menangis saat menuliskan perasaannya hari itu. Sepasang mata indah itu membulat ketika mulai membaca kisah yang tertulis di atasnya. Kisah tentang hal yang terjadi sebenarnya terjadi malam itu. FLASHBACK “Mar, tunggu aku!” teriak Irfan sembari berlari menyusul kawannya mencari kayu bakar. Marini membungkuk, meraih ranting kering di bawahnya. “Cepat, nanti kita kemalaman,” perintahnya. Sepasang tangannya dengan cepat menumpuk ranting-ranting yang ditemukannya di satu tempat. Ia mengedarkan kembali pandangannya, mengincar bawah pohon, tempat dimana ranting kering biasa berjatuhan. “Irfan, sepertinya kurang banyak. Kamu cari di bagian sana, aku di sisi yang lain.”

