Gya kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang pekerja di sebuah perusahaan besar. Bersama Hansuke, ia duduk di ruang kerja sambil memeriksa beberapa dokumen yang akan mereka bawa dalam meeting bersama Aldebaran dan Haris.
Sambil membolak-balik berkas di tangannya, pikiran Gya tiba-tiba melayang pada perkataan Bella sebelum sahabatnya itu pergi ke Dubai.
Bella memperingatkannya tentang perempuan-perempuan yang berada di sekitar Samuel—terutama Andin dan Sabrina.
Ada sesuatu yang membuat Gya penasaran dari kedua nama itu.
Terutama Andin.
Perempuan yang pernah datang ke kediaman keluarga Sangster dan mengaku sedang hamil.
Perempuan yang secara tidak langsung membuat keluarganya pergi meninggalkan dirinya selamanya.
Entah anak yang dikandung Andin benar-benar anak kakaknya atau bukan, satu hal yang Gya yakini—kakaknya bukan tipe lelaki yang akan merusak seorang perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan.
Saat ini yang Gya lakukan hanyalah mengikuti permainan yang tampaknya sengaja dibuat oleh Andin dan kakaknya.
Entah rahasia apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.
Namun Gya merasa semua ini pasti memiliki hubungan dengan Aldebaran.
Sebab sejak awal kakaknya sangat tidak menyukai dirinya bekerja di Aldebaran Group.
"Kamu kelihatan banyak pikiran."
Suara Hansuke membuat Gya tersadar dari lamunannya.
Ia menatap pria itu sebentar sebelum akhirnya bertanya,
"Aku sedang memikirkan kakak iparku."
Hansuke mengangkat alisnya.
"Namanya Andin."
Gya menatap Hansuke lebih dalam.
"Kalau tidak salah... kalian dulu bersahabat, bukan?"
Pertanyaan itu membuat Hansuke menatapnya dengan ekspresi serius.
Gya sengaja memancing pembicaraan itu.
Lagipula Samuel sedang sibuk di luar bersama perempuan yang tadi dibawa Hansuke ke kantor. Jadi mungkin ini kesempatan yang tepat untuk menggali informasi.
Hansuke menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Andin itu mantan kekasih Samuel."
Gya terdiam.
"Perempuan itu pernah kami temukan... tanpa sehelai benang pun bersama Grady Sangster."
Hansuke berhenti sejenak, seolah mengingat kejadian lama itu.
"Malam itu bukan hanya hati Samuel yang hancur. Persahabatan kami semua juga ikut hancur."
Nada suaranya terdengar lebih berat.
"Entah siapa yang benar dan siapa yang salah dalam situasi itu. Yang pasti Samuel sangat membenci keduanya."
Gya menelan ludah pelan.
"Setelah kejadian itu, Grady dan Andin menghilang begitu saja... seolah ditelan bumi."
Hansuke menatap dokumen di tangannya.
"Lalu kabar kematian kedua orang tua Grady menjadi berita terakhir yang kami dengar saat itu."
Ia mengangkat bahu ringan.
"Setelah itu... kehidupan kami berjalan seperti biasa."
Gya mencoba mencerna semua penjelasan singkat itu.
Namun justru ada satu hal yang membuatnya semakin penasaran.
Jika kakaknya dan Andin ditemukan dalam keadaan seperti itu...
lalu dari mana Samuel dan Hansuke tahu mereka berada di tempat tersebut?
Bukankah itu aneh?
"Kalau begitu..."
Gya menatap Hansuke dengan serius.
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau kakakku dan Andin berada di sana?"
Hansuke terdiam.
Seolah pertanyaan itu mengenai titik yang tidak ingin ia sentuh.
Tenggorokannya terasa kering.
Tanpa menjawab apa pun, ia berdiri dari kursinya.
"Aku ke pantry sebentar."
Ia berjalan pergi meninggalkan Gya.
Tepat pada saat yang sama—Samuel muncul dari arah koridor bersama Haris.
Yang mengejutkan, Haris datang sambil menggandeng dua anak kecil.
"Pas sekali ada Gya di sini!"
Haris langsung berbicara dengan santai.
"Aku dan boss besar mau meeting di luar. Meeting kita diundur sampai sore."
Ia menunjuk kedua anak di sampingnya.
"Jadi... titip anak-anakku dulu, ya."
Haris tersenyum percaya diri.
"Tenang saja, mereka tidak nakal."
Gya sebenarnya ingin menolak.
Namun sebelum sempat berbicara—kedua anak itu sudah lebih dulu duduk di kursi di kanan dan kirinya, seolah menemukan harta karun baru.
"Kalian jangan nakal, ya. Papa kerja dulu."
Haris menepuk kepala keduanya sebelum pergi bersama Samuel.
Gya menatap dua anak kecil di depannya.
Mereka terlihat seperti kembar, tetapi tidak identik.
Anak laki-lakinya tampaknya lebih mirip ibunya, sedangkan anak perempuan itu sangat mirip dengan Haris.
"Namanya Hery dan Hera," kata Samuel sebelum benar-benar pergi.
"Anak kembar Haris."
Ia menambahkan dengan nada lebih pelan,
"Jangan tanya di mana ibunya. Karena ibunya meninggal saat melahirkan mereka."
Gya hanya mengangguk pelan.
Setelah Samuel dan Haris pergi, Gya merapikan berkas-berkas di mejanya, lalu menoleh kembali pada dua anak kecil itu.
Entah kenapa mereka mengingatkannya pada Btara dan Btari—anak kembar milik sahabatnya, Aurelia.
"Kalian mau bermain?" tanya Gya lembut.
Kedua anak itu langsung mengangguk dengan antusias.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah duduk di lantai sambil bermain puzzle yang dibawa Haris di dalam tas si kembar.
Tawa kecil terdengar dari mereka.
Sementara itu—di sisi lain ruangan.
Hansuke yang baru kembali dari pantry berhenti sejenak ketika melihat pemandangan itu.
Samuel juga ikut menoleh.
Keduanya memperhatikan bagaimana Gya dengan sabar membantu Hery dan Hera menyusun puzzle.
Pemandangan itu membuat mereka sedikit terharu.
Tidak banyak perempuan yang bisa dengan mudah dekat dengan kedua anak Haris.
Bahkan beberapa karyawan perempuan di kantor ini sering kewalahan menghadapi mereka.
Namun Gya terlihat begitu alami.
Seolah memang terbiasa bersama anak-anak.
Samuel menyilangkan tangannya di d**a sambil memperhatikan mereka.
"Dia cukup hebat."
Hansuke hanya mengangguk pelan.
"Ya."
Ia menatap Gya lebih lama.
"Perempuan seperti dia... jarang ada."
Tanpa mereka sadari—tawa kecil yang terdengar dari lantai ruangan itu justru menjadi satu-satunya momen tenang sebelum badai besar yang sedang mendekat.
****
Tawa kecil Hery dan Hera masih terdengar di sudut ruangan.
Puzzle yang mereka susun bersama Gya hampir selesai. Potongan terakhir berada di tangan Hera yang terlihat sangat serius memperhatikan gambar di depannya.
"Ini di sini," gumamnya sambil menempelkan potongan puzzle itu.
"Wah... benar!" kata Gya sambil tersenyum.
Hery langsung bertepuk tangan kecil.
"Kita menang!"
Gya tertawa pelan.
"Kita memang tim yang hebat."
Hera mendongak menatap Gya dengan mata berbinar.
"Kak Gya sering main puzzle?"
"Lumayan sering."
Gya mengusap kepala Hera dengan lembut.
"Dulu aku sering bermain dengan dua anak kembar juga."
"Siapa?"
"Anak sahabatku."
Hery langsung memeluk lengan Gya tanpa ragu.
"Kalau begitu Kak Gya main sama kami juga, ya."
Hera mengangguk cepat.
"Iya! Kak Gya harus sering ke sini."
Gya tersenyum, tetapi ada sedikit rasa hangat yang aneh di dadanya.
Sudah lama sekali ia tidak berada di situasi sederhana seperti ini.
Bermain.
Tertawa.
Tanpa memikirkan rahasia yang berlapis-lapis di sekitarnya.
Namun suasana itu tidak berlangsung lama.
Pintu ruangan terbuka.
Samuel masuk lebih dulu, diikuti Haris di belakangnya. Sepertinya Gya ketinggalan sesuatu melihat jam sudah menunjukkan pulang kantor. Tidak mungkin bukan mereka melupakan dirinya untuk meeting sore ini?!
Wahhh... keterlaluan mereka!
"Papa!"
Hery dan Hera langsung berlari menghampiri Haris.
Haris berjongkok dan memeluk keduanya bersamaan.
"Wah, kalian tidak bikin masalah, kan?" tanya Haris lembut. Di belakangnya tentu saja ada Hansuke yang juga berniat beranjak dari kantor sepupunya.
Dugaan Gya, Hansuke lah yang menemani Samuel meeting bersama Haris dan Tuan Aldebaran.
"Kami main puzzle sama Kak Gya!" kata Hera bangga.
"Seru banget!" tambah Hery.
Haris menatap Gya lalu tersenyum lebar.
"Hebat juga kamu. Biasanya mereka tidak betah lama-lama di satu tempat." sindir Haris.
Gya berdiri dari lantai sambil merapikan rok kerjanya.
"Tidak kok, mereka anak yang pintar."
Samuel sejak tadi hanya berdiri beberapa langkah dari mereka.
Tatapannya tertuju pada Gya.
Entah kenapa melihat perempuan itu bermain bersama dua anak kecil tadi terasa... aneh baginya.
Tidak seperti sekretaris yang biasa bekerja di sekitarnya.
Gya terlihat terlalu... hangat.
"Kalian sudah selesai meeting?" tanya Gya profesional kembali.
Samuel mengangguk pelan.
"Sudah."
Haris berdiri sambil menggendong Hera. Tuh kan benar dugaan Gya. Dia tidak di ajak meeting!
"Kalau begitu aku bawa mereka pulang dulu. Terima kasih sudah menjaga mereka."
Hery melambaikan tangan pada Gya.
"Bye Kak Gya!"
"Bye."
Beberapa detik kemudian Haris dan kedua anaknya keluar dari ruangan.
Ruangan itu kembali sunyi.
Hansuke juga sudah pergi lebih dulu.
Sekarang hanya tersisa Samuel dan Gya.
Gya kembali ke mejanya dan mulai merapikan berkas-berkas meeting sore ini. Jika Haris dan Hansuke sudah kembaki itu artinya meeting internal tadi sudah di laksanakan bukan? Jadi, sebaiknya Gya rapihkan saja dahulu berkasnya.
Namun tiba-tiba Samuel berjalan mendekat.
Langkahnya berhenti tepat di depan meja Gya.
"Aku baru tahu kamu cukup ahli menghadapi anak-anak."
Gya mengangkat wajahnya.
"Tidak juga."
Samuel menyandarkan satu tangan di meja.
"Mereka bahkan jarang mau dekat dengan orang lain."
Tatapannya turun sedikit.
"Tapi denganmu mereka terlihat nyaman."
Gya hanya menjawab singkat.
"Mungkin karena mereka anak yang baik."
Samuel terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
"Kamu juga akan jadi ibu yang baik."
Kalimat itu membuat tangan Gya yang sedang memegang berkas berhenti.
Ia menatap Samuel dengan kening berkerut.
"Saya rasa itu bukan pembicaraan yang tepat di kantor."
Samuel tersenyum samar.
"Kamu terlalu serius."
Gya tidak menjawab.
Namun Samuel tidak langsung pergi.
Ia justru menatap Gya lebih lama.
Seolah sedang mencoba membaca sesuatu di wajah perempuan itu.
"Gya."
"Ya?"
Samuel sedikit memiringkan kepalanya.
"Tadi kamu bertanya sesuatu pada Hansuke, bukan?"
Jantung Gya berdetak sedikit lebih cepat.
"Pertanyaan apa?" jawab Gya wajah seriusnya.
Samuel tersenyum tipis.
"Pertanyaan tentang Andin... dan kakakmu."
Gya langsung mengerti.
Hansuke pasti sudah memberi tahu Samuel.
Ia menutup map di tangannya perlahan.
"Sekadar penasaran."
Samuel menatapnya tajam.
"Penasaran bisa berbahaya."
"Begitu?"
Samuel berdiri tegak kembali.
"Ada banyak cerita lama yang sebaiknya tidak kamu gali."
Gya menyilangkan tangan di meja.
"Termasuk cerita tentang kakakku?" tanya Gya sinis.
Samuel tidak langsung menjawab.
Tatapan mereka bertemu.
Sunyi beberapa detik.
Lalu Samuel berkata pelan—"Terutama cerita tentang kakakmu."
Gya tidak mengalihkan pandangan.
Justru sekarang ia semakin yakin.
Ada sesuatu yang besar disembunyikan oleh Samuel Aldebaran.
Dan semakin lama ia bekerja di dekat pria itu...
semakin ia merasa sedang berjalan masuk ke dalam permainan yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Samuel berbalik menuju ruang kerjanya.
Namun sebelum menutup pintu—ia berkata tanpa menoleh,
"Meeting kita sore ini tetap berjalan."
Ia berhenti sejenak.
"Dan Gya..."
"Jangan terlalu banyak mencari tahu tentang masa lalu."
Pintu ruang kerja Samuel tertutup.
Gya berdiri diam di tempatnya.
Namun di dalam hatinya—justru rasa penasaran itu semakin besar.
Karena satu hal kini semakin jelas baginya.
Kematian orang tuanya...
hilangnya kakaknya...
dan kebencian Samuel pada Grady Sangster...
semuanya pasti saling terhubung.
****