“Bukan sesuatu yang penting,” sahut Marco sembari menggaruk puncak hidungnya yang tidak gatal. “Cuma … aku masih mengkhawatirkan kamu setelah adanya insiden tadi. Apa kakimu sudah membaik?” Marco mengulurkan tangannya, hendak menyentuh pergelangan kaki bagian kanan gadisnya yang sempat dioleskan dengan minyak. Tapi Cassandra dengan cepat memegang tangannya. “Jangan Om,” tolaknya. Ia takut jika sentuhan itu akan kembali menyakiti kakinya. “Masih sakit?” tanyanya. Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Sedikit,” sahutnya. “Maaf, gara-gara insiden tadi, pekerjaan Om jadi terbengkalai.” Marco menarik sudut bibirnya. “Semua sudah diatasi oleh Niken. Pertemuan-pertemuan itu sudah dijadwalkan ulang olehnya.” “Syukurlah.” Cassandra merasa sangat lega. Setidaknya ia tidak membuat ayahnya

