Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk yang perlahan menggerogoti kehidupan Bunga Aurum.
Kembalinya Nayla bukan hanya menghidupkan kembali kenangan lama Arka. Wanita itu juga membuat jarak antara dirinya dan suaminya semakin lebar.
Jika sebelumnya Arka hanya bersikap dingin, kini pria itu seperti tidak lagi berusaha menyembunyikan penolakannya.
Setiap kali pulang kerja, nama Nayla selalu muncul dalam percakapan.
Setiap kali ada rapat perusahaan, Nayla menjadi orang pertama yang disebut.
Dan setiap kali Bunga mencoba mendekat, Arka justru semakin menjauh.
Malam itu, Bunga sedang menunggu Arka di ruang makan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Makanan yang ia siapkan mulai dingin. Namun, ia tetap menunggu.
Setidaknya mereka bisa makan malam bersama.
Ketika suara mobil akhirnya terdengar dari halaman rumah, Bunga segera berdiri.
Arka masuk dengan wajah lelah.
"Aku sudah menyiapkan makan malam."
"Aku sudah makan."
Bunga terdiam.
"Dengan tim kantor?"
"Iya."
"Tidak bilang dulu?"
Arka meletakkan tasnya.
"Aku sibuk."
Hanya itu. Selalu itu. Sibuk.
Seolah satu kata tersebut cukup untuk menjelaskan semua sikapnya. Bunga menarik napas panjang.
"Mas."
"Ada apa lagi?"
Nada suara Arka membuat hati Bunga kembali nyeri.
"Aku hanya ingin bicara."
"Aku lelah."
"Ini penting."
Arka menoleh.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, kesabaran pria itu terlihat menipis.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Pertanyaan itu membuat Bunga membeku.
"Aku hanya ingin menjadi istrimu."
Arka tertawa hambar. Tawa yang tidak mengandung sedikit pun kehangatan.
"Kau sudah menjadi istriku."
"Tapi tidak pernah dianggap."
Hening.
Udara terasa berat. Lalu Arka mengusap wajahnya dengan kesal.
"Karena kau terus memaksa."
"Aku memaksa?"
"Iya."
Bunga menatapnya tidak percaya.
"Aku hanya berusaha mempertahankan rumah tangga kita."
"Tidak ada rumah tangga yang perlu dipertahankan."
Kalimat itu menghantam Bunga begitu keras.
Untuk sesaat, ia kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Arka melanjutkan.
"Sejak awal aku sudah jujur."
"Mas—"
"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Bunga. Namun, Arka tidak berhenti.
Entah karena emosi. Entah karena ego. Atau karena keberadaan Nayla membuatnya semakin berani mengatakan apa yang selama ini dipendam.
"Kau tahu apa yang paling melelahkan?"
Bunga menggeleng pelan.
"Harus terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja."
Hati Bunga terasa hancur.
"Mas benar-benar membenciku?"
"Aku tidak membencimu."
"Lalu kenapa?"
Arka memejamkan mata. Kemudian mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah bisa dilupakan Bunga seumur hidupnya.
"Karena kau bukan wanita yang aku inginkan."
Air mata Bunga jatuh satu per satu tanpa bisa dihentikan. Namun, Arka masih terus berbicara.
"Kau dan aku tidak pernah sepadan."
Kalimat itu membuat dunia Bunga runtuh dalam sekali hentakan.
Ia menatap pria di hadapannya. Pria yang selama ini dicintainya dengan seluruh hati.
Pria yang selama ini ia bela meskipun berkali-kali menyakitinya.
"Jadi begitu penilaian Mas terhadapku?"
Arka tidak menjawab. Diamnya sudah cukup.
Dan diam itu jauh lebih menyakitkan dari pada penghinaan apa pun.
Sejak malam itu, sesuatu dalam diri Bunga berubah. Ia masih tinggal di rumah yang sama. Masih menjalankan rutinitas yang sama. Namun, semangat hidupnya perlahan memudar.
Ia mulai kehilangan nafsu makan. Sulit tidur. Tubuhnya sering terasa lelah.
Awalnya ia menganggap itu hanya akibat stres. Namun, kondisinya semakin memburuk.
Berat badannya turun drastis. Wajahnya terlihat pucat.
Beberapa kali ia merasakan nyeri di bagian perut kanan atas.
Tetapi Bunga memilih diam. Tidak ada yang akan peduli. Setidaknya itu yang ia yakini.
Sementara itu, hubungan kerja antara Arka dan Nayla semakin dekat.
Mereka sering terlihat bersama. Pergi ke acara perusahaan. Menghadiri pertemuan bisnis. Bahkan beberapa kali makan malam setelah jam kerja.
Semua itu menjadi bahan pembicaraan di kantor.
Sayangnya, gosip tersebut akhirnya sampai ke telinga keluarga besar.
Suatu sore, Bunga datang ke rumah Nenek Ratih. Wanita tua itu langsung terkejut melihat kondisinya.
"Nak, kenapa kamu kurus sekali?"
Bunga tersenyum lemah.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu bohong."
Nenek Ratih memegang wajah cucunya.
"Kamu sakit?"
Bunga menggeleng.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
"Nenek."
"Iya?"
"Kalau seseorang tidak pernah menginginkan kita, apakah kita harus tetap bertahan?"
Pertanyaan itu membuat hati Nenek Ratih teriris. Wanita tua itu langsung memahami siapa yang dimaksud.
"Bunga..."
"Nenek tidak perlu menjawab."
Air mata akhirnya jatuh.
"Aku sudah tahu jawabannya."
Malam berikutnya, Arka pulang lebih larut dari biasanya.
Saat masuk ke rumah, ia melihat lampu ruang keluarga masih menyala. Bunga sedang duduk di sofa. Wajahnya pucat.
"Aku ingin bicara."
Arka menghela napas.
"Lagi?"
"Ini terakhir."
Kalimat itu membuat Arka mengernyit.
Namun, ia tetap duduk.
Bunga menggenggam kedua tangannya erat. Seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Kalau suatu hari aku pergi..."
Arka langsung memotong.
"Jangan mulai drama."
Bunga tersenyum pahit.
"Aku serius."
"Aku lelah mendengar hal seperti ini."
Lagi-lagi. Lelah. Selalu lelah. Namun, tidak pernah sekalipun Arka memikirkan betapa lelahnya dirinya.
"Aku hanya ingin tahu."
"Tahu apa?"
"Apakah Mas akan merasa kehilangan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Dan Arka, dengan ego serta kemarahannya yang saat itu sedang memuncak, memberikan jawaban yang paling salah.
"Aku tidak tahu."
Hati Bunga hancur. Benar-benar hancur. Karena bahkan setelah satu tahun pernikahan mereka, pria itu tidak bisa mengatakan bahwa dirinya berarti sedikit saja.
Beberapa minggu kemudian, Bunga pingsan saat sedang berbelanja. Saat terbangun, ia sudah berada di rumah sakit.
Dokter menyarankan serangkaian pemeriksaan lebih lanjut.
Awalnya Bunga tidak terlalu memikirkannya. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Ada kelainan pada hatinya. Dokter meminta pemeriksaan lanjutan.
Hari-hari berikutnya dipenuhi berbagai tes medis. Sampai akhirnya diagnosis itu keluar.
Bunga duduk terpaku di ruang dokter.
Tangannya gemetar.
"Kami menemukan kanker hati stadium awal."
Kalimat itu membuat dunia terasa berhenti.
Kanker. Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Masih ada peluang pengobatan yang sangat baik karena terdeteksi dini," lanjut dokter. Namun, Bunga hampir tidak mendengar apa pun setelahnya.
Pikirannya kosong. Benar-benar kosong.
Malam itu, ia pulang ke rumah dengan hasil pemeriksaan di dalam tas.
Rumah dalam keadaan sepi. Arka belum pulang.
Bunga berjalan perlahan menuju kamar.
Tatapannya jatuh pada foto pernikahan yang masih berdiri di atas meja.
Foto yang dulu selalu memberinya harapan.
Kini hanya menghadirkan rasa sakit.
Air mata perlahan mengalir. Bukan karena penyakitnya. Melainkan karena kesendirian yang ia rasakan.
Andai saja ia dicintai. Andai saja ia memiliki seseorang untuk bersandar. Andai saja rumah ini benar-benar menjadi rumah. Mungkin semuanya tidak akan terasa seberat ini.
Ketika Arka akhirnya pulang mendekati tengah malam, ia tidak mengetahui apa pun.
Tidak mengetahui bahwa istrinya baru saja menerima diagnosis yang mengubah hidupnya.
Tidak mengetahui bahwa wanita yang selama ini ia abaikan sedang menangis sendirian di dalam kamar.
Tidak mengetahui bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, Bunga merasa benar-benar kehilangan alasan untuk bertahan.
Dan tanpa disadari Arka, malam itu menjadi awal dari penyesalan terbesar yang kelak akan menghantuinya seumur hidup.