Pertanyaan itu seakan sengaja menyudutkan Marco. Lelaki itu menghela napas panjang. Ia tidak membiarkan emosinya menguasai kesadarannya. “Semua ini karena dia salah paham dan mengira aku sudah menyewa seseorang untuk membunuhnya,” papar Marco. “Padahal justru aku sedang memerintahkan seseorang untuk menjaganya.” “Benarkah?” Marco mengeraskan rahangnya. “Bagaimana denganmu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan di masa lalu? Kenapa lelaki itu berambisi untuk membunuh Cassandra? Dosa apa yang kamu lakukan dua puluh tahun yang lalu?” cecar Marco. Irfan tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Apa pedulimu? Bukankah yang terpenting aku menghasilkan banyak uang untuk bisa kamu pakai?” “Kak Irfan! Kalau memang Cassandra bukan putri kandungmu, kenapa kamu justru mau menikahinya dua puluh

