Sementara itu—di lantai atas gedung Aldebaran Group.
Tuan Aldebaran duduk di ruang kerjanya yang luas.
Di tangannya terdapat sebuah tablet berisi daftar karyawan perusahaan.
Tatapannya berhenti pada satu nama.
Gya Sangster.
Ia menyipitkan matanya.
"Sangster..."
Nama itu terasa tidak asing baginya.
Ia menekan tombol interkom di mejanya.
"Carla."
"Ya, Tuan?"
"Cari semua data yang kamu bisa tentang keluarga Sangster."
"Baik, Tuan."
Ia menutup sambungan.
Tuan Aldebaran bersandar di kursinya.
Tatapannya kembali pada layar tablet.
"Sudah lama sekali..."
Ia bergumam pelan.
"Sejak terakhir kali aku mendengar nama itu."
Sementara jauh di lantai bawah—Gya berdiri di depan jendela koridor kantor tanpa menyadari satu hal.
Pertemuannya dengan Raka barusan...
bukan hanya menarik perhatian Samuel.
Tetapi juga membuka kembali masa lalu yang selama ini terkubur dengan rapi oleh keluarga Aldebaran.
Dan jika rahasia itu benar-benar terbongkar—
bukan hanya satu kehidupan yang akan berubah.
Melainkan seluruh permainan yang selama ini mereka jalani.
****
Koridor lantai eksekutif mulai sepi.
Sebagian besar karyawan sudah kembali ke meja kerja masing-masing setelah meeting panjang sore itu.
Gya berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah jalan utama kota. Berkas meeting masih ia pegang, namun pikirannya tidak lagi berada di sana.
Pertemuan singkatnya dengan Raka tadi membuat banyak kenangan lama kembali muncul.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Gya tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa orang itu.
"Masih sama seperti dulu."
Suara Raka terdengar pelan di belakangnya.
"Selalu berdiri di dekat jendela kalau sedang berpikir."
Gya akhirnya menoleh.
"Kamu juga masih sama."
Raka mengangkat alis.
"Bagaimana?"
"Selalu muncul tiba-tiba."
Raka tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
"Kenapa kamu bekerja di sini, Gya?" tanya Raka akhirnya.
"Bukankah itu bukan urusanmu?"
"Ini urusanku."
Nada suara Raka berubah sedikit lebih serius.
"Terutama kalau itu menyangkut Samuel Aldebaran."
Gya menatapnya tajam.
"Memangnya kenapa dengan Samuel?"
Raka menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Kamu tidak tahu siapa dia sebenarnya."
"Sepertinya kamu juga tidak."
Raka menggeleng pelan.
"Justru aku terlalu tahu."
Gya terdiam.
Raka melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Kalau kamu masih mempercayaiku sedikit saja... menjauhlah dari Samuel."
"Kenapa?"
Namun Raka tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih ke arah ujung koridor.
Gya mengikuti arah pandangannya.
Di sana—Samuel berdiri beberapa meter dari mereka.
Tidak jelas sejak kapan pria itu berada di sana.
Namun jelas sekali ia sudah melihat cukup banyak.
Samuel berjalan mendekat dengan langkah tenang.
Tatapannya bergantian antara Raka dan Gya.
"Sepertinya kalian punya banyak hal untuk dibicarakan."
Nada suaranya terdengar santai, tetapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.
Gya segera kembali ke sikap profesionalnya.
"Kami hanya membicarakan pekerjaan."
Samuel tersenyum tipis.
"Benarkah?"
Raka tidak terlihat terganggu.
"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, aku akan pergi."
Samuel menatapnya lurus.
"Silakan."
Raka melewati Samuel begitu saja tanpa menoleh.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat berkata pelan pada Gya,
"Pikirkan apa yang aku katakan tadi."
Kemudian ia berjalan menjauh menyusuri koridor.
Samuel memperhatikan punggungnya beberapa detik sebelum akhirnya menoleh pada Gya.
"Kalian terlihat cukup dekat."
Gya menatap Samuel dengan tenang.
"Tidak juga."
Samuel mendekat satu langkah.
"Dia memanggilmu Gya."
"Karena itu namaku."
Samuel tersenyum kecil, tetapi matanya tetap tajam.
"Aku mulai penasaran sekarang."
"Penasaran tentang apa?"
Samuel menyilangkan tangannya.
"Tentangmu."
Gya tidak menjawab.
Samuel akhirnya berbalik menuju ruang kerjanya.
Namun sebelum pergi ia berkata,
"Besok pagi kita ada meeting dengan tim Bandung."
Ia berhenti sejenak.
"Jangan terlambat."
Gya hanya mengangguk.
Namun setelah Samuel menghilang di balik pintu kantornya—perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadanya.
Karena ia tahu satu hal.
Samuel Aldebaran mulai mencurigainya.
****
Di tempat lain—ruang kerja besar milik Tuan Aldebaran terlihat tenang.
Carla, sekretarisnya, baru saja masuk membawa beberapa dokumen. Haris sengaja dia minta untuk mengurus projek nusantara bersama Hansuke. Karena, Aldeberan tidak ingin mengecewakan Alden Jhonson atas kepercayaan yang dia berikan pada perusahaannya.
"Tuan, ini data yang Anda minta."
Tuan Aldebaran menerima map itu.
"Terima kasih."
Carla keluar meninggalkan ruangan.
Perlahan Tuan Aldebaran membuka map tersebut.
Beberapa dokumen lama terlihat di dalamnya.
Foto keluarga.
Catatan bisnis.
Dan satu nama yang langsung menarik perhatiannya.
Grady Sangster.
Tatapan Tuan Aldebaran berubah sedikit lebih tajam.
Ia membalik halaman berikutnya.
Lalu berhenti pada satu foto lama.
Seorang pria muda berdiri bersama pasangan suami istri.
Dan seorang gadis kecil di antara mereka.
Di bawah foto itu tertulis sebuah nama.
Gya Sangster.
Tuan Aldebaran menyandarkan punggungnya di kursi.
"Jadi... kamu masih hidup."
Ia bergumam pelan.
Kenangan lama yang sudah bertahun-tahun terkubur tiba-tiba muncul kembali di pikirannya.
"Menarik sekali."
Ia menutup map tersebut perlahan.
"Kalau Samuel tahu siapa sebenarnya perempuan itu..."
Ia tersenyum tipis.
"Permainan ini akan menjadi jauh lebih rumit."
Di luar ruangan itu—malam mulai turun di kota.
Namun tanpa disadari oleh siapa pun—rahasia lama keluarga Sangster perlahan mulai terbuka kembali.
Dan kali ini...
tidak semua orang akan keluar dari permainan ini dengan selamat.
"Cari tahu ke mana Grady Sangster selama ini menghilang. Lalu cari tahu apa hubungannya kematian kedua orang tua mereka dengan Raka Sangster. Aku mau datangnya secepatnya." Aldebaran tidak bisa diam saja melihat sosok yang tidak pernah muncul ke peredaran, membawa nama Sangster dalam projek nusantara. Yang artinya, Grady sendiri tidak tahu jika salah satu saudaranya ikut ambil bagian dalam hal penting bisnis di dunia ini.
"Baik Tuan!" orang suruhan Aldebaran sudah menjalankan tugasnya dan dia tidak akan lepas dengan masalah ini begitu saja.
Grady bukan tipikal yang akan mau bergabung dengannya sejak kejadian beberapa tahun silam. Permasalahan dengan anaknnya membuat Grady merasa Samuel menghakiminya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Aldebaran tahu. Hanya saja permasalahan Grady dan anaknya membuat Aldeberan merasa andil di dalamnya.
Ya. Malam itu. Dia juga ada di sana.
Di sebuah club malam tempat di mana Grady dan Andin di temukan tanpa sehelai benang. Jika dugaaan Aldebaran benar bisa saja Andin menjebak Grady. Tapi, bagaimana Aldebaran membuktikannya? Permainan anaknya sudah berjalan dan dia menargetkan target yang salah.
"Uncle sepertinya banyak pikiran," kata Hansuke masuk bersama dengan Haris.
"Dua tahun lalu. Saat kalian menemukan Grady dan Andin. Apa kalian yakin mereka bermalam bersama?" tembak Aldebaran.
Haris sebenarnya ragu. Tapi anak kesayangan bosnya ini sudah menghakimi mantan kekasihnya dan sahabatnya lebih dulu. Jadi, Haris bisa apa?
"Aku ragu, Uncle. Grady bukan tipe lelaki yang menyukai perempuan sahabatnya sendiri. Yang aku penasaran adalah kepergiannya dia saat dunia berduka atas kepergian kedua orang tuanya dan lelaki itu bahkan tidak menghadiri pemakaman keluarga. Aku yakin baik Raka dan Grady punya rahasia yang tidak bisa mereka tunjukkan pada dunia." jelas Hansuke.
Aldebaran menyetujui.
Raka dan Grady bukan orang bodoh. Ada yang keduanya simpan dengan rapat.
"Sepertinya Raka tidak tahu adiknya bekerja di sini," kata Aldebaran.
"Pasti. Untuk apa dia kaget melihat Gya tadi. Dan aku yakin, Uncle. Gya pasti sedang mencari tahu alasan kematian kedua orangnya dan kepergian kedua saudaranya bertahun-tahun." jelas Hansuke.
"Rumit. Bagaimana jika kita mulai dari Club malam terlebih dahulu. Bukan kah itu asal muasal perpercahan kalian?" tanya Haris dengan wajah serius.
"Baiklah. Aku akan cari tahu kembali dan aku akan minta bantuan Alden dan Alberto," kata Hansuke.
Aldebaran menggelengkan kepalanya.
"Kita bergerak diam-diam. Tanpa sepengetahuan Samuel." entah kenapa Aldebaran merasa anaknya merencanakan sesuatu yang lebih berbahaya. Jika dia harus melindungi Gya maka Aldebaran akan lakukan sebagai rasa terima kasih pada keluarga Sangster di masa lalu.
Hansuke menatap pamannya dengan wajah serius. Jika pamannya bermain dengan diam-diam, itu artinya Samuel sudah punya rencana sendiri tanpa sepengetahuan dirinya. Hansuke harus hati-hati. Karena insting sepupunya sangat tajam. Ia harus bisa mengalihkan Samuel.
Mirna!
Hansuke akan memanfaatkan perempuan itu sementara waktu. Sambil menggali informasi kejadian yang membuat mereka pecah belah.
"Baiklah! Misi kita mulai malam ini!"
***