bc

Malam Pertama Sebelum Bercerai

book_age18+
26
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
contract marriage
family
age gap
friends to lovers
arranged marriage
arrogant
kickass heroine
boss
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Tiga tahun menikah. Lebih dari seribu malam tidur di kamar terpisah. Dan besok pagi, semuanya akan resmi berakhir.

*

Rania Ayu Putri menikahi Raka Aditya Wicaksono—pengusaha nomor satu terkaya di Indonesia, pria bertubuh 195 cm dengan rahang tegas yang jadi mimpi seluruh negeri—bukan karena cinta, tapi karena utang ayahnya. Ia pikir, seburuk apa pun pernikahan kontrak ini, setidaknya ia akan diperlakukan sebagai istri.

*

Ia salah.

*

Raka tak pernah menyentuhnya. Tak pernah menatapnya lebih dari tiga detik. Pintu penghubung kamar mereka terkunci sejak malam pertama, dan tak pernah dibuka lagi.

*

Tapi Rania menyaksikan sendiri bahwa suaminya bisa hangat—hanya saja bukan untuknya. Setiap kali Hanny, adik mendiang istri pertama Raka, sedikit saja terluka atau menangis, Raka akan datang lebih cepat dari siapa pun, memeluknya tanpa ragu, mengorbankan apa pun yang sedang ia kerjakan. Hanny yang manja, rapuh, dan diam-diam mencintai Raka sejak lama—tanpa perlu berusaha keras, perlahan menjadi orang ketiga yang bahkan tak pernah terlihat seperti orang ketiga.

*

Bahkan Nina, putri Raka yang baru berusia enam tahun, memanggil Hanny "Bunda" dengan penuh sayang, dan menolak setiap kali diminta memanggil Rania dengan sebutan yang sama. Di rumah besar itu, yang terlihat seperti keluarga kecil yang utuh justru Raka, Hanny, dan Nina—lengkap dengan panggilan Papa, Bunda, dan anak yang terasa begitu wajar. Rania, satu-satunya yang punya status sah sebagai istri, malah jadi orang asing di rumahnya sendiri.

*

Rania bertahan tiga tahun penuh, berharap dinding es itu akan runtuh. Sampai akhirnya ia sadar: ada rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya, dan ada cinta yang tak pernah benar-benar ditujukan padanya.

*

Malam ini, surat gugatan cerai sudah ditandatangani. Besok, semuanya akan selesai.

*

Tapi di malam yang seharusnya menjadi akhir, rahasia yang terkubur bertahun-tahun tentang kematian istri pertama Raka mulai terbongkar—dan bersamanya, alasan sesungguhnya kenapa pria itu tak pernah berani menyentuh Rania sama sekali.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1-Prolog
Surat gugatan cerai itu tergeletak di meja makan, di antara dua piring makan malam yang nyaris tak tersentuh. Besok pagi, jam sepuluh, Rania Ayu Putri akan duduk di ruang mediasi Pengadilan Agama, menandatangani akhir dari pernikahan yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai. Tiga tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari sebagai istri sah Raka Aditya Wicaksono, dan tidak sekali pun—tidak satu malam pun—pintu penghubung antara kamar mereka pernah dibuka. "Kau yakin?" Suara Raka memecah keheningan. Datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini—sesuatu yang tidak bisa Rania definisikan. "Sudah tiga tahun aku yakin," jawab Rania, tanpa mengangkat wajah dari piringnya. "Kau yang selalu bilang pernikahan ini cuma soal kestabilan perusahaan dan wasiat ayahmu. Nina juga sudah terbiasa tanpa aku—setiap malam dia tidur di kamar Hanny, bukan menungguku membacakan dongeng. Tidak ada alasan lagi untuk bertahan dalam pernikahan yang..." Ia berhenti, mencari kata yang tidak akan membuat suaranya pecah. "...yang bahkan tidak pernah jadi pernikahan sungguhan." Raka diam. Ia selalu diam di saat-saat yang seharusnya ia bicara. Rania ingat malam pertama mereka, tiga tahun lalu—bukan malam pertama seperti yang dibayangkan orang-orang, tapi malam pertama yang penuh kecanggungan itu. Raka berdiri di ambang pintu kamarnya, menatapnya sebentar, lalu berkata, "Kamu tidur di sini. Aku di kamar sebelah," sebelum menutup pintu penghubung itu dan menguncinya dari sisinya sendiri. Ia pikir itu hanya sementara. Ia pikir, seiring waktu, dinding itu akan runtuh. Ia salah. Ponsel Raka bergetar di atas meja. Sebuah nama muncul di layar—Hanny—dan dalam sepersekian detik, ekspresi Raka berubah. Tegang. Waspada. "Kenapa?" jawabnya cepat, hampir sebelum ponsel itu menempel di telinganya. Rania bisa mendengar suara isak dari seberang telepon, meski tidak jelas apa yang dikatakan. "Jangan bergerak, aku ke sana sekarang," kata Raka, sudah berdiri, sudah meraih kunci mobil dari laci konsol—gerakannya cepat, panik, jauh dari sosok tenang yang duduk di depan Rania beberapa detik lalu. "Kau di rumah sakit mana?" Rania menatapnya, tidak percaya pada apa yang ia saksikan. Malam terakhir mereka sebagai suami istri, dan Raka baru saja meninggalkan meja makan tanpa menoleh sekali pun ke arahnya, hanya karena Hanny—yang belakangan Rania tahu cuma terkilir ringan saat olahraga—menangis di telepon. "Aku harus pergi," kata Raka, sudah setengah berjalan ke pintu. "Hanny kecelakaan kecil, tidak parah, tapi dia panik sendirian di rumah sakit." "Pergilah," jawab Rania, suaranya lebih tenang dari yang ia kira mampu. "Kau selalu pergi untuknya." Raka berhenti sejenak di ambang pintu. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar menatap Rania—matanya penuh sesuatu yang tidak pernah bisa Rania baca selama tiga tahun ini. Cahaya lampu makan jatuh lembut di wajah Rania, di kulitnya yang putih bersih, di lesung pipi kecil yang muncul samar saat ia berusaha tersenyum meski hatinya sedang hancur. Raka tidak pernah mengucapkannya, bahkan pada dirinya sendiri, tapi ia tahu betul—istrinya cantik, sangat cantik, jenis kecantikan yang bisa membuat siapa pun berhenti sejenak. Ia hanya tidak pernah membiarkan dirinya menatap terlalu lama. Tubuhnya menjulang di ambang pintu, bahunya yang lebar nyaris memenuhi bingkai pintu itu. Ini pria yang sama yang wajahnya menghiasi sampul majalah bisnis nasional bulan lalu—"Raka Wicaksono, Pengusaha Muda Terkaya, Sosok yang Tak Pernah Bisa Didekati." Rahangnya tegas, garis wajahnya nyaris sempurna, tinggi yang membuatnya selalu menonjol di ruangan mana pun. Wanita-wanita di seluruh negeri memimpikan posisi yang Rania tempati sekarang—istri sah pria idaman itu—tanpa tahu betapa dinginnya menjadi istri seseorang yang bahkan tak pernah menyentuh tanganmu. "Rania—" "Sudah, Mas. Besok kita selesaikan semuanya di pengadilan." Ia mencoba tersenyum, meski terasa seperti menahan retakan di dadanya sendiri. "Setidaknya malam ini kau tetap konsisten sampai akhir." Pintu tertutup. Suara mobil menjauh dari halaman. Rania duduk sendirian di meja makan, menatap surat gugatan cerai yang esok akan mengakhiri semuanya, dan bertanya-tanya untuk terakhir kalinya—bukan kenapa Raka tidak pernah menyentuhnya, tapi kenapa ia masih berharap, sampai detik-detik terakhir ini, bahwa ada alasan di balik semua itu yang bisa membuatnya berhenti berharap dengan lebih tenang. Ia tidak tahu bahwa apa yang terjadi malam itu di rumah sakit—dan apa yang akan Raka temukan di sana tentang kematian Marsha bertahun-tahun lalu—akan mengubah segalanya sebelum matahari terbit.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
751.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
984.2K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook