Bab 2

1007 Kata
Agatha berjalan tak tentu arah, semua barang miliknya masih ada di rumah itu. Tak sepersen pun dia membawa uang saat ini. Beruntung dia masih membawa ponsel miliknya. Terdengar petir menggelegar di atas sana. "Kalau aku telfon Emma, dia pasti ngetawain aku. Dari awal dia kan orang yang paling tak suka aku sama laki laki sialan itu!" Agatha terus menggerutu kesal. Tak ada lagi sakit hati tapi lebih dari sekedar sakit hati. Bisa bisanya dia dikatakan kampungan hanya karena tak mau berciuman dan bersentuhan sebelum menikah. Agatha benar benar merutuki kebodohannya saat ini. Pikirannya teringat sesaat sebelum dia menampar wajah Frangky. flashback on "Dimana Frangky, kenapa dia ninggalin aku sendiri?" Agatha mencari Frangky di setiap sudut rumah tapi tak kunjung menemukan suaminya itu. Agatha bahkan sudah bertanya pada Sasa adiknya Frangky tapi Sasa menjawab acuh tak acuh. Begitu juga dengan Sarah ibu mertuanya. "Ini cuma perasaan aku atau memang mereka berubah setelah upacara pernikahan tadi?" Agatha mengamati keluarga mertuanya yang sibuk menghitung uang yang mereka dapat. Para tamu satu persatu sudah pergi dari sana. Hanya ada beberapa teman dari Tommy ayah mertuanya saja. Agatha bahkan tak di beri kuota untuk sekedar mengundang teman temannya atau karyawan butiknya. Alhasil semua yang datang tak ada yang Agatha kenal. Langkah kaki Agatha membawanya naik ke lantai dua kamar pribadinya. Disana sepi, tak ada orang sama sekali. Tapi pintu kamar itu sedikit terbuka. "Kok pintu kamar ku kebuka? Apa Frangky ada di dalam?" Agatha meraih gagang pintu untuk masuk ke dalam tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara menjijikan dari dalam kamar itu. " Frangky ... ahh .... terus.... kau selalu bikin aku puas.. " Alis Agatha mengkerut, terlebih ada seorang wanita yang menyebut nama suaminya. Agatha berusaha mengenyahkan pikirannya kalau dia salah dengar. Tapi semakin lama suara itu semakin jelas dan memang suaminya lah yang ada di dalam kamar mereka bersama wanita lain. Brak.... Agatha membuka pintu itu dengan keras, dunianya seperti berputar saat melihat dua orang yang ada di depannya. Frangky yang sedang berada di atas tubuh seorang wanita yang sama sama tanpa sehelai benang pun. "Kalian!!!" flashback off Agatha mengusap wajahnya kasar, bisa bisanya dia di selingkuhi di malam pengantin. Bahkan kamar yang di pakai juga kamar miliknya. Dimana kamar itu akan menjadi kamar pengantin nantinya. Agatha sekali lagi merutuki kebodohannya yang sebelumnya terlalu buta oleh cinta. Rasa kesepian membuatnya mengabaikan beberapa fakta yang sebenarnya sudah pernah dia dapatkan. Terlebih saat sahabatnya Emma juga membeberkan semua fakta tentang Frangky tapi Agatha tak langsung percaya begitu saja. Dengan tangan yang gemetar akibat kedinginan, Agatha berusaha menghubungi Emma sahabatnya. Dering pertama tak langsung mendapat jawaban, begitu selanjutnya. Saat Agatha ingin mematikan sambungan telfonnya terdengar suara dari ujung sana. "Agatha, ada apa? Malam malam kau telfon aku? Bukannya kau sedang menikmati malam pengantin bersama suamimu?" Agatha tak langsung menjawab. Tapi isakan kecil terdengar dari bibirnya. Meksipun dia berusaha sekuat tenaga bersikap baik baik saja tapi saat ini dia tetap butuh pelukan seseorang. "Hei, kau dimana? Kirim lokasimu, aku akan kesana!" Emma mematikan sambungan telfon mereka, Agatha menangis tanpa suara. Hujan semakin deras mengguyur tempatnya berteduh. Hampir setengah jam berlalu dan Emma akhirnya bisa menemukan Agatha yang meringkuk kedinginan sambil memeluk tubuhnya. "Ya Tuhan, Agatha!" seru Emma. Emma ikut meringis kesakitan melihat sahabatnya seperti itu. Dia menarik lembut tangan Agatha lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil miliknya. Menghidupkan penghangat mobil, memberi selimut tebal pada Agatha. Tak lama mobil itu melaju pergi dari sana memecah derasnya hujan malam itu. # Emma sesekali melirik sahabatnya itu dan menghela napas panjang. Saat ini mereka sudah berada di dalam rumah Emma. Agatha sudah berganti pakaian milik Emma. Segelas minuman hangat ada di tangan Agatha. "Jangan bilang kau seperti ini karena mereka?" Emma yang sudah gemas langsung membuka suara dan tepat sasaran. Melihat Agatha hanya mengangguk membuat darah Emma mendidih. "Kau bodoh, pantas saja mereka bisa menipumu. Apa kau lupa siapa dirimu Agatha? Seorang pengacara yang rela meninggalkan karirnya dan juga keluarga nya cuma demi laki laki yang tak berguna itu? Umurmu bahkan sudah kepala tiga Agatha, dan bisa bisanya kau di tipu mereka?" Emma mengomel tanpa jeda, ingin rasanya Emma kembali ke rumah Agatha dan menghajar mereka semua. "Bantu aku batalkan pernikahanku dengan laki laki itu!" Suara Agatha yang lirih nyaris habis membuat Emma tersenyum samar. Ternyata sahabatnya itu masih waras dan langsung ingin bertindak. "Siapa perempuan gila itu?" Agatha menggeleng, dia bahkan tak kenal dengan perempuan yang ada bersama Frangky tadi. Emma menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. "Lalu setelah itu apa yang akan kau lakukan?" Agatha terdiam, tapi dia harus membekukan semua aset miliknya terutama kartu yang dibawa oleh Frangky dan keluarganya. "Kita ke bank, bekukan semua kartu yang mereka bawa. Hanya ada beberapa perhiasan di rumah itu. Dan sialnya, sertifikat butik ada dirumah begitu juga beberapa uang cas milikku." Emma menggelengkan kepalanya tak percaya. Agatha benar benar di tipu habis habisan oleh Frangky dan keluarganya. "Istirahatlah, besok kita urus semuanya dan pikirkan langkah selanjutnya." Agatha mengangguk, dia mengambil ponselnya menatap layar ponsel itu yang berisi fotonya dan juga kedua orang tuanya. "Daddy, mommy maafin Agatha yang selama ini menyakiti kalian." gumam Agatha pelan. Emma yang ingin masuk ke dalam kamar nya menatap sendu Agatha. Sejak dua tahun yang lalu, sejak Agatha mengenal Frangky, semuanya berubah. Beruntung Frangky tak kenal siapa Agatha sepenuhnya karena jati diri Agatha yang jarang terekspos. Di tambah ada masalah lain di dalam keluarga Agatha selama ini. # Di sebuah club malam terlihat beberapa wanita yang berusaha menggoda sang tuan rumah. Tapi tak ada satupun yang menarik untuknya. "Ethan, kau tak tertarik sama mereka?" Laki laki yang di panggil Ethan itu hanya menggeleng. "Sudah bekas orang," lanjut Ethan lagi. Semua wanita itu adalah pekerja disana. Sayangnya mereka tak pernah tahu siapa bos mereka yang sebenarnya. "Jangan jangan kau memang tak tertarik dengan wanita?" celetuk salah satu temannya. "Mau mati kau?" Temannya tadi langsung kicep. Dia lebih sayang nyawanya dari pada harus berdebat dengan Ethan. Ethan lalu berdiri dari sana, melangkah pergi keluar club malam. Menyalakan rokok kesayangannya lalu sesekali menghela napas panjang. "Rumah, malas sekali harus kesana lagi!" To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN