“Hiks… hiks… mas… kamu bikin aku khawatir.” Rama terkekeh sambil mencoba menenangkan perempuan kesayangannya ini. Semuanya tampak terharu atas sadarnya Rama, tapi memberi dulu ruang untuk Rebecca Bersama dengan Rama. Mengingat Rama sudah menaikan Rebecca ke atas ranjang untuk dipeluk. Rima dan Arimbi saling berpandangan dengan wajah mereka yang merah karena menangis. “Kita gak akan diusir kan? Udah tengah malem gini.” “Emang mereka mau ngapain? Rama aja baru bangun.” “Terus? Kenapa kita keluar?” tanya Arimbi lagi. mengintip ke dalam dan masih menangis. “Emang iya bakalan ada adegan ciuman dulu, Ma?” “Tau ah, udah diem.” Rama merangkup pipi sang istri siap memberikan kecupan di bibirnya. Namun Rebecca mendorong daadanya pelan. “Kenapa, Sayang? Mulut aku bersih kok meskipun tidur Panjan