Suara desah lolos dari bibir gadisnya saat Marco menyentuh salah satu titik sensitif di tubuhnya, di bagian lehernya. Marco mengangkat tubuh gadis itu dan meletakkannya ke atas sofa panjangnya. Dirasakannya sepasang tangan itu melingkar di lehernya, mengunci tubuh lelaki itu agar tetap berada dekat dengannya. “Jangan pergi, Om. Aku nggak mau sendirian,” pinta gadis itu. Marco tersenyum. Ia kembali mengecup lembut bibir gadis itu. Cassandra membalasnya dengan penuh gairah. Ia membuka bibirnya, membiarkan lelaki yang dicintainya mengambil bagian dalam permainan hasratnya yang tiba-tiba menyala. Sebagai seorang laki-laki normal, Marco tak sanggup mengendalikan lagi hasratnya. Gadis itu benar-benar menggoda imannya. Bibirnya yang terasa semanis strawberry dan aroma manis vanila yan

