Di sebuah kafe kecil di sudut kota, suasananya masih sepi. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, sementara pelayan sibuk merapikan meja. Rosalina melangkah masuk dengan gaun hitamnya, wajahnya tertutup kacamata hitam meski matahari pagi belum terlalu terik. Di sudut kafe, seorang pria bertubuh tegap dengan jas abu-abu sudah duduk menunggunya. Wajahnya dingin, tanpa senyum, dan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Rosalina berjalan menghampirinya. “Teddy,” ucap Rosalina datar sambil melepas kacamatanya dan duduk di hadapan pria itu. “Rosa,” jawab Teddy singkat. Ia menatap Rosalina seolah sudah tahu alasan wanita itu menemuinya pagi-pagi begini. “Kau kelihatan lelah. Ada masalah besar?” Rosalina tak menjawab. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih. D

