“Bapak tidak punya kuasa untuk ikut campur dalam hal ini,” ucap lelaki tua itu. “Mungkin justru teman-teman mereka yang lebih paham tentang hubungan mereka.” Sekali lagi Marco hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak tahu lagi bagaimana lagi untuk mencari tahu kebenaran yang terjadi dua puluh tahun silam. Semua fakta benar-benar tertutup rapat. Bahkan ingatannya tentang semua hal yang menyangkut Irfan, sama sekali tak berguna. Ia terlalu acuh pada kakaknya saat itu. Ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan mengabaikan semua urusan orang dewasa yang sama sekali tak dipahaminya saat itu. “Mungkin Bapak bisa memberikan beberapa alamat teman seangkatan Kak Irfan? Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada mereka.” Marco masih menyimpan sebuah harapan bahwa semua data lama sekolah

