Ethan memasuki rumah yang terlihat sunyi itu. Langkah kakinya terasa berat saat menapaki anak tangga satu persatu.
Rasanya dadanya masih sesak setiap kali pulang ke rumah itu.
Lampu yang awalnya padam seketika menyala. Dari atas anak tangga terlihat seorang laki laki paruh baya menatapnya tajam.
"Bagus, berani kau pulang ke rumah ini Ethan?"
Mata Ethan menatap jengah pada orang yang tengah berdiri di anak tangga itu.
"Aku cuma mau ambil beberapa barang." jawab Ethan sekenanya.
Ethan berjalan melewati laki laki itu tapi tangannya di cekal dengan keras.
"Saat kau memutuskan pergi dari rumah ini, saat itu juga kau bukan lagi anggota keluarga ini. Dan barang apa yang kau maksud? Semua barang barang milikmu di beli dari uang keluarga ini. Jadi kau tak berhak mengambilnya!"
Napas Ethan memburu mendengar semua perkataan laki laki.
Ethan mengibaskan tangan nya yang membuat cekalan laki laki itu terlepas.
"Baik jika itu yang anda katakan. Aku tak akan mengambil apapun dari rumah ini. Dan ingat baik baik perkataan ku tuan, suatu saat aku akan kembali kesini mengambil semua milik ibukku yang kau dan wanita sialan itu ambil."
Setelah mengatakan itu Ethan pergi dari sana dalam keadaan marah. Dadanya semakin sesak mengingat semua perkataan laki laki itu.
Suara decitan ban motor terdengar keras memekakkan telinga. Ethan membawa motornya dengan kecepatan penuh membelah dinginnya malam. Tujuannya saat ini kembali ke tempat yang selama ini menjadi rumahnya untuk pulang.
Beberapa tahun lalu, saat ibunya kritis dia mencoba menghubungi sang ayah tapi tak kunjung mendapat respon. Berkali kali dia mencoba menghubungi ayahnya tapi apa yang dia dapat saat telfon itu tersambung. Suara seorang wanita yang Ethan tak pernah tahu siapa dia. Akhirnya karena terlambat mendapat penanganan sang ibu menghembuskan napas terakhirnya.
Ethan memang putra tunggal dari seseorang kaya raya. Tapi sejak Ethan masuk sekolah menengah pertama ayahnya berubah. Keuangan Ethan pun tak seperti sebelumnya. Bahkan ibunya harus bekerja agar Ethan bisa terus sekolah. Rumah mewah yang Ethan tempati seperti neraka baginya. Dia bertahan hanya karena sang ibu memintanya. Dan semenjak ibunya tiada barulah Ethan keluar dari rumah terkutuk itu. Bagaimana tidak, seminggu setelah kepergian ibunya, sang ayah membawa seorang perempuan pulang kesana bersama anak perempuan seumurannya. Apalagi saat Ethan tahu jika perempuan itu sah menjadi istri ayahnya.
Ethan yang baru saat itu masih muda Luntang Lantung di jalanan dan akhirnya bertemu dengan seseorang laki laki tanpa istri dan anak lalu dia di adopsi oleh laki laki yang saat ini Ethan panggil dengan sebutan papi. Semenjak bertemu dengan papi angkatnya hidup Ethan berubah lebih keras lagi.
Di didik dengan keras dan melanjutkan semua usaha papi angkatnya membuat Ethan tak lagi memikirkan ayah kandungnya.
Dan hari ini Ethan kembali ke rumah itu hanya ingin mengambil foto sang ibu. Karena bertepatan dengan hari kematian sang ibu. Tapi ternyata hasilnya tetap sama. Dan malam ini adalah malan terburuk untuk Ethan.
"Jika dia menginginkan hal itu, aku akan mengabulkannya. Kau tak akan lagi bertemu dengan Ethan yang lama."
#
Pagi harinya, Agatha sudah bersiap dengan memakai pakaian barunya. Sesaat sebelum Agatha berangkat dia memang memesan beberapa setelan pakaian untuknya.
Emma yang baru saja bangun melongo saat melihat barang belanjaan Agatha berserakan di ruang tengah miliknya.
Hampir berapa jam lamanya beberapa kurir bergiliran datang ke rumah mengantarkan pesanan milik Agatha.
"Semua ini, kau yang belanja?" tanya Emma masih tak percaya.
Agatha mengangguk santai, dia lalu menunjukan sesuatu pada Emma.
"Yang disana milikmu, aku mau bilang terima kasih sudah menampung ku semalam. Kalau kau ku beri uang, masalahnya uang mu juga banyak. Jadi kau ku belikan juga barang barang yang kau suka!"
Emma menepuk keningnya keras, bisa bisanya Agatha berpikiran seperti itu. Tapi pelan pelan Emma tersenyum melihat Agatha bisa langsung seperti ini. Kembali ke diri Agatha yang ceplas ceplos dan penuh percaya diri.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang aneh dengan wajahku? Apa aku jadi jelek? Tapi aku sudah mandi." celetuk Agatha dengan wajah polosnya.
Emma menatap gemas pada Agatha lalu dia berjalan ke arah Agatha dan memeluk sahabatnya itu erat.
"Ayo lekas pulih dan membaik, setelah itu ambil semua milikmu kembali dari mereka orang gila!"
Agatha mengerjap lucu, mendengar perkataan Emma membuat senyum di bibirnya terbit. Agatha membalas pelukan Emma tak kalah eratnya.
Agatha bisa membeli itu semua tentu dengan uang pribadinya. Hanya berapa yang di ambil Frangky dan keluarganya. Hal itu tak akan membuatnya menjadi miskin dalam sekejap.
Agatha mengurai pelukannya pada Emma lalu terlihat sekali dia tengah berpikir keras.
"Emma, uang itu tak seberapa untukku."
Emma menyentil keras kening Agatha yang membuat Agatha meringis kesakitan.
"Kenapa malah menyentil ku? Sakit!" rengek Agatha.
"Semua yang mereka ambil memang tak seberapa dari semua harta yang kau miliki. Tapi mereka sudah membuat mu malu, dan juga menginjak harga dirimu. Apa kau bakalan diam saja? Kalau aku jadi kau, sudah ku kirim mereka ke penjara!"
Apa yang di katakan Emma ada benarnya. Terlebih saat Agatha ingat bagaimana Frangky menampar nya juga menghina dia.
"Buruan mandi dan ikut aku. Kita pergi pakai mobil baruku!" ucap Agatha santai.
Lagi lagi Emma melongo tapi melihat Agatha yang berjalan dengan santai ke depan membuat Emma sedikit lega. Meskipun Emma tahu jika Agatha masih sakit hati saat ini.
"Dia beli mobil udah kayak beli camilan!"
"Mau heran tapi dia Agatha!"
Emma menggeleng pelan, dia lalu beranjak pergi kembali ke kamar untuk segera bersiap.
Agatha melihat ke arah ponselnya ketika ada notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Di dalam notifikasi itu tertera pemberitahuan jika ada sejumlah transaksi pembelian perhiasan di tempat langganannya.
"Masih pagi tapi mereka tak sabar ingin menguras semua uang ku. Tunggu saja pembalasanku!"
Agatha mencari sebuah nama di ponselnya lalu menghubunginya.
"Blokir semua akses kartuku yang di pakai Frangky dan keluarganya. Juga jangan terima mereka belanja dimanapun ketika memakai namaku. Jika mereka memaksa langsung panggilkan keamanan."
Tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut, Agatha langsung menutup sambungan telfon itu. Dia tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi dengan Frangky dan keluarganya.
#
Sementara itu, Kamila dibuat kelabakan dengan kartu yang di pakainya.
"Maaf nyonya, kartu yang ini juga tidak bisa. Adakah kartu yang lainnya?"
Mata Kamila melotot, itu sudah kartu ketiga yang dia pakai.
"Apa wanita itu tahu aku memakai kartunya, lalu dia memblokirnya?"
to be continued