“Tumor belum berarti kanker, bisa saja itu tumor jinak dan hanya perlu tindakan minim untuk mengangkatnya.” Kalimat Natasha terus terngiang di telinga Alya sembari ia menunggu giliran untuk masuk ke ruang USG. Ya, hari itu juga Alya meminta untuk bertemu dokter onkologi yang bisa memeriksanya. Setelah memeriksa jadwal, dokter tersebut mempersilakan Alya untuk datang ke gedung khusus laboratorium satu jam setelahnya. “Nyonya Alya Thalia?” Seorang petugas medis memanggil nama Alya. Wanita itu langsung berdiri dan masuk ke dalam ruangan. Angin sejuk dari pendingin ruangan membuat Alya semakin gugup. Ia meremas tangannya sendiri saat berbaring di atas kasur, berharap ada seseorang yang bisa ia genggam tangannya sekarang. Tapi Alya cepat-cepat menggeleng, mengenyahkan pikiran lemah itu. Ia