Bab II. Pernikahan yang Dipaksakan

1062 Kata
Bunga Aurum masih berdiri di depan foto pernikahan ketika kenangan lama kembali memenuhi benaknya. Kenangan yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat. Dua tahun lalu. Saat itu Bunga baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjananya. Ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan ternama dan menikmati kehidupannya yang sederhana. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Malam itu, Kakek memintanya datang ke rumah utama keluarga. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Awalnya Bunga mengira itu hanya pertemuan keluarga biasa. Namun, suasana ruang tamu yang terlalu serius membuatnya merasa tidak nyaman. Kakeknya, Hadi Wijaya, duduk di kursi utama. Di sampingnya ada Nenek Ratih yang tampak gelisah. "Bunga, duduklah." Bunga menurut. "Ada apa, Kek?" Kakek Hadi saling pandang dengan istrinya sebelum menarik napas panjang. "Kami ingin membicarakan masa depanmu." Bunga tersenyum kecil. "Masa depan yang bagaimana?" "Kami ingin menjodohkanmu." Senyum di wajah Bunga langsung membeku. "Apa?" "Kami ingin kau menikah dengan cucu sahabat lama kami." Bunga terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu. "Kek, ini bercanda?" "Tidak." Bunga menggeleng pelan. "Aku tidak bisa menerima keputusan sebesar ini begitu saja." Nenek Ratih menggenggam tangannya. "Dengarkan dulu, Nak." "Aku belum mengenal orang itu." "Kau mengenalnya." Bunga mengernyit. "Siapa?" "Arka Pradipta." Jantung Bunga mendadak berdegup lebih cepat. Nama itu tidak asing baginya. Sangat tidak asing. Arka adalah teman masa kecilnya. Mereka sering bertemu saat acara keluarga, karena kakek mereka bersahabat sejak muda. Namun, hubungan mereka tidak pernah terlalu dekat. Arka selalu menjadi sosok yang dingin dan sulit ditebak. Bahkan ketika dewasa, mereka hanya sesekali bertukar sapa. "Kakek serius?" Kakek Hadi mengangguk. "Kami sudah membicarakan hal ini dengan keluarga Arka." Bunga menunduk. Perasaannya campur aduk. Diam-diam, ia memang pernah mengagumi Arka. Sejak lama. Namun, ia tidak pernah membayangkan perasaan itu akan membawanya pada sebuah perjodohan. "Apa Arka setuju?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Ruangan mendadak hening. Kakek Hadi tidak langsung menjawab. Sikap itu sudah cukup menjadi jawaban. Hati Bunga perlahan mencelos. "Dia tidak setuju?" "Arka sulit diyakinkan," jawab Nenek Ratih hati-hati. "Jadi dia menolak?" "Bukan menolak." "Tapi tidak mau." Tidak ada yang membantah. Bunga tersenyum pahit. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya akan memasuki hubungan yang bahkan tidak diinginkan oleh calon pasangannya. Sementara itu, di rumah keluarga Pradipta, situasi tidak kalah tegang. Arka berdiri di depan meja kerja kakeknya. Wajah pria itu terlihat keras. "Aku tidak akan menikah." Kakeknya, Pradipta Kusuma, menghela napas panjang. "Kau sudah berusia tiga puluh tahun." "Itu bukan alasan." "Kau tidak punya calon istri." "Itu urusanku." Pradipta Kusuma memukul tongkatnya ke lantai. "Arka!" Suasana menjadi sunyi. "Kau terlalu keras kepala." "Aku hanya tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai." "Perasaan bisa tumbuh." "Aku tidak percaya." Pria tua itu memejamkan mata sesaat. "Kakek berjanji kepada sahabat Kakek." Arka tertawa hambar. "Janji puluhan tahun lalu?" "Itu janji yang harus ditepati." "Bukan aku yang membuat janji itu." "Tapi kau cucuku." Arka mengepalkan tangan. Seumur hidup, ia selalu menghormati kakeknya. Pria tua itu adalah sosok yang membesarkannya setelah kedua orang tuanya sibuk mengurus perusahaan keluarga. Namun kali ini, ia merasa haknya dirampas. "Aku tidak mencintai Bunga." "Kau tidak membencinya juga." "Itu berbeda." Pradipta Kusuma menatap cucunya dalam-dalam. "Menikahlah." "Tidak." "Kakek memintamu." Arka terdiam. Kalimat itu selalu menjadi kelemahannya. Karena sepanjang hidup, hampir tidak pernah ada permintaan dari sang kakek. Dan ketika pria tua itu meminta sesuatu, biasanya permintaan itu sangat penting. "Kenapa harus aku?" "Karena hanya kau yang bisa Kakek percaya." Arka memejamkan mata. Perasaannya kacau. Ia tidak membenci Bunga. Sama sekali tidak. Namun, ia juga tidak mencintainya. Baginya, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Ia ingin menikah karena pilihan hati, bukan karena kewajiban. Sayangnya, takdir memiliki rencana lain. Sebulan kemudian. Pertemuan keluarga besar dilaksanakan. Bunga duduk dengan gugup di ruang tengah. Gaun biru muda yang dikenakannya tampak sederhana. Tangannya terus memainkan ujung kerudung. Tak lama kemudian, Arka datang. Pria itu mengenakan kemeja putih. Wajahnya tampan seperti biasa. Namun, tidak ada senyum di sana. Tidak ada kebahagiaan. Bahkan tidak ada antusiasme. Bunga merasa dadanya sesak. Ia sudah mengetahui bahwa Arka sebenarnya tidak menginginkan perjodohan ini. Tetapi melihatnya secara langsung tetap terasa menyakitkan. Setelah keluarga memberikan kesempatan, mereka berdua duduk di taman belakang rumah. Hanya ada mereka. Dan keheningan yang terasa canggung. "Bunga." "Ya?" "Aku akan berbicara jujur." Bunga menggenggam tangannya sendiri. "Silakan." "Aku tidak menginginkan pernikahan ini." Kalimat itu terdengar begitu tajam. Namun, Bunga tetap memaksakan senyum. "Aku tahu." Arka tampak terkejut. "Kau tahu?" "Keluargaku sudah menjelaskan." Hening. "Apa kau masih ingin melanjutkannya?" Bunga tidak langsung menjawab. Jujur saja, ia ingin mengatakan tidak. Ia ingin memiliki suami yang menikahinya karena cinta. Bukan karena terpaksa. Namun, jauh di dalam hatinya, ada harapan kecil yang sulit dimatikan. Harapan bahwa suatu hari nanti Arka bisa menerimanya. "Aku akan mencoba." Arka menatapnya lama. "Meskipun aku mungkin tidak bisa menjadi suami yang kau harapkan?" Bunga tersenyum tipis. "Perasaan bisa tumbuh, kan?" Kalimat itu justru membuat Arka memalingkan wajah. Karena ia tidak mempercayai hal tersebut. Hari pernikahan pun tiba. Gedung megah dipenuhi tamu undangan. Semua orang tersenyum. Semua orang bahagia. Kecuali kedua mempelai. Saat ijab kabul selesai diucapkan, tepuk tangan memenuhi ruangan. Bunga menahan air mata haru. Sementara Arka hanya menghela napas panjang. Di mata para tamu, mereka tampak seperti pasangan sempurna. Kaya. Tampan. Cantik. Terhormat. Tidak seorang pun tahu bahwa pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan. Tidak seorang pun tahu bahwa pria yang kini menggenggam tangan Bunga sebenarnya tidak menginginkan dirinya. Malam harinya, setelah seluruh rangkaian acara selesai, mereka akhirnya berada di kamar pengantin. Suasana terasa canggung. Bunga duduk di tepi ranjang. Gaun pengantinnya masih melekat. Sementara Arka berdiri di dekat jendela. Cukup lama tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Arka membuka suara. "Aku menerima pernikahan ini karena menghormati Kakek." Bunga menunduk. "Aku mengerti." "Aku tidak ingin memberimu harapan palsu." Kalimat berikutnya membuat jantungnya terasa nyeri. "Jangan berharap aku bisa mencintaimu." Air mata Bunga hampir jatuh saat itu juga. Namun, ia menahannya. Ia tidak ingin menangis pada malam pertama pernikahan mereka. "Aku akan berusaha menjadi istri yang baik." Arka tidak menjawab. Karena bahkan saat itu, ia tidak tahu apakah dirinya mampu menjadi suami yang baik. Dan sejak malam itulah semuanya dimulai. Satu tahun penuh penolakan. Satu tahun penuh harapan yang perlahan memudar. Satu tahun menjadi istri yang selalu ada, tetapi tidak pernah benar-benar dianggap. Kini, setelah mengenang semuanya, Bunga menyadari satu hal‐-- Mungkin kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah percaya bahwa cinta dapat tumbuh pada hati seseorang yang sejak awal memilih untuk menutup pintunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN