Sore hari di Aldebaran Group selalu terasa berbeda.
Lantai eksekutif yang sejak pagi dipenuhi aktivitas kini mulai terasa lebih tenang. Namun di ruang meeting utama, suasananya justru jauh lebih serius.
Gya berdiri di depan pintu ruang rapat sambil memeriksa kembali berkas yang akan dibahas.
Nama-nama yang hadir di meeting kali ini bukan orang sembarangan.
Samuel Aldebaran.
Tuan Aldebaran—ayah Samuel.
Hansuke.
Haris.
Dan satu nama lain yang membuat Gya sedikit menegang sejak membaca daftar hadir.
Raka Sangster.
Gya menarik napas pelan.
Pintu ruang meeting terbuka.
Samuel keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tenang. Jas hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat semakin berwibawa.
"Semua sudah siap?" tanyanya singkat.
"Sudah," jawab Gya.
Samuel menatap berkas di tangan Gya sebentar, lalu mengangguk.
"Baik."
Mereka berjalan masuk ke ruang meeting.
Di dalam ruangan itu, Hansuke dan Haris sudah lebih dulu duduk. Beberapa laptop terbuka di depan mereka.
Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka.
Seorang pria paruh baya dengan aura kuat memasuki ruangan.
Semua orang langsung berdiri.
"Tuan Aldebaran."
Samuel menundukkan kepalanya sedikit.
"Dad."
Pria itu duduk di kursi utama tanpa banyak bicara. Tatapannya tajam, penuh wibawa seorang pemimpin perusahaan besar.
"Apa semua sudah hadir?"
"Masih menunggu satu orang," jawab Hansuke.
Seolah menjawab kalimat itu—pintu ruangan kembali terbuka.
Langkah kaki yang masuk terdengar tenang, namun memiliki tekanan yang aneh.
Gya yang berdiri di samping layar presentasi langsung menoleh.
Dan untuk beberapa detik—napasnya terasa tertahan.
Raka Sangster.
Pria itu berdiri di ambang pintu dengan setelan jas abu-abu gelap.
Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Gya.
Namun hanya sepersekian detik.
Raka kemudian berjalan masuk dengan ekspresi datar.
"Maaf terlambat."
Samuel menatapnya tanpa senyum.
"Kami baru saja akan mulai."
Raka duduk di kursi yang berada tepat di seberang Samuel.
Suasana ruangan langsung terasa lebih tegang.
Tuan Aldebaran mengamati keduanya sebentar sebelum berkata,
"Baik. Kita mulai saja meetingnya."
Gya menyalakan layar presentasi.
Dokumen tentang proyek pembangunan pabrik di Bandung muncul di layar besar.
"Agenda hari ini adalah pembahasan lanjutan pembangunan pabrik makanan dan minuman yang akan menjadi bagian dari Projek Nusantara," jelas Gya dengan profesional.
Hansuke mulai menjelaskan data finansial.
Sementara Haris menjelaskan bagian distribusi dan pembangunan fasilitas.
Beberapa menit pertama meeting berjalan cukup lancar.
Namun semuanya berubah ketika Raka membuka suara.
"Lokasi pabrik ini terlalu dekat dengan jalur distribusi milik Atmadja Group."
Semua orang menoleh.
Samuel menyilangkan tangannya.
"Dan itu masalah?"
Raka menatap layar presentasi.
"Bukan masalah. Tapi risiko."
Samuel tersenyum tipis.
"Kami sudah memperhitungkan itu."
Raka akhirnya menatap langsung ke arah Samuel.
"Benarkah?"
Nada suaranya tenang, tetapi terasa seperti tantangan.
"Karena dari yang saya lihat... proyek ini terlihat terlalu terburu-buru."
Hansuke dan Haris saling berpandangan.
Tuan Aldebaran memperhatikan percakapan itu dengan tenang.
Samuel sedikit memiringkan kepalanya.
"Kalau menurutmu begitu... mungkin kamu punya saran."
Raka tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru berpindah ke arah Gya yang berdiri di dekat layar.
Hanya sepersekian detik.
Namun Samuel menangkapnya.
Senyum tipis Samuel perlahan menghilang.
Raka kembali menatap Samuel.
"Saran saya sederhana."
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Jangan membangun sesuatu yang terlalu besar jika fondasinya belum benar-benar kuat."
Samuel menatapnya tajam.
"Fondasi Aldebaran Group tidak pernah bermasalah."
Raka mengangkat alis sedikit.
"Mudah-mudahan."
Suasana ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Bahkan Haris yang biasanya santai memilih diam.
Tuan Aldebaran akhirnya membuka suara.
"Cukup."
Semua mata langsung tertuju padanya.
"Kita tidak berada di sini untuk saling menyindir."
Ia menatap Samuel.
"Dan juga bukan untuk menunjukkan ego."
Lalu ia menatap Raka.
"Kami mengundangmu ke meeting ini karena pengalamanmu di proyek sebelumnya."
Raka mengangguk sopan.
"Saya mengerti."
Tuan Aldebaran kembali menatap layar presentasi.
"Sekarang kita fokus pada proyek ini."
Meeting kembali berjalan.
Namun bagi Gya—setiap detik di ruangan itu terasa aneh.
Karena ia bisa merasakan sesuatu yang tidak diucapkan oleh siapa pun.
Ketegangan antara Samuel dan Raka.
Dan lebih dari itu—tatapan Samuel yang beberapa kali jatuh padanya selama meeting berlangsung.
Seolah pria itu sedang mencoba memastikan satu hal.
Apakah Gya dan Raka...
benar-benar tidak saling mengenal.
***
Meeting sore itu akhirnya selesai setelah hampir dua jam berlangsung.
Para peserta mulai menutup laptop dan merapikan berkas masing-masing.
Hansuke lebih dulu keluar bersama Haris karena masih ada beberapa hal yang harus mereka bicarakan di lantai produksi. Tuan Aldebaran juga bangkit dari kursinya dengan langkah tenang.
"Samuel," katanya singkat.
"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu nanti."
Samuel mengangguk.
"Baik, Dad."
Satu per satu orang meninggalkan ruang meeting.
Hingga akhirnya hanya tersisa Samuel, Gya, dan Raka di dalam ruangan itu.
Gya sedang merapikan dokumen di meja presentasi ketika sebuah suara menahannya.
"Gya."
Tangan Gya berhenti sejenak.
Ia perlahan menoleh.
Raka berdiri tidak jauh darinya.
Tatapan pria itu terlihat jauh lebih lembut dibandingkan saat meeting tadi.
"Sudah lama," ucap Raka pelan.
Gya menarik napas kecil.
"Memang sudah lama."
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Ada terlalu banyak hal yang tidak sempat diucapkan selama bertahun-tahun.
"Aku tidak menyangka kamu bekerja di sini," lanjut Raka.
"Aku juga tidak menyangka kamu akan ikut dalam proyek ini," jawab Gya.
Nada suara mereka rendah, seolah tidak ingin menarik perhatian siapa pun.
Namun mereka tidak sadar—ada seseorang yang masih berada di ruangan itu.
Samuel.
Pria itu berdiri di dekat jendela besar dengan tangan terlipat di d**a.
Tatapannya tertuju lurus pada mereka berdua.
Samuel tidak mengatakan apa pun.
Namun rahangnya sedikit menegang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Raka.
"Baik."
"Dan... keluarga?"
Pertanyaan itu membuat Gya terdiam sesaat.
"Tidak banyak yang berubah."
Raka mengangguk pelan.
Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, namun langkah kaki yang mendekat membuatnya berhenti.
Samuel.
"Menarik."
Suara Samuel terdengar santai, tetapi tatapannya dingin.
"Kalian sudah saling mengenal rupanya."
Gya langsung berdiri lebih tegak.
"Tidak terlalu."
Samuel menatapnya sekilas sebelum memandang Raka.
"Padahal nama belakang kalian sama."
Raka tersenyum tipis.
"Nama Sangster tidak terlalu langka."
Samuel tidak langsung membalas.
Ia hanya menatap Raka beberapa detik lebih lama.
"Benarkah?"
Suasana di antara mereka tiba-tiba terasa lebih tegang.
Gya segera mengambil berkas di mejanya.
"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya permisi."
Samuel tidak menahannya.
Namun tatapannya mengikuti langkah Gya hingga perempuan itu keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
Kini hanya Samuel dan Raka yang tersisa.
Samuel berjalan kembali ke meja meeting.
"Kebetulan sekali."
Ia menyandarkan tangannya di kursi.
"Seorang Sangster muncul di proyek ini... dan sekretarisku juga seorang Sangster."
Raka menatapnya tanpa emosi.
"Kamu terlalu banyak berpikir."
Samuel tersenyum tipis.
"Mungkin."
Namun tatapannya berubah lebih tajam.
"Atau mungkin justru kamu yang terlalu berani."
Raka berdiri dari kursinya.
"Aku tidak datang ke sini untuk permainan lama, Samuel."
Samuel hanya tersenyum.
"Kita lihat saja."
Raka tidak menjawab lagi.
Ia berjalan keluar dari ruang meeting tanpa menoleh.
Samuel berdiri sendirian di ruangan itu beberapa detik.
Lalu ia mengambil ponselnya.
"Hansuke."
"Ya?"
Samuel menatap pintu yang baru saja dilewati Raka.
"Cari tahu sesuatu untukku."
"Apa?"
Samuel berkata pelan,
"Semua yang berhubungan dengan nama Sangster."
Ia berhenti sejenak.
"Terutama tentang Gya."
****