Paulina melihat Papanya yang sedang berkemas... Tangan Santoso dengan cekatan memasukkan baju-baju ke dalam koper. Wajahnya terlihat tenang, tetapi Paulina bisa melihat guratan kecewa yang tersirat dari sorot matanya. Paulina berdiri di ambang pintu kamar tamu yang ditempati Papanya, merasa ragu untuk masuk. Namun, pada akhirnya dia memberanikan diri melangkah mendekat. "Pa..." suara Paulina terdengar lirih. "Maaf, sih. Lagian kita nggak sampai tidur bareng secara... gitu." Dia mencoba menjelaskan, meskipun tahu mungkin ini hanya memperburuk keadaan. "Cuma paling cuddle doang, kelonan, sama—" "Papa nggak mau dengar deh," potong Santoso sambil mengangkat tangannya. Nada suaranya datar, tetapi tegas. Dia menutup koper dengan gerakan cepat, lalu menatap Paulina dengan ekspresi yang sulit di