Bab. IV. Kembalinya Cinta Pertama Arka

1202 Kata
Sejak percakapan malam itu, hubungan Bunga dan Arka terasa semakin canggung. Padahal sebelumnya pun hubungan mereka tidak pernah benar-benar hangat. Namun kini, ada jarak yang lebih menyakitkan. Jarak yang lahir dari sebuah kenyataan yang akhirnya terungkap. Arka pernah mencintai seseorang. Dan orang itu bukan dirinya. Bunga berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tetap menyiapkan sarapan, tetap merapikan rumah, dan tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Namun, ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi menunggu Arka pulang dengan penuh harapan. Ia tidak lagi bertanya apakah suaminya sudah makan. Ia tidak lagi berusaha mencari perhatian yang selama ini tidak pernah diberikan. Bunga mulai lelah. Sangat lelah. Pagi itu, Arka sedang bersiap berangkat kerja ketika ponselnya berdering. Bunga yang kebetulan sedang meletakkan bekal makan siang di meja mendengar nama yang muncul di layar. Nayla. Tangannya langsung membeku. Arka segera mengangkat telepon tersebut. Suaranya yang biasanya datar terdengar sedikit berbeda. Lebih ringan. Lebih santai. Bahkan ada sedikit senyum di wajahnya. "Halo." "..." "Iya, aku ingat." "..." "Nanti aku jemput." Bunga menundukkan kepala. Dadanya kembali terasa sesak. Setelah panggilan berakhir, Arka memasukkan ponselnya ke saku. "Aku berangkat." Bunga hanya mengangguk. Biasanya ia akan mengantar sampai pintu. Hari itu tidak. Arka sempat memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya pergi. Namun, Bunga tidak menyadarinya. Pikirannya masih tertinggal pada satu kalimat. "Nanti aku jemput." Di kantor pusat Pradipta Group, suasana pagi terasa lebih sibuk dari biasanya. Arka baru saja memasuki ruang rapat ketika seluruh direksi berdiri menyambut seseorang. Seorang wanita berambut panjang mengenakan setelan kerja berwarna krem. Wajahnya cantik. Elegan. Dan penuh percaya diri. "Nayla Maheswari." Wanita itu tersenyum. Sudah lima tahun ia tinggal di Singapura untuk melanjutkan pendidikan dan kariernya. Kini ia kembali. Lebih dewasa. Lebih matang. Dan masih memiliki pesona yang sama seperti dulu. "Selamat bergabung kembali," ujar salah satu direktur. Nayla mengangguk sopan. Tatapannya kemudian bertemu dengan Arka. Senyum di wajahnya semakin lebar. "Sudah lama tidak bertemu." Arka mengangguk. "Lama sekali." Untuk sesaat, kenangan masa lalu kembali muncul di benak mereka. Kenangan ketika mereka masih menjadi pasangan yang hampir melangkah ke jenjang pernikahan. Namun, takdir memisahkan mereka. Atau setidaknya, itulah yang mereka pikirkan saat itu. Sore harinya, Bunga menerima telepon dari Nenek Ratih. "Nak, bisa datang ke rumah Nenek?" "Tentu, Nek." "Ada tamu." "Tamu?" "Iya." Bunga tidak banyak bertanya. Ia segera berangkat. Sesampainya di sana, rumah keluarga tampak ramai. Beberapa kerabat sedang berkumpul. Bunga tersenyum sopan dan menyapa satu per satu. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang duduk di ruang tamu. Seorang wanita cantik dengan senyum anggun. Wanita yang pernah ia lihat di foto milik Arka. Nayla. Jantung Bunga langsung berdegup kencang. "Nah, ini dia Bunga," kata Nenek Ratih. Semua mata tertuju padanya. Nayla segera berdiri. "Halo." Bunga berusaha tersenyum. "Halo." Untuk beberapa detik, keduanya saling memandang. Tidak ada permusuhan. Tidak ada kata-kata kasar. Namun entah mengapa, Bunga merasa kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Nayla memiliki segala hal yang tidak ia miliki. Kepercayaan diri. Karisma. Dan yang paling menyakitkan... Cinta Arka. "Aku sering mendengar tentangmu," ujar Nayla ramah. "Begitu?" "Iya. Arka pernah banyak bercerita." Kalimat sederhana itu membuat d**a Bunga terasa seperti diremas. Karena selama satu tahun pernikahan mereka, Arka hampir tidak pernah bercerita apa pun kepadanya. Malam harinya, Arka datang menyusul ke rumah keluarga. Begitu masuk ke ruang tamu, matanya langsung menemukan Nayla. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum tulus muncul di wajah pria itu. Dan Bunga melihat semuanya. Sangat jelas. Tanpa bisa mengalihkan pandangan. "Arka!" "Nayla." Mereka berjabat tangan. Kemudian tertawa membicarakan sesuatu yang hanya mereka pahami. Bunga duduk diam di sudut ruangan. Merasa seperti orang asing. Padahal ia adalah istri sah Arka. Namun malam itu, keberadaannya terasa tidak lebih penting dari pada dekorasi ruang tamu. "Kalian masih cocok seperti dulu." Salah satu kerabat tiba-tiba melontarkan komentar. Ruangan pun mendadak hening. Beberapa orang terlihat salah tingkah. Mereka baru menyadari bahwa Bunga berada di sana. Wajah wanita itu memucat. Sedangkan Nayla tampak canggung. "Maaf, aku tidak bermaksud..." "Tidak apa-apa," jawab Bunga cepat. Ia tersenyum. Atau setidaknya mencoba tersenyum. Namun, semua orang bisa melihat luka yang tersimpan di balik senyum tersebut. Arka menatap istrinya. Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Bunga duduk di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota berlalu begitu saja. Sedangkan Arka menggenggam kemudi dengan kuat. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus mengatakan apa. "Kau marah?" Pertanyaan itu akhirnya keluar. Bunga tertawa kecil. "Aku tidak punya hak untuk marah." "Kau istriku." Bunga menoleh. Tatapannya membuat Arka terdiam. "Aku memang istrimu." Suara wanita itu terdengar tenang. "Tapi aku bukan wanita yang ada di hatimu." Arka tidak menjawab. Karena ia tidak memiliki jawaban yang tepat. "Nayla sudah kembali." "Iya." "Kau bahagia." Arka kembali diam. Dan diamnya lagi-lagi menjadi jawaban. Bunga tersenyum pahit. Senyum yang membuat Arka merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Perasaan bersalah itu kembali muncul. Beberapa hari berikutnya, Nayla semakin sering muncul dalam kehidupan mereka. Sebagai direktur baru perusahaan, ia harus bekerja bersama Arka hampir setiap hari. Mereka menghadiri rapat bersama. Makan siang bersama tim. Bahkan beberapa kali harus melakukan perjalanan dinas singkat. Berita tentang kedekatan mereka perlahan mulai menjadi bahan pembicaraan di kantor. "Pak Arka dan Bu Nayla cocok sekali." "Dulu mereka memang pasangan, kan?" "Kalau saja tidak berpisah..." Kalimat-kalimat seperti itu terus terdengar. Dan tanpa sengaja sampai ke telinga Bunga. Malam itu, Bunga sedang membuka media sosial ketika sebuah foto muncul di beranda. Foto acara perusahaan. Di dalamnya terdapat Arka dan Nayla berdiri berdampingan. Keduanya tersenyum. Tampak serasi. Kolom komentar dipenuhi pujian. "Pasangan ideal." "Cocok banget." "Semoga berjodoh." Bunga mematikan layar ponselnya. Tangannya gemetar. Air mata perlahan jatuh. Ia sudah berusaha kuat. Namun, melihat semua itu tetap terasa menyakitkan. Sangat menyakitkan. Ketika Arka pulang malam itu, ia menemukan Bunga tertidur di sofa ruang keluarga. Ada bekas air mata di wajah istrinya. Entah Mengapa, pemandangan itu membuat langkahnya terhenti. Ia menatap wanita tersebut lama. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan Bunga. Wajah yang kelelahan. Mata yang sembap. Dan kesedihan yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan sungguh-sungguh. Arka menghela napas panjang. Kemudian mengambil selimut dan menyelimutinya. Gerakan kecil yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Namun tepat saat itu, Bunga terbangun. Mata mereka bertemu. Hening. Lama sekali. "Mas?" "Aku hanya..." Arka tidak melanjutkan kalimatnya. Karena ia sendiri tidak tahu alasan di balik tindakannya. Bunga duduk perlahan. "Ada yang ingin aku tanyakan." "Apa?" Wanita itu menatapnya lurus. Jika biasanya ia selalu menghindari konflik, malam ini tidak. "Mengapa Mas menikah denganku jika hati Mas masih untuk Nayla?" Pertanyaan itu menghantam tepat ke dalam d**a Arka. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, pria itu tidak mampu menjawab dengan mudah. Karena jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Kembalinya Nayla memang membangkitkan kenangan lama. Namun, melihat Bunga terluka ternyata tidak membuatnya bahagia. Justru sebaliknya. Ada rasa sesak yang semakin hari semakin sulit diabaikan. Sayangnya, Arka belum memahami arti perasaan itu. Dan ketidaktahuannya akan menjadi awal dari badai yang jauh lebih besar bagi rumah tangga mereka. Sementara Bunga perlahan mulai kehilangan harapan terakhir yang selama ini membuatnya bertahan. Karena semakin lama ia melihat Arka dan Nayla bersama, semakin jelas satu kenyataan yang harus ia terima. Mungkin dirinya memang hanya bunga yang ditanam di tempat yang salah. Bunga yang terus berusaha mekar. Namun, tidak pernah mendapatkan cahaya yang dibutuhkannya untuk hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN