“Kamu nggak papa, kan?” Irfan menepuk pundak Marco. “Eh, kenapa Kak?” Marco yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri, terkejut menyadari kehadiran kakaknya. Irfan menautkan kedua tangannya di atas meja. Ia menatap wajah adiknya dengan pandangan menyelidik. “Apa ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?” tanya Irfan penuh kecurigaan. Marco balas menatapnya. Perlahan di gelengkan kepalanya. “Nggak ada, semuanya baik-baik saja,” sahutnya. “Jadi … kamu nggak mau menceritakan tentang kemajuan program launching Phopo?” Marco bernapas lega. Sejenak ia berpikir jika Irfan sudah mengetahui semua yang terjadi antara dirinya dan Cassandra. Ia tidak tahu apa yang terjadi seandainya berita kehamilan Cassandra diketahui oleh ayahnya. “Tentang itu, aku berhasil menyewa taman kota. Dan aku j

