Chapter 23. Amarah dan Rencana

1225 Kata

"Abang, apa kita mau ke apartemen Abang?" tanya Syakira dengan suara yang mulai gentar, wajahnya panik saat menyadari mobil Angkasa berbelok ke arah yang tak menuju ke rumahnya. “Gimana kalau Mama nanti nyariin aku, Bang?” “Nanti Abang bilang Mamamu, kalau kamu ikut Abang sebentar,” jawab Angkasa datar, tatapannya lurus ke depan. “Tapi, Bang. Aku ma—” “Aku butuh bicara, berdua sama kamu. Di tempat yang nggak bisa didengar siapa-siapa kecuali kita berdua," timpal Angkasa dengan suara keras dan terdengar sangat tegas. Syakira menelan ludah, dia tahu jika sekarang Angkasa sedang tidak bisa diganggu, jadi dia memilih diam sampai akhirnya mobil berhenti di basement apartemen, dan Angkasa langsung turun. Syakira diam di kursi, jantungnya berdebar kencang bersiap diri untuk menerima amarah d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN