Di sisi lain, tak jauh beda dengan Kamila. Sarah yang sedang berada di salon sedang berdebat dengan petugas salon. Pasalnya saat dia ingin meminta perawatan untuk pelanggan VVIP kartunya langsung di tolak.
"Maaf nyonya, kartu anda tidak aktif lagi. Dan nyonya sudah tidak bisa mendapatkan perawatan gratis disini. Jadi untuk total semua perawatan tadi semua harus di bayar. Jika tidak di bayar, nyonya akan langsung di blacklist di semua salon yang ada di kota ini."
Mata Sarah membola, membayar semua biaya perawatan nya tadi sudah pasti akan habis jutaan. Selama ini dia selalu memakai kartu milik Agatha agar bisa mendapatkan hak istimewa di salon itu.
"Apa kau bilang? Kartuku di non aktifkan?" tanya Sarah masih tak percaya .
Petugas salon itu mengangguk sambil tersenyum, meskipun dalam hati dia sudah mengomel kesal.
"Rasakan, selama ini kau sudah memakai kartu milik nona muda seenaknya. Sekarang kartu itu di nonaktifkan langsung oleh nona muda. Harusnya dari dulu saja nona muda melakukan ini, kenapa baru sekarang?" batin petugas salon itu.
Sarah mencoba menghubungi Agatha untuk menanyakan perihal kartu itu. Tapi sayang, nomer Agatha sudah tak bisa di hubungi lagi.
Bukan Agatha namanya jika tak bisa membalas semua itu lebih gila dari pada yang mereka lakukan.
"Bagaimana nyonya? Silahkan segera lakukan pembayaran, soalnya sudah banyak yang antri di belakang nyonya!"
Sarah melirik sewot ke arah belakang nya, dan benar saja sudah banyak ibu ibu lainnya yang berjejer untuk menyelesaikan pembayarannya.
"Kartu ini milik Agatha, harusnya dia yang bayar bukan?"
Petugas itu lagi lagi tersenyum ramah. Lalu menunjukkan semua laporan yang ada disana.
"Nona Agatha sudah menonaktifkan nya sebulan yang lalu nyonya. Dan kalau itu milik nona Agatha kenapa nyonya yang memakainya? Apalagi nyonya kesini tidak bersama dengan nona Agatha. Itu sudah masuk ke dalam pelanggaran aturan salon kami nyonya."
Sarah mulai gelagapan karena terus di serang oleh petugas salon itu. Terpaksa dia membayar biaya perawatan nya dengan uang nya sendiri. Sepuluh juta lebih untuk biaya perawatan nya.
Tanpa menunggu selesai transaksi dan nota keluar, Sarah sudah lebih dahulu pergi dari sana. Petugas itu cekikikan saat melihat Sarah pergi dari sana dengan wajah yang masam.
"Maaf untuk semuanya, tadi sempat ada insiden kecil. Dan jika ibu ibu semua bertemu dengan ibu tadi tolong menjauh saja, karena ibu tadi suka memanfaatkan milik orang lain. Khusus hari ini, ibu ibu semua yang juga sudah menjadi pelanggan tetap akan mendapatkan diskon lima puluh persen karena sudah sabar menunggu sejak tadi."
Tentu saja, semua ibu ibu itu bersorak gembira. Meskipun mereka dari kalangan atas tapi mendapat diskonan juga kebahagiaan untuk mereka.
Agatha yang mendapat laporan itu terkikik geli, dan membuat Emma yang mendengarnya penasaran.
"Kau kenapa?"
Agatha lalu memberikan ponselnya pada Emma. Posisi saat ini mereka sedang mengantri di sebuah bank untuk mengurusi semua kartu Agatha. Emma yang membaca itu juga ikut tertawa.
"Gila banget itu nenek sihir, bisa bisanya pakai kartu mu untuk perawatan. Dia pikir perawatan disana murah jadi dia seenaknya saja."
Agatha mengedikkan kedua bahunya acuh.
Emma tak percaya jika Agatha akan langsung membalas mereka seperti ini.
"Kali ini kau memang hebat, sebentar lagi pasti ada kekacauan yang lainnya."
Emma sudah tak sabar membayangkan bagaimana keluarga Frangky menghadapi semuanya tanpa Agatha.
Tak selang lama, Agatha di panggil ke ruangan kantor untuk mengurus semuanya sampai tuntas. Pemblokiran semua kartu miliknya juga pemindahan rekening baru milik Agatha dengan mudah di urus. Mengingat jika Agatha termasuk nasabah prioritas mereka. Tak hanya satu bank, semua bank langsung di urus bersama oleh Agatha.
"Kau memang ingin menghancurkan mereka semua." celetuk Emma.
"Apa kau pikir aku orang yang berbelas kasihan pada orang yang sudah menghinaku? Kau tahu aku seperti apa bukan?"
Emma mengacungkan dua jempolnya ke arah Agatha.
Plak.....
Terdengar suara tamparan yang keras dari meja yang tak jauh dari Agatha juga Emma.
"Ethan, kau tahu bukan jika aku mencintaimu? Kenapa kau malah nolak nikah sama aku? Dan milih cewek ini?"
Emma mengerutkan keningnya saat mendengar nama yang dia kenal. Agatha juga melihat ke arah wanita yang tengah menangis sambil menunjuk seorang laki laki yang tak menggubrisnya sama sekali.
"Kau tahu dari awal aku tak suka terikat tapi kau yang ngejar aku jadi bukan salahku sepenuhnya!"
Mereka saat ini sudah menjadi tontonan banyak orang karena kejadian itu. Wanita yang tengah menangis itu pergi dari sana dengan kesal.
Sedangkan Ethan menarik tangannya dari bahu perempuan yang ada disana. Saat Emma melihat jika benar laki laki adalah orang yang dia kenal, Emma langsung berdiri dan menghampiri laki laki itu.
"Eh, mau kemana?"
Agatha terpaksa ikut berdiri, tapi saat dekat dengan Emma dia langsung melongo. Di depannya Emma sedang menjewer telinga seorang laki laki yang baru saja bertengkar dengan wanita tadi.
"Lah, dia siapa?"
Agatha melihat bingung ke arah Emma yang terlihat geram dengan dua laki laki itu.
"Bagus ya, di suruh pulang malah bikin nangis anak orang. Kau benar benar nakal Ethan!"
Sedangkan wanita yang tadi di rangkul laki laki itu sudah kabur pergi dari sana.
"Kak Emma, lepasin... malu di lihat orang!"
Emma menghembuskan napas panjang lalu melepaskan telinga laki laki itu. Dia duduk di depan laki laki itu di ikuti oleh Agatha.
Ethan yang melihat ada orang lain disana langsung menoleh. Matanya mengerjap saat melihat wajah Agatha.
Senyum samar tercetak di wajah tampan Ethan.
Plak....
"Kenapa malah bengong, jelasin sama kakak. Kau buat anak orang nangis, kalau sampai ayah dengar habis kau!"
Tapi Ethan tak peduli dengan omelan Emma. Dia malah mengulurkan tangannya pada Agatha.
"Kakak cantik, kenalkan nama ku Ethan. Adik satu satunya kak Emma."
Wajah Ethan sudah tersenyum manis ke arah Agatha yang kembali melongo. Tangan Agatha reflek menyambut uluran tangan itu.
"Agatha...." jawab Agatha pelan.
Ethan tak kunjung melepaskan tangan Agatha sampai sebuah deheman membuyarkan lamunan Agatha. Dia terburu buru menarik tangannya kembali.
"Aku tak salah, dia terus menggangguku. Kau tahu aku tak suka dengan cewek manja kayak dia. Dan lagi, dia nangis juga karena ketahuan sama cowoknya. Dia suka sama aku karena dia pikir aku anak orang kaya. Padahal aku cuma kerja di bengkel. Dia tak terima karena di kira aku bohongin dia!"
Emma akhirnya paham, Ethan memang tak suka dengan wanita matre.
"Jadi kenapa kau tak pulang? Kau tak rindu sama mama dan ayah?"
Ethan terlihat diam, tapi tangannya mengepal erat dan semua itu tak luput dari pandangan Agatha.
"Dia menyembunyikan sesuatu?"
To be continued