“Tidak mungkin. Tidak akan ada yang mengenaliku,” sahutnya dengan santai. Lelaki itu tertawa terkekeh melihat siasatnya berhasil bahkan melihat mood keponakannya kembali normal. Ia menggelengkan kepalanya dengan senyum geli. “Kaum hawa tak ada bedanya. Semua pakai magic word ‘terserah’,” batinnya. “Apa mereka tidak tahu kalau jawaban itu sangat ambigu. Untung saja aku punya caraku.” Tak seberapa lama, mereka berdua telah berada di dalam sebuah warung. Cassandra menarik pamannya untuk masuk dan duduk di dalamnya. Meja panjang yang penuh dengan pengunjung, membuat gadis itu merasa kesal. Gadis itu menghela napas. Wajahnya memperlihatkan perasaan kecewanya. “Kita bungkus saja. Kita tidak punya banyak waktu,” bisik Marco. “Aku masih mempunyai sebuah kejutan untukmu.” Cassandra berbal

