Tak terhingga do'a yang Atha panjatkan dalam hati, ia berusaha menepis pikiran buruk yang terus saja berkelebatan dalam benaknya. Membayangkan bagaimana reaksi dokter saat menjelaskan kondisi terkini Mayang tadi, membuatnya kembali bergidik ngeri. Lampu indikator yang berada tepat di atas pintu ruang operasi juga masih menyala. Seandainya saja Atha tahu sedikit bocoran tentang keadaan di dalam ruangan itu, dia mungkin tak akan segugup ini. Suasana begitu mencekam, Atha tak memiliki siapa-siapa untuk berbagi. Ya, dia benar-benar sendirian saat ini. "Astaghfirullah. Maafkan semua dosa-dosaku bu. Maaf karena selama ibu masih ada aku belum bisa menjadi anak yang berbakti pada ibu." Atha tertunduk pilu, wajah ibunya juga ketakutannya akan terjadi sesuatu yang buruk pada Mayang silih bergant

