Bab. III. Wanita di Hati Arka

1039 Kata
Hari-hari setelah ulang tahun pernikahan itu berlalu dengan cara yang sama. Sunyi. Dingin. Menyakitkan. Bunga Aurum kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang istri yang nyaris tak pernah dianggap keberadaannya. Ia bangun lebih pagi dari Arka, menyiapkan sarapan, merapikan rumah, lalu menghabiskan waktunya bekerja dari rumah sebagai editor lepas. Di sisi lain, Arka semakin sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur utama perusahaan keluarga. Mereka tinggal di rumah yang sama. Tidur di kamar yang sama. Namun, hati mereka seperti berada di dua dunia yang berbeda. Pagi itu, Bunga sedang merapikan ruang kerja Arka. Ia sebenarnya jarang masuk ke ruangan tersebut tanpa izin. Namun, semalam Arka terburu-buru pulang dan meninggalkan beberapa berkas berserakan di atas meja. Bunga hanya ingin membantu. Ia mengumpulkan dokumen-dokumen itu dengan hati-hati. Saat hendak menata sebuah map, sebuah foto kecil terjatuh dari sela-sela berkas. Bunga membungkuk mengambilnya. Awalnya ia mengira itu foto keluarga. Namun, saat melihatnya lebih jelas, napasnya langsung tertahan. Di dalam foto itu tampak Arka sedang tersenyum. Tersenyum sangat lebar. Senyum yang selama satu tahun pernikahan mereka hampir tidak pernah Bunga lihat. Di samping Arka berdiri seorang wanita cantik berambut panjang. Keduanya terlihat begitu akrab. Begitu dekat. Begitu bahagia. Jantung Bunga berdegup lebih cepat. Entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman yang muncul dalam dadanya. Ia membalik foto itu. Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sudah sedikit pudar. "Untuk Arka. Terima kasih telah selalu ada untukku. — Nayla." Bunga membeku. Nayla? Siapa wanita itu? Mengapa foto tersebut disimpan begitu rapi di ruang kerja Arka? Dan yang lebih penting... Mengapa Arka terlihat jauh lebih bahagia bersama wanita itu dibandingkan saat bersamanya? Malam harinya, Bunga menunggu Arka pulang. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Lalu sepuluh malam. Baru sekitar pukul setengah sebelas, suara mobil memasuki halaman rumah. Bunga segera berdiri. Arka masuk dengan wajah lelah. "Dari mana, Mas?" "Kerja." Bunga mengangguk. Biasanya ia tidak akan bertanya lebih jauh. Namun, malam itu berbeda. "Aku menemukan foto di ruang kerjamu." Arka yang sedang membuka dasi langsung berhenti. Wajahnya berubah sedikit tegang. "Foto apa?" "Foto seorang wanita." Beberapa detik berlalu. Arka tidak menjawab. Dan diamnya itu justru membuat hati Bunga semakin gelisah. "Siapa dia?" "Itu tidak penting." Jawaban singkat itu membuat Bunga tersenyum pahit. "Tidak penting untuk Mas mungkin. Tapi aku istrimu." Arka meletakkan tas kerjanya. "Namanya Nayla." Untuk pertama kalinya, Bunga mendengar nama itu langsung dari mulut suaminya. "Dia siapa?" "Teman lama." Hanya itu. Teman lama. Namun entah mengapa, Bunga merasa hubungan mereka lebih dari sekadar teman. "Mas mencintainya?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Arka menatapnya. Lama. Lalu memalingkan wajah. "Aku lelah." Bunga tertawa pelan. Tawa yang terdengar lebih mirip tangisan. "Mas tidak menjawab pertanyaanku." "Aku tidak wajib menjawab semuanya." Kalimat itu kembali menjadi luka baru. Bunga menunduk. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ia pikirkan. Mungkin alasan Arka tidak pernah bisa menerima dirinya bukan karena perjodohan. Mungkin karena hati pria itu sudah ditempati oleh orang lain. Keesokan harinya, Bunga menghadiri makan siang keluarga besar. Acara itu sebenarnya hanya pertemuan biasa yang diadakan oleh Nenek Ratih. Namun, sejak tiba di sana, pikiran Bunga terus dipenuhi oleh sosok Nayla. "Bunga, kamu kenapa?" tanya Nenek Ratih. "Tidak apa-apa, Nek." "Kamu terlihat murung." Bunga tersenyum tipis. Ia tidak ingin membuat wanita tua itu khawatir. Namun sebelum sempat menjawab, salah satu sepupu Arka tiba-tiba membuka percakapan. "Ngomong-ngomong soal Arka, aku dengar Nayla sudah kembali dari Singapura." Sendok yang dipegang Bunga hampir terjatuh. Nayla. Nama itu lagi. "Benarkah?" tanya anggota keluarga lain. "Iya. Minggu lalu dia kembali." "Dulu mereka dekat sekali, ya." Bunga menahan napas. "Dekat bagaimana?" Sepupu Arka menoleh. "Kamu tidak tahu?" "Tahu apa?" "Nayla itu cinta pertama Arka." Dunia Bunga seakan berhenti berputar. Ia merasa seluruh tubuhnya membeku. Cinta pertama. Kalimat itu terus bergema di kepalanya. "Nenek pernah bilang mereka hampir menikah. Tapi Nayla memilih melanjutkan kuliah ke luar negeri. Setelah itu hubungan mereka berakhir." Percakapan keluarga terus berlanjut. Namun, Bunga sudah tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Kepalanya terasa penuh. Dadanya semakin sesak. Kini semuanya mulai masuk akal. Sikap dingin Arka. Penolakan Arka. Ketidakmampuan Arka menerima dirinya. Bukan karena dirinya kurang baik. Bukan karena dirinya kurang berusaha. Melainkan karena sejak awal hati pria itu sudah diberikan kepada orang lain. Malam itu Bunga tidak bisa tidur. Ia duduk sendirian di balkon kamar. Angin malam berembus pelan. Arka baru pulang menjelang tengah malam. Saat masuk ke kamar, pria itu terlihat terkejut melihat Bunga masih terjaga. "Belum tidur?" Bunga menggeleng. "Mas." "Ada apa?" "Apakah Nayla alasan sebenarnya?" Arka langsung memahami maksud pertanyaan itu. Wajahnya mengeras. "Kau mendengar dari siapa?" "Jadi benar?" Hening. Cukup lama. Hingga akhirnya Arka menarik napas panjang. "Nayla memang pernah berarti bagiku." Kalimat itu terasa seperti pisau yang menancap perlahan di hati Bunga. "Pernah?" "Iya." "Dan sekarang?" Arka tidak menjawab. Lagi-lagi diam. Dan diam itu jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata. Karena dalam diam tersebut, Bunga menemukan jawaban yang tidak ingin ia dengar. Perasaan itu masih ada. Masih tersimpan. Masih hidup. "Aku mengerti sekarang." "Bunga—" "Tidak perlu menjelaskan." Bunga berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca. "Selama ini aku selalu bertanya-tanya apa salahku." Arka terdiam. "Aku berusaha menjadi istri yang baik." Suara Bunga mulai bergetar. "Aku berusaha memahami Mas." Lalu air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. "Aku berusaha bertahan." Setiap kata terasa seperti luka yang terbuka kembali. "Tapi ternyata aku bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk masuk ke hati Mas." Arka mengepalkan tangannya. Entah mengapa, melihat Bunga menangis membuat dadanya terasa tidak nyaman. Perasaan yang selama ini berusaha ia abaikan. "Bunga..." "Jangan khawatir." Bunga mengusap air matanya. "Aku tidak akan mengganggu perasaan Mas." Lalu wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Arka sendirian. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arka merasakan sesuatu yang asing. Rasa bersalah. Namun, egonya mendominasi. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Bayangan wajah Bunga yang penuh luka terus terlintas di pikirannya. Dan untuk pertama kalinya pula, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya. Apakah selama ini ia benar-benar telah memperlakukan Bunga dengan adil? Ataukah tanpa sadar ia telah menghancurkan hati seorang wanita yang tidak pernah berhenti berjuang untuknya? Sementara di balik pintu kamar mandi, Bunga menutup mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar. Ia akhirnya memahami kenyataan yang selama ini berusaha dihindari. Ia bukan wanita yang dicintai Arka. Ia hanya wanita yang dinikahi Arka. Dan ternyata, keduanya adalah hal yang sangat berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN