Pagi itu, langit tampak mendung seolah turut berduka atas nasib yang menimpa Winona Pradellisa.
Udara di rumah besar keluarga Adrian terasa dingin dan hampa. Tidak ada tawa, tidak ada senyum bahagia seperti layaknya rumah yang akan menggelar pernikahan putrinya. Semua terasa hambar, seperti pesta duka dengan hiasan bunga putih yang tak punya arti.
Winona berdiri di depan cermin besar di kamarnya.
Gaun putih sederhana melekat di tubuhnya, bukan gaun impian seperti yang selalu ia bayangkan sejak kecil. Riasannya lembut, tapi matanya sayu, kosong, seakan tak ada kehidupan di sana.
Hari yang tidak diinginkannya akhirnya tiba juga. Banyak orang menikah bertemu dulu baru menikah, namun dirinya bahkan tidak pernah melihat wujud calon suaminya, tiba-tiba saja hari ini ia akan menikah. Winona merasa papanya seperti diburu setan hingga cepat-cepat mau langsung kan pernikahannya.
Pelayan masuk setelah mengetuk pintu dengan pelan, membawa buket bunga kecil.
"Nona, Tuan sudah menunggu di bawah," katanya dengan nada hati-hati.
Winona hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa. Gadis itu menatap bayangannya sekali lagi.
Gadis berusia dua puluh empat tahun itu tampak seperti boneka yang siap dipamerkan, bukan seorang pengantin yang akan memulai hidup baru dengan cinta.
Dalam hati, ia berbisik lirih, "Ini kemauan papa."
Di halaman rumah, beberapa tamu sudah berkumpul. Semua tampak diam, tidak ada canda tawa. Di antara mereka, berdiri seorang pria berwajah tenang dengan pakaian sederhana, kemeja putih polos dilapisi jas hitam dan celana hitam.
Dia adalah sosok Abimanyu putra, yang akan menikah dengan Winona hari ini.
Abimanyu menunduk sopan ketika melihat Winona keluar dari pintu rumah. Pandangannya dalam, namun tidak berani terlalu lama menatap wajah calon istrinya. Abimanyu sadar betul siapa dirinya, seorang petani dari desa, tak punya harta, tak punya gelar, bahkan tak punya masa depan yang sebanding dengan gadis di depannya.
Abimanyu bahkan heran sendiri dengan papa dari gadis itu yang rela menikahkan putrinya dengan seorang pria dari desa seperti dirinya.
Adrian, yang berdiri di dekat meja akad, menatap anaknya lama. Di balik wajah tegasnya, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Winona melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa berat, seperti menapak di atas duri yang tajam.
Ketika duduk di kursi akad, suara penghulu mulai terdengar.
Ijab kabul berlangsung singkat. Suara Abimanyu tegas dan jelas, tanpa ragu, sementara Winona hanya bisa menunduk, menahan tangis yang siap pecah kapan saja.
Ketika penghulu berkata 'Sah!' semua mata menatap ke arah mereka.
Tepuk tangan kecil terdengar, lebih sebagai formalitas dari pada kebahagiaan.
Mereka menjalani prosedur di mana Winona akan mencium punggung tangan Abimanyu setelah pria itu memasang cincin kawin lalu mengecup keningnya.
Proses yang berjalan sederhana dan terasa sangat lancar sehingga Winona terheran-heran, tidak ada cobaan dan halangan sama sekali.
Winona kini resmi menjadi istri seorang Abimanyu, petani miskin, yang sering disebut oleh Ratna dan Mischa.
Setelah acara selesai, tamu-tamu perlahan bubar.
Ratna dan Mischa tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan permainan yang sudah lama mereka rencanakan.
Sementara itu, Winona berdiri di sudut halaman, menatap bunga-bunga yang mulai layu di vas kaca. Hatinya terasa kosong. Ia tahu, mulai hari ini, hidupnya tak akan pernah sama.
Abimanyu mendekat perlahan. "Winona," panggilnya pelan, suaranya lembut namun ragu.
Winona menoleh sekilas, menatap wajah suaminya untuk pertama kalinya dari jarak dekat. Wajah itu sederhana, bersih, dengan sorot mata tulus, juga bisa dikatakan terlihat manis dan tampan.
Meski begitu, rasanya tetap asing.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Abimanyu hati-hati.
Winona tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Gadis itu tahu sebentar lagi ia harus meninggalkan rumah yang selama ini menjadi saksi hidup dan lukanya.
Sebelum melangkah ke mobil, Winona menatap ke arah Adrian. Pria paruh baya itu berdiri di depan tangga rumah, dengan mata yang menatap lekat ke arah anak perempuannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Winona melangkah mendekat kepadanya.
"Papa." Suaranya memanggil pelan, nyaris bergetar.
Adrian menatapnya, matanya sedikit memerah. "Wino--"
Winona menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh.
"Aku cuma mau bilang, semoga Papa bahagia dengan keputusan Papa hari ini. Karena mulai sekarang, aku sudah tidak punya Papa lagi di hati aku."
Adrian tertegun, seolah tubuhnya membeku di tempat.
Winona melanjutkan tanpa memberi kesempatan.
"Papa tahu tidak? Sejak kecil, aku selalu berpikir kalau Papa adalah cinta pertama aku. Orang yang paling aku percaya, paling aku sayangi, dan yang paling aku banggakan."
Suaranya bergetar, tapi tegas.
"Tapi hari ini, aku sadar. Papa juga adalah cinta pertama yang paling menyakitkan dalam hidup aku dan pria pertama yang aku benci."
Kata-kata itu membuat udara di sekitar mereka seolah berhenti.
Ratna dan Mischa yang mendengar dari kejauhan hanya saling pandang, sementara Abimanyu menunduk, menahan perasaannya sendiri.
Adrian mencoba bicara, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. "Winona, maaf, Papa hanya ingin kamu--"
"Mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya tidak dibebankan ke aku?" Winona tersenyum pahit. "Papa, tidak ada seorang papa yang akan mendorong anaknya menjauh hanya demi keinginan egois sendiri. Aku kecewa sama papa. Dulu aku tidak begitu membenci papa, tapi hari ini, kebencian yang lama dan baru menumpuk menjadi satu."
Adrian merasa lidahnya kelu terlalu pahit dan berat untuk mengucapkan beberapa kata-kata menenangkan untuk putrinya karena pada kenyataannya ialah yang mendorong putrinya untuk menjauh.
Air mata jatuh membasahi pipinya, tapi ia tidak berusaha menghapusnya.
"Mulai sekarang, Papa boleh lupa aku pernah jadi anak Papa, karena aku juga akan berusaha lupa kalau aku pernah punya papa."
Setelah mengatakan itu, Winona berbalik.
Langkahnya mantap meski hatinya hancur.
Abimanyu menatap punggung wanita itu dengan mata sendu, lalu berjalan di belakangnya tanpa sepatah kata pun.
Mereka masuk ke mobil keluarga Abimanyu, mobil tua dengan warna perak pudar yang disewa untuk menjemput Winona.
Abimanyu duduk di depan bersama bapaknya, sementara Winona duduk di kursi belakang bersama ibu mertuanya, menatap keluar jendela, menatap halaman rumah yang semakin jauh dari pandangan.
Adrian berdiri di depan pintu rumah, menatap mobil itu pergi dengan pandangan kosong.
Saat mobil mulai keluar dari gerbang, sesuatu di dalam dirinya hancur. Ia menatap langit yang kelabu dan tiba-tiba merasa sesak.
Air matanya jatuh, perlahan, lalu semakin deras.
"Winona," bisiknya lirih, "Papa minta maaf."
Permintaan maaf itu tenggelam oleh raungan mesin mobil yang semakin menjauh.
Ratna berdiri di sampingnya, berusaha menenangkan. "Sudahlah, Mas. Semua sudah terjadi. Nanti juga dia terbiasa hidup di sana."
Adrian menepis tangan istrinya, pandangannya masih mengikuti arah kepergian mobil itu. "Kamu tidak akan mengerti, Ratna. Aku baru saja kehilangan anakku bukan karena dia mati, tapi karena aku yang membunuh hatinya."
Ratna menunduk, tak berani bicara.
Sementara itu, di dalam mobil, Winona menatap ke luar jendela, melihat pohon-pohon kota yang perlahan berganti menjadi sawah dan ladang.
Angin sore menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah dan udara desa yang asing baginya.
Di hatinya, hanya ada satu perasaan, hampa.
Ia meninggalkan rumah yang penuh luka untuk memasuki kehidupan baru yang tak ia pilih.
Di kursi depan, Abimanyu menatap bayangan Winona lewat kaca spion.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Tapi dalam hati, ia berjanji pelan.
"Aku mungkin bukan lelaki yang kamu mau, Winona, tapi aku akan berusaha jadi lelaki yang bisa buat kamu tersenyum."
Mobil terus melaju melewati jalan desa yang sepi, meninggalkan segala kenangan, cinta, dan luka yang tertinggal di rumah besar di kota.
Di antara gemuruh mesin dan angin sore yang lembut, dua hati yang sama-sama terluka itu memulai perjalanan baru menuju masa depan yang tak pasti.