Cassandra mendorong Marco. Ia tak ingin Marco menginjak harga dirinya lagi hanya karena rasa cintanya. Ia tak ingin dimanfaatkan lagi. Betapa jahat dan egoisnya Marco karena selama ini mempermainkan perasaannya. Dan betapa bodohnya dirinya, karena telah memberikan segalanya pada lelaki bunglon seperti Marco. “Aku benar-benar bodoh, kan? Aku sudah kasih raga aku sepenuhnya sama Om. Sama laki-laki yang sebenarnya nggak cinta sama aku,” isaknya. “Dan apa yang aku dapat? Bukan cinta, bukan bahagia. Tapi sebuah penderitaan.” Marco menatapnya dengan frustasi tanpa bisa berkata apa-apa. “Aku rasa Om benar,” ucap Cassandra. “Kita harus hentikan semua ini. Sebaiknya kita tidak usah ketemu lagi.” Gadis itu membuka pintu mobil dan membantingnya dengan keras. Marco masih tercengang saat meli

