Haris tersenyum mendengar pertanyaan itu. Bagaimana tidak, ia jelas-jelas tahu betapa sulitnya menerobos benteng pertahanan gadis itu tadi. “Terima kasih, karena kamu sudah memberikannya hanya padaku,” ucapnya lalu mencium lembut kening kekasihnya. Sepasang mata itu kembali bertemu. Keduanya kembali merasakan getar-getar lembut di dalam hatinya. Haris memeluknya dengan erat, memperlihatkan betapa ingin lelaki itu melindungi gadis yang dicintainya. Sayup terdengar dari kejauhan, suara-suara memanggil nama mereka. Cahaya seakan senter mengarah ke penjuru hutan, menyorot setiap sisi yang memungkinkan untuk menemukan sosok yang dicari oleh mereka. “Haris!” “Irfan!” “Marini!” Suara teriakan mereka seakan membangunkan setiap penghuni hutan itu dari keheningan malam. “Irfan! Apa

