Tiga tahun lalu, hari pertama di rumah mewah keluarga Wicaksono tidak pernah terasa seperti awal dari sebuah kehidupan baru bagi Rania Ayu Putri. Rumah itu berdiri begitu megah di salah satu kawasan elite Jakarta, dikelilingi pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Pilar-pilar betonnya yang kokoh dan arsitektur modern yang memukau seolah memamerkan kekayaan pemiliknya. Namun, bagi Rania, bangunan luas yang didominasi warna putih dan abu-abu itu tak lebih dari sebuah sangkar emas yang sunyi dan membekukan.
Koper besarnya masih tergeletak pasrah di sudut kamar tidur lantai dua. Rania berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang, mencoba mencerna takdir yang baru saja mengikatnya beberapa jam lalu. Di jari manisnya, sebuah cincin emas putih melingkar cantik. Ia sudah sah menjadi istri Raka Aditya Wicaksono—pengusaha nomor satu terkaya di Indonesia yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis nasional.
Pernikahan ini tidak terjadi karena taburan bunga, tatapan cinta yang mendalam atau janji suci yang mengharukan. Pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi. Keluarga Rania baru saja dihantam badai besar, perusahaan ayahnya bangkrut total, meninggalkan utang yang menumpuk di mana-mana dengan jumlah yang sangat fantastis. Di tengah kehancuran finansial itu, ayahnya justru jatuh sakit keras dan membutuhkan biaya pengobatan yang luar biasa besar setiap harinya.
Tidak ada pilihan lain. Keadaan ekonomi yang tercekik memaksa Rania untuk menurunkan seluruh harga dirinya dan bergantung sepenuhnya pada uluran tangan keluarga Wicaksono. Beruntung, mendiang kakek mereka berdua ternyata pernah membuat janji perjodohan di masa lalu. Raka setuju mengambil alih seluruh utang dan membiayai pengobatan bapak Rania, namun dengan sebuah syarat mutlak yang transaksional. Raka memanfaatkan perjodohan peninggalan mendiang kakek ini untuk menstabilkan citra bisnisnya, sekaligus memberikan status ibu yang sah bagi Nina, putrinya yang kini berusia enam tahun setelah tiga tahun lalu ditinggal pergi oleh ibu kandungnya.
Cklek.
Suara pintu penghubung kamar yang terbuka membuat Rania menoleh cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok Raka melangkah masuk. Pria bertubuh seratus sembilan puluh lima sentimeter itu sudah menanggalkan jas pengantinnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, menampilkan garis leher dan rahangnya yang tegas. Wajah Raka begitu tampan, ketampanan yang membuat banyak wanita di luar sana iri pada posisi Rania saat ini. Namun, wajah itu terlampau datar. Tidak ada binar kebahagiaan atau kehangatan layaknya seorang pria yang baru saja menikahi seorang wanita.
"Ini kamar pribadimu," ucap Raka. Suaranya berat, bariton, dan begitu dingin hingga sanggup membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak mengekam. "Semua kebutuhan pakaian dan barang-barangmu sudah disiapkan oleh pelayan di dalam lemari walk-in closet. Jika ada hal lain yang kau butuhkan, kau bisa langsung mengatakannya pada Bi Sumi."
Rania menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menatap mata elang suaminya. "Lalu ... kamarmu di mana, Mas?"
Raka tidak mendekat. Ia tetap berdiri di jarak aman, seolah ada dinding transparan yang membatasi mereka agar tidak saling bersentuhan. Pria itu hanya menunjuk sebuah pintu kayu jati di sebelah kanan Rania dengan dagunya. "Di balik pintu penghubung itu. Kamar itu sudah terkunci dari sisiku. Aku sangat menghargai privasimu, Rania, dan kuharap kau juga bisa menghargai privasiku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, pernikahan ini terjadi murni untuk aspek legalitas bisnis, pemenuhan status ibu bagi Nina, dan penyelesaian masalah finansial keluargamu. Jadi, jangan pernah mengharapkan hal lebih di luar kesepakatan kita."
Jangan pernah mengharapkan hal lebih. Kalimat itu diucapkan Raka dengan nada yang teramat tenang, seolah ia tidak peduli bahwa kata-katanya baru saja menggoreskan luka pertama yang amat dalam di hati istri sahnya. Raka tahu Rania wanita yang cantik, dengan kulit putih bersih dan sepasang lesung pipi yang manis. Namun, rasa bersalah atas kematian Marsha—istri pertamanya yang tewas dalam kecelakaan demi melindungi putri mereka—adalah hantu yang terus mengikat batin Raka. Membiarkan dirinya menyentuh atau mencintai wanita lain terasa seperti bentuk pengkhianatan terbesar pada kenangan Marsha.
Belum sempat Rania membalas perkataan suaminya, suara ketukan pelan terdengar dari pintu utama kamar. Pintu bergeser sedikit, menampilkan sosok Hanny. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu mengenakan gaun rumah berwarna pastel. Wajahnya tampak sendu, dengan sepasang mata bulat yang sedikit sembap dan merah.
"Mas Raka..." panggil Hanny lirih. Suaranya bergetar halus, terdengar begitu rapuh dan tak berdaya hingga langsung memicu insting siapa pun untuk melindunginya. "Maaf ... maaf banget kalau Hanny mengganggu malam pertama Mas Raka dan Mbak Rania ... tapi di kamar bawah Nina rewel sekali. Dia menangis terus mencari Mbak Marsha ... Hanny sudah coba menggendong dan membacakan dongeng, tapi Nina menolak. Dia hanya mau tidur kalau dipeluk Mas Raka."
Mendengar nama Nina dan mendiang kakaknya disebut, rahang Raka seketika mengeras. Sorot matanya yang semula dingin membeku langsung berubah dipenuhi kilatan kepanikan dan rasa cemas yang luar biasa. Pria yang dikenal media sebagai sosok tak tersentuh itu langsung melangkah lebar melewati Rania begitu saja, seolah keberadaan Rania di kamar itu mendadak menguap tidak berbekas.
"Aku ke bawah sekarang, Han," kata Raka cepat, suaranya dipenuhi nada khawatir yang tidak pernah ia tunjukkan pada Rania. Tangan kekar Raka terulur, menuntun pundak Hanny dengan sangat lembut. "Kaki kamu masih lemas karena kurang tidur? Jangan dipaksakan berjalan cepat-cepat."
"Nggak apa-apa, Mas. Hanny cuma kepikiran Nina ... kasihan dia kalau ingat almarhumah Mbak Marsha terus," bisik Hanny sambil menunduk dalam-dalam.
Sebelum pintu kamar menutup sepenuhnya, Hanny sempat membalikkan badannya sedikit dan melirik ke arah Rania yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. Tidak ada senyuman sinis yang terang-terangan, tidak ada tatapan tajam seorang penjahat. Hanny hanya menatapnya dengan pandangan sayu yang sangat polos, namun justru pandangan itulah yang paling mematikan. Tatapan yang seolah menegaskan sebuah kenyataan pahit: Kau boleh memiliki status sebagai istri sah dan ibu bagi Nina di rumah ini, Rania. Tapi jiwa Raka, perhatiannya, dan seluruh rasa cemasnya tetap berada di sini, bersamaku dan Nina.
Brak.
Pintu kamar tertutup rapat.
Rania terkurung sendirian dalam keheningan malam pertama yang mencekik. Langkah kakinya terasa begitu berat dan gemetar saat ia berjalan mendekati pintu penghubung kamar. Dengan tangan yang dingin, ia mencoba memegang knop pintu tersebut, lalu memutarnya perlahan.
Cklek.
Terkunci. Raka benar-benar mengunci pintu itu dari seberang, menutup rapat segala akses bagi Rania untuk masuk ke dalam hidupnya. Rania menyandarkan keningnya pada permukaan kayu jati yang dingin itu, membiarkan air mata yang sejak siang ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh satu per satu membasahi pipinya. Di hari pertamanya sebagai seorang istri, Rania sudah tahu bahwa dirinya hanyalah orang asing yang terpaksa menjual kebebasannya demi menyelamatkan nyawa bapaknya.
Keesokan paginya, Rania turun ke lantai bawah dengan langkah yang canggung. Bau harum nasi goreng dan kopi segar menyeruak di udara, menandakan aktivitas dapur sudah dimulai. Ketika ia sampai di ruang makan yang luas, langkah kakinya mendadak terhenti.
Di sana, di meja makan kayu panjang, sebuah pemandangan keluarga yang utuh terpampang di depan matanya. Raka duduk di kursi utama sambil membaca tablet bisnisnya, sesekali menyesap kopi hitamnya. Di sebelahnya, Hanny duduk dengan anggun, dengan telaten menyuapi Nina yang sibuk bercerita tentang mainannya.
"Papa, nanti sore temani Nina beli es krim, ya?" celoteh anak perempuan berusia enam tahun itu dengan nada manja. Dia tahu mamanya sudah meninggal sejak dia berumur tiga tahun, dan selama tiga tahun kekosongan itu, Hanny-lah yang selalu ada di sisinya hingga ia terbiasa memanggil tantenya itu dengan sebutan Bunda.
Raka menurunkan tabletnya, lalu mengulas sebuah senyuman hangat yang luar biasa langka—senyuman yang belum pernah Rania lihat sebelumnya. Pria itu mengelus rambut Nina lembut. "Iya, nanti Papa pulang kantor lebih cepat untuk temani Nina."
"Hore! Sama Bunda Hanny juga kan, Pa?" tanya Nina lagi sambil memeluk leher Hanny. Hanny tertawa kecil, suara tawanya sehalus sutra, terdengar begitu keibuan saat membalas pelukan bocah kecil itu.
Rania mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Kata 'Bunda' yang diucapkan Nina untuk Hanny terasa seperti duri yang menusuk ulu hatinya. Secara hukum dan kesepakatan transaksi kontrak ini, dialah yang didatangkan untuk menjadi ibu sambung Nina. Namun di rumah ini, posisi emosional itu sudah diisi dengan sangat sempurna oleh Hanny tanpa celah sedikit pun.
Saat Rania melangkah mendekat, Hanny adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya. Wajah Hanny langsung berubah cerah, dihiasi senyuman ramah yang tampak sangat tulus.
"Eh, Mbak Rania sudah turun!" sapa Hanny lembut, langsung berdiri dari kursinya. "Mbak, maaf ya ... tadi Hanny langsung buatkan sarapan kesukaan Mas Raka dan Nina karena mereka biasanya sarapan jam segini. Hanny lupa tanya Mbak Rania sukanya sarapan apa... Mbak jangan tersinggung atau marah ya sama Hanny? Hanny bener-bener nggak bermaksud lancang..."
Raka mendongak, tatapan hangatnya pada Nina langsung lenyap, digantikan oleh tatapan sedingin es saat menatap Rania. Ada sorot ketegasan di mata pria itu, seolah memberi peringatan agar Rania tahu diri pada posisinya sebagai orang yang dibantu dan tidak membuat keributan yang bisa menindas Hanny.
Rania menusuk pandangannya ke arah Hanny, lalu beralih pada suaminya yang membisu. Luka di dadanya semakin melebar, namun ia menolak untuk terlihat lemah di depan mereka. Rania menegakkan kepalanya, mencoba tersenyum tipis hingga lesung pipinya muncul samar.
"Tidak apa-apa, Hanny. Aku tidak tersinggung," jawab Rania dengan suara yang diatur setenang mungkin. "Aku juga tidak terbiasa sarapan berat di pagi hari. Cukup segelas air putih saja."
Rania melangkah menuju dispenser, memunggungi meja makan untuk menyembunyikan getaran di tangannya. Di belakangnya, ia bisa mendengar Hanny yang kembali duduk dan berbisik lembut pada Nina, "Nina sayang, itu ada Tante Rania. Nina sapa Tante Rania dulu, ya? Nggak boleh nakal..."
Namun, Nina yang sudah berusia enam tahun dan paham bahwa ada wanita asing yang mencoba menggeser memori mamanya, hanya diam. Bocah itu memalingkan wajah kecilnya dengan tatapan tidak suka yang sadar, lalu justru memeluk lengan Raka erat-erat, menolak menganggap keberadaan wanita baru itu. Raka pun tidak berusaha membujuk putrinya untuk menyapa istrinya sendiri, ia kembali fokus pada tablet bisnisnya, mengabaikan Rania sepenuhnya seolah Rania hanyalah angin lalu yang menumpang lewat di rumah megah tersebut.
Di sudut dapur yang sepi itu, sambil memegang gelasnya yang dingin, Rania menatap lurus ke depan. Tiga tahun ke depan barulah dimulai, dan ia tahu, demi kesembuhan ayahnya dan pelunasan utang keluarganya, ia harus menelan semua kepedihan dan pengabaian ini bulat-bulat.